
“Salam, Yang Mulia,” kata Yang Fei sambil memberi hormat kepada Li Yi Cheng.
“Berdirilah. Jenderal Yang Fei, hari ini masa depan kerajaan Barat ada di tanganmu. Selama kau membawa kerajaan ini menuju kemenangan, aku pasti akan memberikan semua yang kau inginkan. Aku percaya padamu,” kata Li Yi Cheng sambil menepuk bahu Yang Fei dan tersenyum.
“Terima kasih, Yang Mulia. Saya pasti tidak akan mengecewakan kepercayaan Yang Mulia dan seluruh rakyat kerajaan Barat,” sahut Yang Fei sambil menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Li Yi Cheng dan semua rakyat yang hadir di depan Aula Xiang Ping hari ini.
“Jenderal Yang Fei, semoga kemenangan senantiasa mengikutimu!” teriak Shi Ming sambil mengangkat pedangnya ke atas.
“Jenderal Yang Fei, semoga kemenangan senantiasa mengikutimu!” teriak puluhan ribu prajurit kerajaan Barat sambil mengangkat pedang mereka ke atas.
“Kita berangkat sekarang!” seru Yang Fei sambil mengangkat serulingnya ke atas. Ia pun memacu kudanya menuju ke perbatasan antar empat kerajaan, yaitu sebuah daratan luas yang berada di tengah-tengah Lautan Si Hai. Setelah Yang Fei tiba di sana, ia sudah berhadapan dengan ratusan ribu prajurit kerajaan Selatan.
“Yi Cheng, aku pikir kau akan menunjuk seseorang yang kuat dan berbadan besar seperti penasihat kerajaanmu untuk menjadi Jenderal Perang, tapi sekarang, orang inilah Jenderal yang kau pilih untuk memimpin kerajaanmu berperang melawan kerajaan Selatan? Yi Cheng, kau pasti sudah bersiap dari awal untuk menerima ajalmu,” kata Wang Duan, Raja kerajaan Selatan dengan nada merendahkan.
“Serang!” seru Yang Fei. Ia segera melompat dari kudanya lalu maju menyerang sang Raja.
“Kau sudah salah memilih lawan,” kata Wang Duan sambil tersenyum licik. Yang Fei memakai jurus mengendalikan serulingnya. Ia hanya perlu mengendalikan Seruling Hei Tian dari jauh dan seruling itu bisa menjatuhkan Wang Duan ke tanah.
“Anak muda, kau hebat juga. Sayangnya, kau menjadi bawahannya Yi Cheng. Bagaimana jika kau menjadi bawahanku saja? Kita serang kerajaan barat bersama-sama. Nanti, kau pasti akan aku bagi pusaka berharga yang ada di kerajaan barat,” bujuk Wang Duan sambil menaikkan alis kanannya.
__ADS_1
“Kau jangan berharap!” seru Yang Fei. Ia masih mengendalikan serulingnya untuk membuat tenaga dalam Wang Duan habis.
“Aku suka ambisimu, Jenderal. Aku ingin lihat sejauh apa kau bisa bertahan menghadapiku!” Raja Wang Duan bangkit kembali dengan pedangnya. Ia segera mengarahkan pedang itu ke dada Yang Fei. Namun, Yang Fei tidak menyadari bahwa di balik pedang yang Wang Duan gunakan untuk menyerangnya ada beberapa jarum yang berukuran kecil sehingga Yang Fei tidak sempat menghindar lagi dan akhirnya jarum itu masuk ke dalam dadanya.
“Bagaimana? Apa kau masih bisa bertahan? Jika jarum itu menusukmu sedikit saja, kau akan segera mati. Hahaha,” kata Wang Duan sambil tertawa puas. Yang Fei tidak menghiraukan Wang Duan yang sedang tertawa di atas penderitaannya. Ia pun segera mengunci tenaga dalamnya supaya jarum yang masuk ke dalam dadanya tadi tidak langsung membunuhnya.
“Sebaiknya kau menyerah saja. Apa yang bisa kau lakukan jika kau mengunci tenaga dalammu sendiri?” tanya Wang Duan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kau saja yang menyerah! Aku pasti tidak akan mengampunimu,” sahut Yang Fei sambil menatap tajam ke arah Wang Duan.
“Hahahaha, kau sudah terpojok sekarang. Bagaimana kau akan membalasku?” Wang Duan tertawa terbahak-bahak.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau menghancurkan pedangku?” tanya Wang Duan tidak percaya.
“Bersiaplah, kekalahanmu sudah dekat.” Yang Fei tersenyum. Ia segera meniup serulingnya dan memainkan beberapa melodi. Suara yang dihasilkan oleh seruling itu mampu menggetarkan daratan di tengah-tengah Lautan Si Hai. Saat Wang Duan lengah dan melihat ke bawah, Yang Fei langsung meminjam pedang milik Shi Ming dan menusuk sang Raja tepat di jantungnya. Wang Duan pun mati dengan mata terbuka. Yang Fei menunduk dan menutup mata Wang Duan dengan tangan kanannya.
Aku tidak seharusnya membunuh. Tapi jika aku tidak membunuhnya, aku tidak bisa menjamin bahwa di masa depan dia tidak akan menyerang kerajaan Barat lagi. Maafkan aku, Raja Kerajaan Selatan, kata Yang Fei dalam hati.
Tidak lama kemudian, Yang Fei merasakan sesak di dadanya. Ia memegang dadanya dan menutup kedua matanya.
__ADS_1
“Jenderal, kau tidak apa-apa?” tanya Shi Ming khawatir.
“Aku baik-baik saja,” jawab Yang Fei sambil mengangkat tangan kanannya. Ia kembali berjalan beberapa langkah, namun ia terjatuh ke tanah.
“Jenderal! Jenderal, ada apa denganmu?” tanya Shi Ming panik.
“Aku… Aku…” jawab Yang Fei terbata-bata. Ia sudah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Li Yi Cheng pun menoleh ke arah Yang Fei dan melihat bahwa Yang Fei sudah dalam keadaan pingsan.
“Yang Fei!” seru Li Yi Cheng dengan lirih.
“Raja kalian sudah mati. Jika kalian tidak segera mundur, kalian semua akan kubunuh tanpa ampun!” teriak Li Yi Cheng sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membuat prajurit-prajurit yang masih hidup segera pergi dari kerajaan barat.
“Ayo cepat pergi!” seru para prajurit kerajaan selatan. Mereka yang masih bertahan hidup segera melarikan diri dan berenang di Lautan Si Hai untuk kembali ke kerajaan Selatann.
“Yang Fei… Segera bawa Yang Fei ke Istana!” perintah Li Yi Cheng.
“Baik, Yang Mulia,” kata Shi Ming. Ia segera menaikkan Yang Fei ke atas kuda. Ia sendiri juga naik ke atas kuda dan membawa Yang Fei ke Istana secepat mungkin.
Bersambung……
__ADS_1
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️☺️