Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Datang Ke Istana Li


__ADS_3

Pagi hari di Aula Utama Xuan Zheng


"Kali ini, Guru akan ikut bersama dengan kalian untuk turun gunung. Tapi kalian harus ingat, jangan bertindak gegabah," kata Guru Besar Duan Xing.


"Baik, Guru," sahut Yang Fei, Xiao Feng, dan Hua Xiang serentak.


"Baiklah, ayo kita berangkat ke Istana Li yang kalian katakan itu," kata Guru Besar Duan Xing sambil mengeluarkan pedangnya dan terbang dengan pedang itu. Untungnya, Yang Fei sudah bisa menjaga keseimbangan selama terbang dengan pedangnya.


...****************...


Pagi hari di Istana Li


"Raja Banteng, keluar kau!" seru Guru Besar Duan Xing. Seketika itu juga, sebuah asap hitam yang tebal mengelilingi mereka berempat.


"Wah, lihat siapa yang datang," kata Raja Banteng yang langsung menampakkan diri di depan Istana Li.


"Raja Banteng, lepaskan muridku. Lebih baik kau segera lepaskan dia, atau jangan salahkan aku jika aku bertindak tidak sopan," kata Guru Besar Duan Xing berterus terang.


"Duan Xing, untuk apa kau buru-buru? Muridmu baik-baik saja di tanganku," sahut Raja Banteng sambil memperlihatkan Guo Lin Xu yang berada di dalam kamarnya dengan sebuah asap. Asap itu juga bisa membantu mereka untuk berkomunikasi satu sama lain.


"Guru?" tanya Guo Lin Xu sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kau lihat, aku hanya mengikatnya saja. Tapi tidak ada luka apa pun di tubuhnya. Aku juga tidak melukainya, jadi, kamu tenang saja," kata Raja Banteng sambil mengangkat kedua alisnya.


"Raja Banteng, sudah cukup belum bagimu untuk bersandiwara?" tanya Guo Lin Xu sambil tertawa.


"Kau tidak mau melepaskannya, tapi juga tidak mau melukainya. Jadi, apa tujuanmu membawa muridku ke Istana Li ini?" tanya Guru Besar Duan Xing.


"Gadis ini memiliki energi yang aku butuhkan. Aku hanya ingin mengambilnya dari tubuhnya. Kau tenang saja, ia akan baik-baik saja. Aku tidak akan membunuhnya," jawab Raja Banteng sambil tersenyum licik.


"Lin Xu, kau bertahanlah dulu sebentar. Guru pasti akan menolongmu," kata Guru Besar Duan Xing kepada Guo Lin Xu. Guo Lin Xu pun mengangguk sambil tersenyum.


"Raja Banteng, selama ini aku sudah cukup bersabar denganmu. Kuberi kau waktu tiga hari, lepaskan muridku. Jika tidak, jangan salahkan aku tidak sungkan," balas Guru Besar Duan Xing.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Guru Besar Duan Xing kepada ketiga muridnya itu. Mereka pun kembali lagi ke Gunung Xuan Zheng.


"Siapa yang kau sebut tua? Kau yang tua!" bentak Guo Lin Xu.


"Gadis tengik, aku membawamu ke tempatku bukan supaya kau bisa teriak-teriak semaumu. Jika kau berteriak sekali lagi saja, malam ini jangan harap kau bisa makan!" seru Raja Banteng memberikan peringatan.


...****************...


Siang hari di Aula Utama Xuan Zheng

__ADS_1


"Guru, kenapa kita tidak langsung menyerang Raja Banteng dan membawa Lin Xu keluar dari Istana Li?" tanya Xiao Feng penasaran.


"Xiao Feng, jumlah kita kalah dari mereka. Kita juga tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Raja Banteng. Lebih baik kita tidak membuat keributan sebelum tahu dengan jelas masalahnya," kata Guru Besar Duan Xing.


"Tapi Guru, sejak awal Raja Banteng memang ingin mencabut nyawa Lin Xu. Jika ditunda lagi, apa Lin Xu akan baik-baik saja?" sahut Hua Xiang.


"Semoga begitu. Selama Raja Banteng tidak berubah pikiran, Lin Xu akan tetap baik-baik saja. Sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat beberapa rencana. Jika dalam waktu tiga hari, Raja Banteng masih tidak mau melepaskan Lin Xu, kita bisa menjalankan rencana kita untuk membuat kita lebih unggul dari mereka," jawab Guru Besar Duan Xing.


"Guru, apa kita harus memakai formasi Gu Ming untuk mengepung Raja Banteng?" tanya Xiao Feng.


"Tidak perlu. Guru baru ingat, Yang Fei bisa dengan mudah mengalahkan Raja Banteng," jawab Guru Besar Duan Xing.


"Yang Fei, jika nanti sudah ada aba-aba dari Guru, kau harus memainkan nada-nada yang sulit pada Seruling Hei Tian milikmu itu," kata Guru Besar Duan Xing.


"Guru... aku belum mahir memainkan seruling ini. Aku tidak tahu yang mana yang merupakan nada-nada yang sulit," balas Yang Fei ragu.


"Tidak apa-apa, Guru bisa mengajarkannya padamu selama tiga hari ini," sahut Guru Besar Duan Xing. Namun, Yang Fei masih tampak ragu untuk melakukannya.


"Guru tahu kau bisa melakukannya. Guru percaya padamu. Terlebih lagi, Lin Xu juga membutuhkan bantuanmu," sahut Guru Besar Duan Xing sambil memegang pundak Yang Fei untuk meyakinkan muridnya itu.


"Baiklah, aku mengerti, Guru," jawab Yang Fei sambil mengangguk.

__ADS_1


Bersambung......


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ☺️


__ADS_2