
Begitu sampai di Istana, Shi Ming segera membaringkan Yang Fei di atas tempat tidur.
“Cepat panggilkan tabib terbaik untuk mengobati Yang Fei!” seru Li Yi Cheng.
“Baik, Yang Mulia.” Shi Ming menundukkan kepalanya. Kemudian, ia segera keluar dari kamar Yang Fei dan memanggil Guan Dong, tabib terbaik di kerajaan Barat. Guan Dong pun memeriksa keadaan Yang Fei.
“Apa Tuan Yang Fei baik-baik saja?” tanya Shi Ming panik.
”Bagaimana keadaannya?” tanya Li Yi Cheng khawatir.
“Detak jantung dan nadinya tidak stabil. Menurut Hamba, dia terkena racun Si Du,” jawab Guan Dong dengan nada lirih.
“Kalau begitu, segera obati dia,” sahut Li Yi Cheng.
“Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bisa mengobatinya sekarang karena racun Si Du adalah racun yang luar biasa kuat dan akan membunuh setiap orang yang terkena racun itu dalam seminggu. Racun Si Du hanya bisa disembuhkan dengan Bunga Mawar Hitam dari Gunung Zhou.” Guan Dong terlihat begitu cemas karena ini pertama kalinya ia tidak bisa menyembuhkan penyakit dengan obat-obatnya.
“Bunga Mawar Hitam? Bukankah itu bunga beracun yang bisa membunuh banyak nyawa sekaligus?” tanya Li Yi Cheng sambil mengerutkan dahinya.
“Benar, Yang Mulia. Racun Si Du dibuat dari Bunga Mawar Hitam dan tidak ada obat penawar lain di dunia ini selain bunga itu sendiri sebagai bahan pembuatan racunnya. Hanya saja, saya sudah tua dan tidak bisa mendaki gunung lagi. Jadi, saya tidak bisa mengambilkan bunga itu untuk Tuan Yang Fei. Tapi saya bisa memberikan obat penangkal racun ini. Setelah Tuan Yang Fei memakannya, ia masih bisa bertahan hidup tiga hari lagi setelah Racun Si Du bereaksi dalam seminggu,” jelas Guan Dong.
“Tapi Gunung Zhou adalah tempat yang sangat berbahaya dan penuh jebakan. Semua orang yang pergi ke sana tidak akan kembali dalam keadaan baik. Jika tidak mati, maka pasti akan mengalami luka parah,” sahut Shi Ming.
“Menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Li Yi Cheng sambil menatap ke arah Shi Ming untuk meminta jawaban darinya. Shi Ming tidak berkutik selama beberapa saat.
“Masalah ini tidak bisa ditunda lagi. Teman-teman, ayo kita berangkat ke Gunung Zhou sekarang!” seru Guo Lin Xu. Ia dan kedua temannya itu sudah menguping pembicaraan Li Yi Cheng, Shi Ming, dan Guan Dong sejak awal.
“Kaliana mau pergi ke mana?” tanya Li Xing Mi dengan nada tinggi karena panik. Ia juga sudah mendengarkan pembicaraan sang Ayah dengan penasihat kerajaan serta tabib Istana.
“Gunung Zhou,” jawab Guo Lin Xu. Ia, Hua Xiang, dan Xiao Feng melangkah dua langkah lagi.
“Tunggu.” Li Xing Mi mencegah langkah mereka.
__ADS_1
“Ada apa, Tuan Putri?” tanya Hua Xiang sambil menatap wajah Li Xing Mi.
“Aku mau ikut dengan kalian,” kata Li Xing Mi dengan tegas.
“Tuan Putri, kami bertiga akan mendaki gunung, bukan berjalan-jalan. Gunung Zhou itu sangat berbahaya dan penuh jebakan seperti yang dikatakan oleh Shi Ming. Kami tidak akan kembali dalam keadaan yang baik. Tolong Tuan Putri pertimbangkan lagi.” Xiao Feng mengingatkan Li Xing Mi.
“Kenapa memangnya? Yang Fei saja bisa menyelamatkan kerajaan kami, kenapa aku tidak bisa ikut menyelamatkan seseorang yang menjadi penyelamat bagi kerajaanku? Kau tidak percaya aku bisa membantu Yang Fei?” sahut Li Xing Mi dengan nada tinggi.
“Bukan itu maksudku. Aku mengerti niat baikmu, Tuan Putri. Hanya saja, jika kau terluka di sana, Yang Mulia tidak akan memaafkan kami dan Yang Fei,” jawab Xiao Feng sambil menghela napasnya.
“Tapi aku benar-benar ingin ikut. Aku mau menyelamatkan Yang Fei. Aku tidak bisa membiarkannya terluka begitu saja tanpa melakukan apa-apa, ’kan? Lagipula, semakin banyak orang yang pergi akan semakin baik, ‘kan?” balas Li Xing Mi sambil menatap mereka bertiga.
“Tuan Putri, kalau kau mau ikut dengan kami, silakan saja. Tapi kami tidak bisa menjamin keselamatanmu selama berada di Gunung Zhou. Aku mohon padamu supaya kau menjaga dirimu sendiri dengan baik jika kau mau ikut dengan kami,” kata Guo Lin Xu dengan tegas.
“Baik, kalian tunggu aku ganti baju sebentar di sini,” sahut Li Xing Mi.
“Kenapa kau mengizinkannya untuk ikut dengan kita? Bagaimana jika kita tidak bisa membawanya kembali ke Istana dengan selamat?” tanya Xiao Feng cemas.
“Bisa-bisanya kau berpikir sampai ke sana,” sahut Hua Xiang.
“Aku sudah selesai, ayo berangkat,” kata Li Xing Mi sambil tersenyum. Begitu melihat penampilan Tuan Putri yang memakai pakaian seperti rakyat biasa, mereka bertiga langsung terkesiap.
“Tuan Putri, kau yakin akan memakai baju itu?” tanya Hua Xiang yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Aku tidak akan diperbolehkan keluar dari Istana jika para penjaga pintu tahu bahwa aku Tuan Putri. Jadi, aku harus memakai ini supaya tidak dicurigai oleh mereka,” jelas Li Xing Mi.
“Baiklah, ayo kita berangkat,” ajak Guo Lin Xu.
“Ayo,” sahut Hua Xiang.
“Tuan Putri, tolong tunjukkan jalan terbaik untuk keluar dari sini,” kata Guo Lin Xu sambil menatap ke arah Li Xing Mi untuk memandu jalan bagi mereka.
__ADS_1
“Aku ingat ada pintu kecil di belakang taman Istana yang bisa membawa kita keluar dari sini. Di depan taman, ada 2 penjaga pintu yang berdiri di sisi kanan dan kiri,” sahut Li Xing Mi.
Mereka berempat segera menuju ke taman Istana. Kemudian, Guo Lin Xu membisikkan sesuatu kepada Li Xing Mi.
“Tuan Putri,” panggil Guo Lin Xu. Dua penjaga taman itu segera menoleh ke belakang dan dengan sigap Guo Lin Xu langsung memukul leher mereka sampai mereka pingsan.
“Maafkan aku, Kakak-kakak,” kata Guo Lin Xu lirih.
Mereka berempat pun akhirnya bisa berangkat ke Gunung Zhou.
******
Aula Xiang Ping
“Panggil Li Xing Mi ke sini,” perintah Li Yi Cheng kepada empat orang pengawalnya. Pengawal-pengawal itu mencari Li Xing Mi ke seluruh Istana, namun masih tidak dapat menemukannya. Pada akhirnya, mereka membawa salah satu pelayan yang melayani Li Xing Mi.
”Yang Mulia, Tuan Putri memang keluar dari kamar sejak siang tadi, tapi ia belum kembali lagi ke kamarnya. Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Saya juga tidak tahu ke mana Tuan Putri pergi, tapi biasanya Tuan Putri pergi ke taman,” kata pelayan itu sambil berlutut dan menundukkan kepalanya untuk memohon ampun dari Li Yi Cheng.
Maka, para pengawal itu membawa dua penjaga pintu taman ke hadapan Raja. Dua penjaga itu begitu ketakutan sehingga mereka berlutut dengan tubuh mereka yang masih gemetaran.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Tuan Putri ikut pergi bersama dengan tiga pendekar lain,” kata salah satu di antara mereka.
“Apa? Kau yakin? Siapa mereka bertiga?” tanya Li Yi Cheng kaget.
“Salah satu pendekar memukul kami dari belakang sehingga kami tidak tahu siapa mereka, tolong maafkan kami, Yang Mulia,” sahut penjaga pintu yang lain.
Mendengar itu, Li Yi Cheng yang sudah tua pun begitu putus asa dan frustasi sehingga ia akhirnya tidak bisa sadarkan diri.
“Yang Mulia!” seru Shi Ming panik.
Bersambung……
__ADS_1
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️☺️