Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Seruling Hei Tian


__ADS_3

"Jangan bilang begitu. Manusia punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing," sahut Guo Lin Xu sambil menepuk bahu Yang Fei dengan kencang.


"Kamu benar, tapi apa kelebihanku hanya lari dari bahaya?" tanya Yang Fei pada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin. Kamu pasti punya kelebihan lain yang belum kamu ketahui," kata Guo Lin Xu.


"Semoga saja begitu," sahut Yang Fei sambil menghela napasnya.


"Tapi, lukisan Guru dan juga orang tuamu yang ada di dasar danau waktu itu, apa mereka bertiga adalah saudara?" tanya Guo Lin Xu sambil menatap wajah Yang Fei.


"Ibuku pernah bilang kalau saudara Ayahku adalah Yang Jie. Tapi dia tidak pernah bilang Guru itu saudaranya atau saudara Ayahku,"


"Jadi, apa hubungan mereka? Aku penasaran," gumam Guo Lin Xu.


"Aku juga," sahut Yang Fei.


"Hah, sudahlah, kita nikmati saja arak ini," kata Guo Lin Xu sambil mengambil dua guci arak yang sudah ia bawa tadi.


"Ini untukmu, minumlah," lanjut Guo Lin Xu sambil menyerahkan seguci arak pada Yang Fei.


"Aku gak pernah minum arak sebelumnya," kata Yang Fei ragu.


"Gak pernah bukan berarti gak bisa. Coba aja dulu," sahut Guo Lin Xu sambil memberikan seguci arak itu ke tangan Yang Fei.


"Tapi-" kata Yang Fei yang masih ragu-ragu untuk mencicipi arak ini.


"Minumlah," sela Guo Lin Xu. Kemudian, ia membuka tutup guci arak itu lalu meminumnya.

__ADS_1


"Lin Xu," panggil Guru Besar Duan Xing.


"Ada apa, Guru?" kata Guo Lin Xu yang langsung berdiri dan memberi hormat.


"Kenapa kamu mengajak Yang Fei minum?" tanya Guru Besar Duan Xing sambil menatap wajah Yang Fei yang masih polos.


"Guru, arak ini sangat enak. Bukankah Guru sendiri juga suka?" sahut Guo Lin Xu.


"Kita tidak tahu apakah Yang Fei sanggup meminum arak atau tidak. Jangan memaksanya minum," perintah Guru Besar Duan Xing.


"Baik," kata Guo Lin Xu. Ia kembali duduk dan meminum araknya lagi.


"Yang Fei," panggil Guru Besar Duan Xing.


"Iya, Guru," sahut Yang Fei.


"Baik, Guru," sahut Yang Fei yang langsung menyusul langkah Guru Besar Duan Xing.


"Kira-kira Guru mau mengajak Yang Fei ke mana?" gumam Guo Lin Xu.


...****************...


Malam hari di puncak Gunung Xuan Zheng


"Yang Fei, apa kamu tahu seruling apa yang ada di jubahmu itu?" tanya Guru Besar Duan Xing tanpa menatap ke arah Yang Fei.


"Aku tidak tahu, Guru. Seruling itu cuma satu-satunya benda peninggalan terakhir dari Ibuku," jawab Yang Fei apa adanya.

__ADS_1


"Dulu, apa Ibumu pernah menceritakan tentang dunia persilatan kepadamu?" tanya Guru Besar Duan Xing dengan suara serak.


"Tidak, Ibu tidak mengizinkanku mempelajari apa pun tentang dunia persilatan," jawab Yang Fei.


Xiao Ting, kamu begitu melindunginya. Kamu tenang saja, aku akan menjaga Yang Fei dengan baik, kata Guru Besar Duan Xing dalam hati.


"Guru?" tanya Yang Fei saat melihat Guru Besar Duan Xing yang diam saja dari tadi.


"Yang Fei, pegang serulingmu dan mainkan," perintah Guru Besar Duan Xing. Yang Fei mencoba memainkan seruling itu. Bebatuan kecil yang ada di puncak gunung itu pun mulai berjatuhan ke jurang. Bahkan batu-batu besar juga mulai runtuh dan jatuh ke jurang. Yang Fei yang kaget langsung menghentikan aksinya meniup seruling itu.


"Guru, sebenarnya ada apa ini?" tanya Yang Fei panik.


"Serulingmu itu bukan seruling biasa. Itu adalah Seruling Hei Tian. Hei berarti hitam dan Tian berarti langit. Oleh karena itu, Seruling Hei Tian berwarna hitam dan memiliki kekuatan energi spiritual yang mampu melindungi Tuannya dari bahaya karena benda ini berasal dari alam langit. Dia sudah memilihmu sebagai Tuannya, maka tugasmu mulai sekarang adalah menjadi Tuan yang sebenarnya atas seruling ini," jawab Guru Besar Duan Xing.


"Apa maksudnya menjadi Tuan yang sebenarnya? Sejak kapan benda ini memilihku sebagai Tuannya? Bukankah seruling adalah benda mati?" sahut Yang Fei bingung.


"Berikan serulingnya pada Guru," kata Guru Besar Duan Xing. Yang Fei memberikan seruling itu ke tangan Guru Besar Duan Xing, tapi benda itu pada akhirnya selalu kembali ke tangan Yang Fei lagi.


"Lihat, dia akan selalu kembali padamu karena kamu adalah Tuannya," kata Guru Besar Duan Xing.


"Tapi, Guru, ini..." sahut Yang Fei gugup.


"Tidak apa-apa. Kamu bilang seruling adalah benda mati. Kamu adalah Tuan atas seruling ini. Selama kamu mengendalikannya dengan baik, maka tidak akan terjadi masalah. Jangan ragu lagi," jelas Guru Besar Duan Xing sambil memegang pundak Yang Fei lalu tersenyum.


Bersambung......


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ☺️

__ADS_1


__ADS_2