Legenda Murid Tiga Dewa

Legenda Murid Tiga Dewa
Ch.7 Tradisi Tahunan


__ADS_3

Sudah 6 bulan semenjak Fang An menjadi murid luar. Fang An sudah berada pada tingkatan Jendral Petarung Bintang 3, semenjak menjadi Jendral Petarung perkembangan tingkat praktiknya menjadi sedikit lambat.


Hari ini merupakan Hari yang sangat penting bagi Akademi Bintang Timur, Karena Hari ini akan diadakan Tradisi Tahunan Akademi Bintang Timur. Pada Hari ini Semua murid akan berkumpul di sekitar arena yang sangat besar dan Beberapa arena yang lebih kecil. Para murid bebas menantang siapapun, namun mereka harus memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan.


"Selamat datang di Tradisi Tahunan Akademi Bintang Timur, namun pada tahun ini akan Ada sesuatu yang berbeda" Ucap seseorang yang berdiri ditempat para tetua berkumpul. "Hari Ini kalian bebas menantang anggota Pasukan Bintang Utama" Sambung orang itu. Pasukan Bintang Utama adalah salah satu pasukan khusus yang Ada di Akademi ini. Pasukan Khusus berisi murid-murid terbaik dan pasukan Bintang Utama adalah pasukan Khusus terbaik. Pada tahun-tahun sebelumnya pasukan Bintang Utama tidak diperbolehkan menerima tantangan, namun Kali ini mereka diperbolehkan.


Murid-murid mulai saling menantang satu dengan yang lainnya. Mereka mempertaruhkan banyak hal. Semua terlihat sangat bersemangat. 'Sepertinya sudah saatnya' Fang An kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Hei Komandan Pasukan Bintang Utama, Turun Dan lawan Aku" Ucap Fang An dengan santai namun dapat didengar oleh semua orang disitu karena ia menggunakan tenaga dalam. "Kau menantangku? memangnya ada yang dapat kau pertaruhkan?" Ucap seorang pemuda dengan nada mengejek.


"Jika kau menang kau dapat melakukan apapun padaku" Ucap Fang An dengan sangat santai. "Menarik, baiklah kalau kau menang Aku Akan menuruti satu permintaanmu" Ucap pemuda itu Lalu melompat ke arena.

__ADS_1


Pertarungan mereka tidak memiliki aturan jadi mereka dapat bertarung tanpa menahan kekuatan. Setelah Beberapa saat akhirnya wasit memberikan tanda untuk memulai pertarungan.


"Jangan Meremehkan Bintang Utama bocah" Ucap pemuda itu dengan nada mengejek sambil bergerak menyerang Fang An.


"Sepertinya memang harus diremehkan" Ucap Fang An dengan santai saat serangan Pemuda itu mendekatinya namun dengan sangat mudah dapat ditangkis. "Ingin menyerah?" Ucap Fang An dengan nada mengejek kemudian langsung menyerang dengan sangat cepat.


'Jika dibiarkan posisi Bintang Utama akan terancam' pikir Salah satu tetua Lalu kemudian Melempar sebuah belati ke arah Fang An dengan sangat cepat.


"Masih tidak mau menyerah?" Tanya Fang An, namun tidak Ada Jawaban sama sekali. "Baiklah sepertinya aku harus sedikit keras" Ucap Fang An lalu Mengeluarkan Pedang Pembelah langit dan melapisi Pedang itu dengan api Kegelapan.


Ketika Fang An hampir menebas Pemuda itu tiba-tiba Muncul tetua yang tadi Melempar belati kepada Fang An. "Ah sepertinya kau tidak sabaran ya Pak tua" Ucap Fang An dengan santai kemudian langsung menyerang tetua itu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin dia imbang melawan tetua" Itulah yang banyak diucapkan murid-murid yang menonton.


"Kau ingin menyerah Pak tua?" Ucap Fang An mengejek. "LEBIH BAIK AKU MATI!!!" teriak tetua itu Lalu dia Mengeluarkan jurus. "7 Pedang Halilintar" Ucap tetua itu Seketika itu muncul 7 Pedang besar yang di langit, setiap pedangnya terbuat dari petir. "MATI!!" teriak tetua itu.


Pedang-pedang itu langsung bergerak ke arah Fang An. "Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak akan mati sekarang" Ucap Fang An.


Terjadi ledakan yang sangat hebat di arena, tempat tadinya Fang An berdiri sudah hancur lebur. "Sepertinya hanya bermulut besar" Ucap tetua itu dan langsung bebalik dan berniat ingin turun dari arena.


"Bukankah terlalu cepat untuk merayakan kemenangan?" Ucap Fang An yang sedang terbang menggunakan sayap Kegelapan yang diajarkan Dewa Kegelapan.


"Karena kau berniat membunuhku jadi aku Juga akan membunuhmu" Ucap Fang An sambil tersenyum, tidak lama setelah itu tiba-tiba Fang An sudah berada dibelakang tetua itu dan kepala tetua itu sudah tidak ada dibadannya. "Ah sepertinya kau yang bermulut besar" Ucap Fang An lalu turun dari arena.

__ADS_1


Semua orang terkejut melihat itu termasuk kepala Akademi. "Hei nak bisakah kau kemari" Ucap kepala Akademi kepada Fang An.


__ADS_2