
"Semuanya, apa pun yang dikatakan oleh Yang Mulia Qin Jun barusan itu tidaklah benar. Yang Mulia Qin Yang belum menikah karena memang Beliau belum menemukan calon Permaisuri yang tepat untuknya," kata Su Jiang yang langsung angkat bicara.
"Tidak, apa yang dikatakan oleh Qin Jun tadi memang benar. Aku memang sangat mencintai Su Jiang dan sudah memendam perasaanku selama 3 tahun," elak Qin Yang sembari menatap wajah Su Jiang.
"Wah, aku tidak menyangka Yang Mulia Qin Yang akan mengutarakan perasaannya saat pesta perjamuan resmi di Istana," ucap Kasim Wang dengan wajah terkejut.
"Yang Mulia Qin Yang memang seorang pria sejati. Ia bahkan tidak takut dengan resiko yang harus ia tanggung ke depannya," puji Kasim Huang sambil tersenyum senang.
"Semuanya, jika memang kalian merestui hubunganku dengan Su Jiang, aku pasti akan menjadikannya Permaisuri. Namun, jika kalian tidak setuju, aku juga tidak akan menikah," kata Qin Yang datar.
"Bagaimanapun juga, aku akan memerintah kalian dalam waktu yang sangat lama. Selama aku menjadi Raja, Chang An akan selalu menjadi prioritas utamaku," imbuh Qin Yang dengan nada tegas.
"Yang Mulia, mengenai memilih calon Permaisuri, sepenuhnya berada di tangan Anda," sahut Kasim Zhang.
"Benar, Yang Mulia. Kami akan selalu mendukung Anda, apa pun keputusan yang Anda buat," celetuk Kasim Ming.
"Kau lihat 'kan, Kak? Kami akan selalu mendukung keputusanmu. Kau bisa menikah dengan Su Jiang. Kami sudah merestui hubungan kalian," ucap Qin Jun sembari tersenyum senang karena ia sudah lebih dekat untuk mewujudkan rencananya menjadi kenyataan..
"Benarkah? Kalian merestuiku menikah dengan Su Jiang?" tanya Qin Yang dengan wajah berseri-seri.
"Tentu saja, Yang Mulia Qin Yang." Para tamu undangan menjawab dengan kompak.
"Wanita pilihan Anda pasti adalah wanita yang terbaik. Kami semua akan merestui siapapun calon Permaisuri yang Anda pilih," ucap Kasim Huang.
"Terima kasih atas kepercayaan dan restu kalian untukku dan Su Jiang."
"Su Jiang, akhirnya kita bisa bersama untuk selamanya sebagai sepasang Suami Istri," ucap Qin Yang sambil berdiri dan memegang kedua tangan Su Jiang.
"Jadi, maukah kau menikah denganku dan menjadi Permaisuriku satu-satunya?" tanya Qin Yang sembari menatap kedua mata Su Jiang.
__ADS_1
"Yang Mulia, ini... apa Anda yakin?" bisik Su Jiang sembari menatap ke arah para tamu undangan yang sedang berbisik-bisik.
"Ada apa? Menurutmu, aku tidak serius?" sahut Qin Yang bingung.
"Bukan begitu. Hanya saja aku-"
Qin Yang langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Su Jiang agar wanita di hadapannya itu berhenti berbicara.
"Su Jiang, aku sangat mencintaimu. Apa kau mau menjadi Permaisuriku?" tanya Qin Yang dengan suara lantang.
"Yang Mulia," bisik Su Jiang ragu.
Qin Jun pun menatap ke arah mereka dan berkata, "Jawablah, Su Jiang."
"Iya. Aku bersedia menjadi Permaisurimu, Yang Mulia."
"Terima kasih, Kasim Zhang Yuan."
"Semuanya, aku ingin berterima kasih kepada kalian karena kalian sudah selalu mendukungku dan merawat Kota Chang An ini dengan sepenuh hati," ucap Qin Yang sembari tersenyum.
"Hari ini, kalian boleh makan sepuasnya dan minum sampai mabuk," imbuh Qin Yang sambil mengangkat gelasnya yang berisi minuman beralkohol.
"Bersulang untuk Yang Mulia. Semoga Yang Mulia Qin Yang sehat selalu dan hidup bahagia selamanya," ucap para tamu undangan.
"Bersulang!" seru Qin Yang. Ia dan para tamu pun makan dan minum sampai puas.
...****************...
Setelah pesta perjamuan selesai, Qin Jun langsung kembali ke kamar tidurnya karena dirinya mengantuk. Namun, ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Keluar!" seru Qin Jun sembari mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Yang Fei pun keluar dari tempat persembunyiannya itu, yaitu di belakang lemari pakaian Qin Jun.
"Yang Fei? Ada apa kau mencariku semalam ini?" tanya Qin Jun bingung. Ia kembali memasukkan pedang yang ia genggam ke dalam sarungnya.
Yang Fei menatap sang Kakak dengan wajah serius sembari berkata, "Ada yang mau kubicarakan denganmu."
"Memangnya begitu penting sampai kau tidak bisa membicarakannya besok pagi setelah aku beristirahat?" sahut Qin Jun sembari menggelengkan kepala. Yang Fei mengangguk pelan.
"Ya, sangat penting," jawab Yang Fei dengan nada tegas.
Qin Jun pun mendengus sembari berucap, "Baik, katakanlah sekarang. Apa yang mau kau bicarakan denganku?"
"Apa maksud kalimatmu tadi saat berada di aula Istana?" tanya Yang Fei penasaran.
"Kalimatku yang mana yang tidak kau pahami?" balas Qin Jun dengan wajah kebingungan.
"Kau membujuk semua orang untuk merestui hubungan Yang Mulia Qin Yang, tapi sebenarnya kau tidak membantunya, melainkan kau sedang membantu dirimu sendiri," ucap Yang Fei sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Baguslah kalau kau sudah paham. Pergilah, sekarang aku mau tidur," kata Qin Jun tidak acuh.
"Kakak, Yang Jun, kau benar-benar hebat," puji Yang Fei sembari menepuk kedua tangannya.
"Berhenti memanggilku Yang Jun! Apa maumu sebenarnya?" tanya Qin Jun bingung.
Bersambung......
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊
__ADS_1