Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Berpamitan


__ADS_3

“Apa kau yakin? Dia mau pergi ke mana?” sahut Li Xing Mi sambil menatap kedua mata Shi Ming untuk memastikan bahwa ia tidak dibohongi oleh Shi Ming.


“Aku tidak menanyakannya, tapi aku memberitahunya tentang lokasi kakaknya di Chang An. Mungkin dia dan temantemannya akan pergi ke sana," jawab Shi Ming.


“Terima kasih, Shi Ming. Aku pergi dulu,” kata Li Xing Mi.


...****************...


“Salam, Yang Mulia,” sapa Yang Fei.


“Ada apa kau mencariku?” tanya Li Yi Cheng.


“Saya ingin berpamitan dengan Yang Mulia. Setelah ini, saya dan teman-teman saya akan pergi ke Kota Chang An untuk mencari kakak saya,” jelas Yang Fei.


“Apa kau butuh sesuatu?” sahut Li Yi Cheng.


“Tidak ada, Yang Mulia. Saya hanya ingin berpamitan dengan Anda,” jawab Yang Fei dengan sopan.


“Tidak mungkin aku tidak memberimu apa-apa setelah kau sudah memperjuangkan kedamaian untuk kerajaan Barat.”


Kemudian, Li Yi Cheng menatap wajah Shi Ming.


“Shi Ming,” panggil Li Yi Cheng.


“Hadir.” Shi Ming memberi hormat kepada sang Raja.


“Berikan kepada Yang Fei beberapa pusaka yang ada di dalam gudang senjata dan beri dia uang yang banyak!" perintah Li Yi Cheng.

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia," balas Shi Ming. Ia segera pergi dari Aula Xiang Ping. Tidak lama kemudian, ia kembali bersama dengan empat pengawal Raja yang sedang mengangkut kotak-kotak besar.


“Tuan Yang Fei, ambillah semuanya," kata Shi Ming sambil menyodorkan kotak yang ia pegang ke arah Yang Fei. Empat pengawal itu juga mengikuti Shi Ming.


“Yang Mulia, aku tidak memerlukan senjata dan uang sebanyak ini,” kata Yang Fei sembari menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Li Yi Cheng.


“Yang Fei, kau sudah sangat berkontribusi dengan memperjuangkan kedamaian di seluruh wilayah yang ada di kerajaan Barat. Sekarang kau akan pergi, terimalah dan anggap saja semua itu sebagai hadiah perpisahan dari kerajaan Barat untukmu," jelas Li Yi Cheng.


"Baik. Terima kasih banyak, Yang Mulia," kata Yang Fei.


"Aku tahu pasti akan sulit bagimu untuk membawa semuanya. Aku sudah menyiapkan lima kuda di depan gerbang Istana. Nanti kau dan teman-temanmu bisa pergi dengan kudakuda itu," sahut Li Yi Cheng.


"Terima kasih atas kebaikanmu, Yang Mulia. Kalau begitu, saya izin pamit." Yang Fei menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Li Yi Cheng.


"Hati-hati di jalan," kata Li Yi Cheng sambil tersenyum.


“Tuan Putri, saya ingin berpamitan dengan Anda,” jawab Yang Fei sambil memberi hormat.


”Kau harus berhati-hati,” kata Li Xing Mi.


“Aku pasti akan berhati-hati. Terima kasih, Tuan Putri,” sahut Yang Fei. Shi Ming mengantarkan Yang Fei ke depan gerbang Istana dan membantu mengikatkan kotak-kotak besar pemberian Raja di atas seekor kuda yang tidak diduduki oleh Yang Fei dan temantemannya.


“Sampai jumpa, Tuan Yang Fei,” kata Shi Ming sambil memberi hormat.


Kemudian, Shi Ming kembali ke Istana dan Yang Fei melanjutkan perjalanannya bersama dengan ketiga temannya. Tidak lama setelah itu, datanglah beberapa prajurit Istana dengan keadaan tubuh yang sudah berdarah di mana-mana.


“Jenderal, seluruh Istana tiba-tiba ditutupi kabut yang sangat gelap. Kabut itu menyerang kami dan kami tidak bisa menemukan Yang Mulia dan Tuan Putri di manapun. Tolong selamatkan kami semua, Jenderal!" seru para prajurit Istana untuk meminta pertolongan Yang Fei.

__ADS_1


“Tarik napas kalian, jangan terlalu panik. Ayo kita kembali ke Istana sekarang,” ajak Yang Fei.


“Baik, Jenderal," kata mereka.


...****************...


”Yang Mulia, Tuan Putri, kalian ada di mana?” tanya Yang Fei.


“Yang Fei, kau akhirnya kembali lagi ke sini,” kata Shi Ming yang sudah dirasuki oleh roh jahat. Ia sudah berada di atas genteng Aula Xiang Ping.


“Apa yang kau lakukan di atas sana, Shi Ming?” sahut Yang Fei penasaran. Yang Fei hendak berjalan mendekat, namun Xiao Feng langsung memegang lengan kanan Yang Fei.


"Hati-hati, ada orang lain yang membacakan mantra untuknya," kata Xiao Feng.


“Hahahaha. Tidak kusangka, kau sangat lugu dan baik. Kerajaan ini seharusnya bisa menjadi milikmu. Dia sudah tua dan tidak berdaya lagi, kenapa kau tidak terima saja tawarannya untuk menjadi Putra Mahkota?” tanya Shi Ming sambil tertawa licik.


“Apa maksudmu? Apa kau mau mengkhianati Yang Mulia?” balas Yang Fei sembari mengepalkan kedua tangannya.


“Tentu saja! Untuk apa aku tunduk kepada orang tua yang lemah dan tidak bisa melindungi rakyat kerajaan Barat lagi?” sahut Shi Ming dengan arogan.


“Shi Ming, sadarlah. Kau sudah melakukan kesalahan besar,” kata Yang Fei.


“Aku tidak bersalah. Aku sudah melayani Yang Mulia selama 20 tahun. Aku juga merupakan teman dekat Tuan Putri. Tapi karena aku bukan keturunan bangsawan, aku tidak pernah bisa menjadi Putra Mahkota. Aku hanya bisa menjadi seorang penasihat Raja yang tidak akan pernah bisa naik pangkat lagi,” jelas Shi Ming.


Bersambung……


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊

__ADS_1


__ADS_2