
Saat Fang An mendekati pintu masuk makam itu, Fang An menyadari bahwa pintu itu disegel dengan menggunakan formasi sihir.
"Kau tidak akan bisa membuka pintu itu, pergi dari situ sekte kami telah mengetahui cara untuk membuka segel itu" Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda dari belakang Fang An.
Fang An melihat ada lebih dari 50 orang yang sudah berada pada Pertengahan Pembentukan Inti Serta ada 3 orang tua yang sudah berada pada tingkatan Jiwa yang Baru Lahir.
"Hanya segel seperti ini?" Fang An menghancurkan formasi sihir yang menyegel pintu itu dengan sekali pukulan.
Semua yang ada disitu terkejut melihat Fang An dengan sangat mudah menghancurkan segel itu. "Tuan, maaf kami telah meremehkanmu. Aku harap tuan memaafkan kami dan membiarkan kami masuk" Salah satu orang tua itu berbicara dengan nada yang sopan, namun ia mengeluarkan aura pembunuh ke arah Fang An.
"Ternyata kalian cukup berani untuk menantang Tuan Fang An. Kalian tidak pantas untuk mencari masalah dengan tuanku, jika kalian mampu mengalahkanku, aku akan membiarkan kalian melawan tuanku" Raja Tombak mengeluarkan tombak miliknya serta mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat.
"Ra-raja Tombak? Maafkan kami, tapi kami harap kau tidak melindungi pemuda itu" Orang tua itu mengenali Raja Tombak, namun sangat disayangkan ia tidak mengenali Fang An.
"Kau sangat bodoh, aku ini sedang melindungi kalian, namun sepertinya kalian tidak butuh perlindungan" Raja Tombak menarik kembali aura pembunuh miliknya. "Maaf sudah menghalangi tuan" Raja Tombak berbicara dengan sopan kepada Fang An, lalu setelah itu ia menyingkir dari hadapan Fang An.
"Cepatlah, aku tidak ingin membuang-buang waktuku yang berharga. Jika kalian tidak menyerang setelah hitungan ketiga, maka aku yang akan menyerang kalian" Fang An berbicara dengan sangat dingin, lalu ia mengeluarkan semua aura pembunuh miliknya dan juga ia mengeluarkan sayapnya untuk menambah kesan menakutkan.
__ADS_1
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Orang-orang itu ingin menyerang Fang An, namun mereka tidak bisa bergerak, karena tekanan dari aura pembunuh milik Fang An. Bahkan ada beberapa dari mereka yang kehilangan kesadaran.
"Sepertinya kalian hanya hebat dalam menggertak saja" Fang An menarik kembali aura pembunuh miliknya. "Pergilah, aku sedang tidak ingin membunuh orang" Fang An berjalan perlahan menuju pintu masuk makam itu.
"Kau membanggakan ayahmu yang sudah mati?" Fang An tertawa pelan mendengar apa yang dikatakan pemuda itu.
"Kau menghina ayahku?!" Pemuda itu menjadi sangat marah karena Fang An menghina ayahnya.
"Kau sungguh membuatku muak, lebih baik aku menghabisi kalian semua disini agar tidak menyusahkan orang lain dimasa depan" Dalam sekejap mata semua orang yang ada disitu telah kehilangan nyawa mereka, kecuali ketiga orang tua dan pangeran ke-3.
"Ka-kau monster!" Pangeran ke-3 menjadi ketakutan saat melihat semua rekannya terbunuh dalam waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
"Aku akan membiarkan kalian hidup, namun aku akan memberikan kalian sedikit hadiah" Fang An berbicara dengan nada dingin. Lalu mengeluarkan api berwarna hitam dan memasukan api itu kedalam tubuh mereka berempat.
Seketika itu mereka berempat langsung memuntahkan darah segar. "Pergilah, aku sudah memberikan hadiah kepada kalian. Dengan begini kalian tidak akan menyusahkan orang lain dimasa depan" Ucap Fang An lalu ia langsung masuk kedalam makam kuno yang ada disitu.
---
Ketika Fang An masuk kedalam pintu masuk makam itu, Fang An melihat makam ini hanya memiliki satu jalan saja.
Setelah 10 menit berjalan mereka akhirnya menemukan sebuah pintu lagi. Fang An dapat merasakan ada sesuatu yang kuat dibalik pintu itu. Fang An kemudian membuka pintu itu dengan perlahan-lahan. "Setelah sekian lama akhirnya ada seseorang yang datang mengantar nyawa kepadaku" Seekor Naga berwarna hitam, muncul dihadapan Fang An.
"Kau terlalu percaya diri, apakah kau yakin dapat membunuhku?" Fang An memanggil Heilang dan Huolong keluar. "Jika kau kalah kau harus menjadi tungganganku, namun jika aku kalah kau dapat memakanku" Fang An tertarik dengan Naga yang ada dihadapannya.
"Kau ingin menjadikanku tungganganmu? Aku lebih baik mati daripada menghianati pemilikku" Naga itu berbicara dengan nada dingin.
Fang An merasa tersentuh dengan kesetiaan dari Naga yang ada dihadapannya. "Baiklah aku akan membunuhmu jika kau kalah" Ucap Fang An sambil tersenyum.
Fang An mengeluarkan pedang milik dewa perang dan mulai menyerang naga yang ada dihadapannya.
__ADS_1