Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

“Sepertinya tidak ada Bunga Mawar Hitam di sekitar sini,” kata Xiao Feng.


“Benar juga. Kita sudah mencari sampai petang, tapi masih tidak bisa menemukannya,” sahut Guo Lin Xu.


“Kalau begitu, bunga itu pasti hanya tumbuh di wilayah tertentu,” balas Hua Xiang.


“Hua Xiang, kau pintar sekali. Ayo kita cari bunga itu di puncak gunung!” ajak Guo Lin Xu sambil tersenyum.


“Kita pergi ke puncak gunung sekarang?” tanya Li Xing Mi cemas. Ia tidak pernah mendaki gunung, apalagi sampai ke puncak gunung yang suhunya begitu ekstrem.


”Tentu saja. Hanya udara di puncak gunung yang bisa membuat Bunga Mawar Hitam tetap mekar,” jawab Hua Xiang sambil tersenyum.


“Yang benar saja,” gumam Li Xing Mi.


Mereka berempat pun pergi ke puncak gunung dan mulai mencari Bunga Mawar Hitam di sana. Benar saja, banyak sekali Bunga Mawar Hitam yang tumbuh di sana. Mereka segera memetik beberapa di antara bunga-bunga itu. Namun, ketika mereka sudah selesai mengambil bunga itu dan hendak turun gunung, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggelegar.


“Suara apa itu?” tanya Li Xing Mi.


Mereka berempat pun menoleh ke belakang dan melihat makhluk naga berkepala empat. Li Xing Mi sangat ketakutan saat melihat naga itu sehingga ia segera lari dari sana. Sang naga menganggap Li Xing Mi sebagai ancaman, jadi ia segera mengejar Li Xing Mi.


“Sial, kenapa dia harus mengejarku?” gumam Li Xing Mi.


“Tuan Putri, jangan lari!” teriak Hua Xiang.


Namun, Li Xing Mi tidak mendengarkan teriakan itu. Tidak lama kemudian, sang naga berkepala empat sudah menyemburkan apinya ke arah Li Xing Mi. Hua Xiang pun menahan semburan api itu dengan pedangnya.


“Hua Xiang, hati-hati!” seru Guo Lin Xu.


“Hua Xiang, kau baik-baik saja?” tanya Xiao Feng khawatir.


Ia melihat semburan api itu sudah mengenai lengan Hua Xiang. Xiao Feng langsung menyerang naga berkepala empat dengan pedang dan kekuatan petirnya.


“Xiao Feng! Jangan!” teriak Hua Xiang.


Xiao Feng tidak menghiraukan teriakan Hua Xiang dan ia masih ingin membunuh naga itu, tetapi Guo Lin Xu menarik tangan kanannya.


”Hentikan! Kita tidak bisa melawannya sekarang,” kata Guo Lin Xu sambil menggelengkan kepalanya.


“Jika dia tidak kubunuh, kita semua akan dibunuh olehnya.”

__ADS_1


Xiao Feng bersikeras untuk tetap membunuh naga itu. Guo Lin Xu sudah pasrah, tetapi ia tetap mengamati sekelilingnya. Ia melihat ada gua kecil di sebelah kanan mereka.


“Ayo kita sembunyi dulu di gua itu,” kata Guo Lin Xu sambil menuntun Xiao Feng di sebelah kirinya dan Hua Xiang di sebelah kanannya masuk ke dalam sana.


“Tunggu aku!” seru Li Xing Mi dengan nada panik.


“Tuan Putri, cepat masuk,” kata Guo Lin Xu.


Li Xing Mi pun berlari secepat mungkin sampai akhirnya ia bisa masuk ke dalam gua. Anehnya, sang naga tidak ingin menghancurkan gua tersebut. Naga itu hanya menunggu mereka di depan gua.


“Perjalanan kali ini benar-benar gila. Aku hampir saja mati terkena semburan api dari naga itu,” kata Li Xing Mi sambil menghela napas panjang.


“Orang yang hampir mati itu Hua Xiang, bukan kau,” sahut Xiao Feng dengan sinis.


Mereka bertiga pun duduk untuk melihat separah apa luka di kedua lengan Hua Xiang. Lalu, Guo Lin Xu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka itu.


“Terima kasih, Lin Xu,” kata Hua Xiang.


“Sama-sama.” Guo Lin Xu tersenyum. Kemudian, ia bangkit berdiri.


“Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menyelamatkanku,” kata Li Xing Mi sambil tersenyum.


“Gua ini gelap dan dingin sekali,” kata Li Xing Mi yang bulu kuduknya mulai merinding.


“Tuan Putri, bersabarlah. Sekarang kita tidak bisa keluar dari gua ini. Kita harus memikirkan cara lain untuk mengalahkan naga berkepala empat itu,” balas Guo Lin Xu.


Guo Lin Xu pun menyalakan api unggun dengan mengikis batu-batu kecil yang ada di sekitarnya.


“Bagaimana caranya? Kita tidak cukup kuat untuk mengalahkannya.” Li Xing Mi memeluk kedua kakinya dengan kedua lengannya.


Guo Lin Xu dan yang lainnya tidak menghiraukan ucapan Li Xing Mi barusan. Mereka bertiga mulai mengelilingi gua tersebut.


“Kenapa kalian meninggalkan aku di sini? Memangnya apa yang bisa kalian lihat di gua ini?” tanya Li Xing Mi.


“Mungkin saja ada petunjuk di tempat ini,” jawab Xiao Feng tanpa menatap ke arah Li Xing Mi.


“Tuan Putri, daripada kau duduk sendirian di sana, bukankah lebih baik kau ikut kami untuk melihat-lihat gua ini? Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk,” kata Guo Lin Xu.


Li Xing Mi pun bangkit berdiri dan melihat-lihat sekeliling gua itu. Ia juga menyentuh semua yang bisa disentuh olehnya. Ketika ia menyentuh salah satu batu yang agak menonjol di dalam gua itu, batu itu mulai masuk ke dalam dan menunjukkan pintu masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia.

__ADS_1


“Lin Xu, kemarilah! Sepertinya aku menemukan sesuatu!” seru Li Xing Mi dengan wajahnya yang berseri-seri.


“Apa yang kau temukan?” tanya Guo Lin Xu sambil berjalan menghampiri Li Xing Mi.


“Sebuah ruangan rahasia?” sahut Hua Xiang.


”Kenapa sebuah ruangan rahasia bisa ada di dalam sini?” tanya Xiao Feng penasaran.


Mereka berempat pun masuk ke dalam ruangan itu dan menemukan banyak sekali senjata-senjata kuno seperti pedang, golok, pisau, busur dan anak panah, dan lain-lain. Setelah itu, mereka juga menemukan sebuah lemari yang berisi kitab-kitab.


“Wah, senjatanya banyak sekali,” kata Li Xing Mi dengan antusias.


“Ada kitab-kitab juga di sini,” sahut Hua Xiang sembari mengambil salah satu kitab kuno yang ada di sana.


“Xiao Feng, apa kau masih membawa kitab tentang senjata-senjata kuno?” tanya Guo Lin Xu.


“Seharusnya masih ada… ini dia.” Xiao Feng memberikan kitab itu kepada Guo Lin Xu.


“Terima kasih,” kata Guo Lin Xu.


Ia mulai membaca kitab itu sambil mengamati berbagai macam senjata yang ada di hadapannya.


“Teman-teman, aku menemukan cara untuk mengalahkan naga berkepala empat itu!” seru Hua Xiang girang.


Guo Lin Xu, Xiao Feng, dan Li Xing Mi langsung mengerubungi Hua Xiang.


“Membidik kedua matanya dengan busur dan anak panah serta memotong ekornya dengan golok?” gumam Guo Lin Xu.


“Akhirnya kita bisa membunuh naga itu,” kata Xiao Feng sambil mengambil busur dan anak panah. Guo Lin Xu pun mengambil golok yang ada di sana dan mereka berempat keluar dari ruang rahasia itu.


“Sementara ini, kita cuma bisa tinggal dulu di dalam gua ini. Nanti malam saat naga itu tertidur baru kita bisa bergerak,” kata Guo Lin Xu.


“Baik.” Xiao Feng dan Hua Xiang mengangguk secara bersamaan.


“Baiklah,” sahut Li Xing Mi.


Bersambung……


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️☺️

__ADS_1


__ADS_2