
Mereka istirahat beristirahat sejenak setelah melakukan pertarungan yang cukup melelahkan. Setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke ibukota Kekaisaran Api Utara.
Fang An dan Dewan Pengatur Kota beserta Raja Tombak saat ini sedang dalam perjalanan untuk kembali ke ibukota Kekaisaran Api Utara. Namun diperjalanan mereka dihadang oleh seseorang yang memancarkan aura pembunuh yang sangat kuat.
Fang An langsung memegang gagang pedangnya untuk berjaga-jaga. "Siapa kau?" Fang An bertanya dengan nada dingin sambil mengeluarkan aura pembunuh miliknya.
Aura pembunuh mereka saling bertabrakan dan menghasilkan gelombak kejut yang sangat kuat. "Sepertinya kakak tidak melebih-lebihkan ceritanya" Orang itu menarik semua aura pembunuhnya. "Tenang saja, aku tidak akan melawanmu disini, aku hanya menguji kekuatanmu. Sampai jumpa di wilayah kuno" Orang itu melempar selembar kertas lalu ia pergi meninggalkan Fang An.
Melihat orang itu pergi Fang An menjadi lega, ia yakin jika tadi ia bertarung dengan orang itu, ada kemungkinan dia akan kalah. "Kita akan membahas ini ketika sudah sampai di Ibukota" Fang An langsung melanjutkan perjalanannya.
---
Ketika sampai di istana kekaisaran Api Utara Fang An langsung mengumpulkan para menteri beserta para dewan pengatur kota dan beberapa orang terdekat Fang An.
__ADS_1
“Aku mendapatkan kertas ini dari seseorang yang sepertinya berasal dari wilayah kuno” Fang An membuka suara memecahkan keheningan. “Aku sudah melihat isi kertas ini dan isi kertas ini adalah sebuah peta. Aku rasa para menteri mengetahui ini peta apa” Sambung Fang An lagi sambil memberikan kertas itu kepada salah satu Menteri yang ada disitu.
“Ini peta menuju makam kuno?!” Menteri itu sangat terkejut saat melihat isi dari kertas itu.
“Karena kalian sudah mengetahui isinya aku akan mengatakan apa yang aku rencanakan. Aku akan mengundurkan diri dari jabatan kaisar sementara dan akan memberikan jabatan ini kepada salah satu orang kepercayaanku, yaitu Aelfric”
“Dan juga aku telah membunuh kaisar dari kekaisaran langit biru sehingga otomatis kekaisaran langit biru menjadi milikku dan aku berhak menunjuk siapapun menjadi kaisar disana. Aku menunjuk Tetua Agung Fei Tian untuk menjadi kaisar di kekaisaran Langit Biru.”
Fang An berbicara dengan tegas. Perkataan Fang An membuat semua orang yang ada disitu terkejut. “Maaf atas kelancangan saya, tetapi mengapa yang mulia ingin mengundurkan diri?” Salah satu menteri yang ada disitu bertanya dengan sopan.
---
“Kau benar-benar akan pergi?” Chu Lian dan Fang An saat ini sedang duduk berdua ditaman istana sambil menatap bintang-bintang dilangit.
__ADS_1
“Aku hanya pergi untuk sementara, bukan untuk meninggalkanmu selamanya. Percayalah aku pasti akan kembali” Fang An mengusap kepala Chu Lian pelan.
“Aku akan selalu menunggumu disini, jangan pernah lupakan aku” Chu Lian berusaha menahan air matanya. Ia sadar wilayah kuno berisi banyak orang kuat, bahkan orang sekuat Fang An banyak tersebar di wilayah itu.
Fang An tidak menjawab perkataan Chu Lian, ia hanya membalas perkataan itu dengan sebuah pelukan yang hangat. Ia juga menyadari mungkin ia akan banyak mengalami pertarungan yang sulit di wilayah kuno.
---
Keesokan harinya Fang An sudah bersiap akan pergi ke makam kuno. Ia ditemani oleh Raja Tombak dan Diablo. Fang An meminta mereka berdua untuk ikut, karena ia mengetahui di makam kuno terdapat banyak harta dan pusaka yang berharga. Oleh karena itu ia memanggil mereka berdua untuk membawa dan membagikan harta dan pusaka berharga itu ke Kekaisaran Api Utara, Kekaisaran Langit Biru, dan juga Kota Kebebasan.
“Kalian semua jaga diri kalian baik-baik” Fang An berbicara sambil tersenyum kepada semua orang yang ada disitu dan segera berjalan menjauhi mereka.
Lokasi makam kuno berjarak cukup jauh dari Kekaisaran Api Utara. Namun Fang An, Diablo dan Raja Tombak hanya menghabiskan waktu 8 jam untuk sampai ke makam kuno itu.
__ADS_1
"Sepertinya makam ini milik kultivator Aliran Hitam" Raja Tombak berkomentar saat merasakan aura yang mengerikan terpancar dari makam yang ada dihadapannya itu.
"Kalian ambil saja barang-barang yang berharga dan segera pergi dari sini" Ucap Fang An lalu ia langsung berjalan mendekati pintu masuk makam itu.