Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Tiba Di Kota Chang'An


__ADS_3

"Xiao Chuan," panggil Guo Lin Xu.


"Ada apa?" Xiao Chuan menoleh ke arah Guo Lin Xu yang memanggilnya barusan.


"Kami akan berada di Kota Chang'An untuk waktu yang lama. Apa kau yakin mau ikut dengan kami? Bagaimana denganmu? Berapa lama rencanamu tinggal di kota ini?" tanya Guo Lin Xu penasaran.


"Aku memang berencana untuk terus tinggal di kota ini selama beberapa bulan kedepan, jadi aku yakin untuk ikut dengan kalian. Aku percaya akan lebih menyenangkan jika bisa tinggal di sini bersama kalian daripada sendirian," kata Xiao Chuan sambil tersenyum.


"Apa kau tidak punya keluarga atau teman yang bersama denganmu?" celetuk Hua Xiang.


"Tidak ada. Sejak kecil, aku yatim piatu. Aku tidak punya siapa-siapa selain diriku sendiri." Xiao Chuan menghela napas panjang mengingat masa lalunya yang suram. Ia bahkan harus mencuri makanan dan uang untuk bisa bertahan hidup hingga hari ini.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau datang ke Kota Chang'An?" tanya Li Xing Mi yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku memang sudah tinggal di sini bertahun-tahun, tapi kota ini bukanlah kampung halamanku. Aku datang kembali ke Kota Chang'An, sama saja seperti datang ke kota di mana aku tumbuh besar," jawab Xiao Chuan menjelaskan.


"Ternyata begitu," sahut Li Xing Mi sambil mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan kalian? Dilihat dari wajah kalian yang masih sangat muda, kenapa kalian mau jauh-jauh datang ke Kota Chang'An?" tanya Xiao Chuan.


"Sebenarnya, kami semua datang ke Kota Chang'An untuk mencari kakak kandungku. Lokasi terakhirnya menunjukkan ia sedang berada di kota ini," kata Yang Fei.


Xiao Chuan pun berjalan beberapa langkah dan menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah penginapan yang terkenal di Kota Chang'An.

__ADS_1


"Sekarang hari sudah gelap. Malam ini, kita menginap di penginapan ini dulu saja," kata Xiao Chuan sambil tersenyum. Kemudian, ia memesankan beberapa kamar untuk mereka semua tinggali malam ini.


"Tuan-tuan dan Nona-nona, kamar kalian sudah siap," kata pelayan penginapan itu. Xiao Chuan pun memberikan sebuah kantung kain kecil berisi beberapa tael perak kepada pelayan itu.


"Terima kasih banyak, Tuan." Pelayan itu menunduk dan segera pergi.


Setelah itu, mereka semua naik ke lantai atas dan menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Xiao Feng satu kamar dengan Yang Fei. Sementara itu, Guo Lin Xu sekamar dengan Hua Xiang dan juga Li Xing Mi. Dan Xiao Chuan memesan kamar khusus untuk dirinya sendiri.


****************


Keesokan paginya, Guo Lin Xu mengajak Hua Xiang untuk memasak makan pagi. Namun, Hua Xiang tidak ingin bangun dari kasurnya, jadi Guo Lin Xu keluar dari kamarnya sendirian. Kemudian, ia pergi ke dapur untuk memasak makan pagi.


"Yang Fei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Guo Lin Xu bingung.


"Kalau begitu, aku akan membantumu memotong sayuran-sayuran ini." Guo Lin Xu segera mengambil pisau, namun nasibnya tidak seberuntung itu. Pisau yang ia genggam di tangannya tiba-tiba jatuh.


"Hati-hati," kata Yang Fei. Ia segera berlari menghampiri Guo Lin Xu untuk menarik badannya supaya sahabatnya itu tidak terluka.


"Terima kasih banyak, Yang Fei." Guo Lin Xu tersenyum dan menatap kedua mata Yang Fei dengan lembut.


"Tentu saja, kau bisa mengandalkanku," sahut Yang Fei.


Setelah itu, mereka berdua kembali memasak selama beberapa waktu sampai ada 3 hidangan yang bisa disajikan oleh Yang Fei dan Guo Lin Xu pagi ini, yaitu bakpau, sayuran, dan paha ayam.

__ADS_1


"Selamat makan, semuanya," kata Guo Lin Xu.


"Selamat makan juga," sahut Yang Fei dan yang lainnya. Mereka mulai sibuk menyantap makanan yang ada di piring mereka masing-masing sampai akhirnya Xiao Chuan membuka pembicaraan di antara mereka.


"Kalau aku boleh tahu, seperti apa wajah kakakmu?" tanya Xiao Chuan penasaran, "aku pernah tinggal di sini sebelumnya, jadi aku mungkin pernah bertemu dengannya."


"Seperti ini." Yang Fei menyodorkan sebuah lukisan laki-laki yang tampan dengan hidung yang mancung, kedua alis yang tebal, kedua mata yang besar, dan juga bibir yang tebal.


"Apa kau pernah melihatnya?" tanya Yang Fei.


"Belum pernah," jawab Xiao Chuan sembari menggelengkan kepala.


"Kakakku memang sudah menghilang selama belasan tahun. Aku tidak bisa menemukannya di manapun. Tapi tidak apa-apa, suatu saat nanti aku pasti bisa menemukannya," kata Yang Fei sambil menghela napas pelan.


"Namun, kenapa kau harus menemukannya? Jika dia sudah menghilang selama belasan tahun, berarti dia tidak ingin kembali bertemu denganmu, 'kan?" sahut Xiao Chuan penasaran.


"Kau benar, mungkin dia memang tidak ingin bertemu denganku. Tapi, aku tetap harus mencarinya selama aku masih hidup. Aku harus mengikuti harapan terakhir Ibuku untuk mencari kakak kandungku." Yang Fei menghela napas, ia tahu akan sulit untuk mencari kakaknya yang sudah lama menghilang.


"Aku paham. Yang Fei, kau tidak perlu khawatir. Kota Chang'An itu unik. Sekarang kita berada di zaman Dinasti Xing. Ada Adipati Qin dan pemangku pedangnya yang terkenal, Su Jiang. Menurut rumor yang beredar, Su Jiang sangat mahir meramal dan memiliki mata yang sangat tajam. Ia pasti bisa mengenali kakakmu. Hanya saja, jika ingin menemui Adipati Qin dan pemangku pedangnya, maka kita harus melakukan sesuatu yang dapat mengesankan mereka." Xiao Chuan menjelaskan dengan detail.


"Xiao Chuan, menurutmu apa yang bisa mengesankan Yang Mulia dan pemangku pedangnya?" celetuk Hua Xiang.


Bersambung......

__ADS_1


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊


__ADS_2