Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Bertemu Adipati Qin


__ADS_3

"Kudengar Yang Mulia sangat menyukai pertunjukkan tarian kuno yang terkenal. Jika kita mampu menampilkan sebuah tarian kuno yang indah untuknya, dia mungkin akan memberi kita hadiah," kata Xiao Chuan sambil menatap wajah mereka semua satu per satu.


"Tarian kuno? Bagus sekali. Kebetulan aku bisa melakukannya," sahut Li Xing Mi.


"Xing Mi, kau yakin mau melakukannya sendirian?" tanya Hua Xiang.


"Jika kau dan Lin Xu mau membantuku juga boleh." Li Xing Mi menatap Hua Xiang dan Guo Lin Xu secara bergantian.


"Baiklah, aku akan membantumu. Ajarkan aku bagaimana cara melakukannya," sahut Guo Lin Xu.


...****************...


Adipati Qin sedang bermain catur sambil meminum teh bersama dengan Ayahnya di kamarnya.


"Baginda, pagi ini di balai kota akan ada pertunjukkan tarian kuno. Apa Anda dan Yang Mulia mau pergi?" tanya Qi Rui, sang Kepala Dayang Istana.


"Siapa yang akan menampilkannya?" tanya Yang Mulia Qin, Ayahanda dari Adipati Qin.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Hamba tidak tahu namanya. Satu hal yang Hamba tahu, penari utamanya sudah pasti seorang Tuan Putri dari kerajaan lain yang datang jauh-jauh ke sini," jawab Qi Rui sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.


"Baiklah, antar aku ke sana sekarang." Yang Mulia Qin segera menghabiskan tehnya dan bangkit berdiri. Melihat Ayahnya hendak keluar dari aula Istana, Adipati Qin segera ikut berdiri dan memegang lengan kanan sang Ayah.


"Berdirilah," perintah Adipati Qin.


"Terima kasih, Baginda." Qi Rui langsung berdiri dan mengantar mereka ke balai kota.

__ADS_1


...****************...


Begitu Yang Mulia dan Adipati Qin tiba di balai kota, pertunjukkan tarian kuno segera dimulai. Li Xing Mi sebagai penari utama. Guo Lin Xu dan Hua Xiang menemani Li Xing Mi di sisi kiri dan kanannya. Selain itu, mereka dibantu oleh beberapa penari lainnya.


Mereka bertiga memakai pakaian berwarna ungu dan menarikan tarian kipas dengan anggun.


"Bagus, sangat bagus." Yang Mulia Qin langsung menepuk kedua tangannya setelah Li Xing Mi menarikan tarian penutup.


"Terima kasih banyak, Yang Mulia. Anda terlalu menyanjung kami," kata Li Xing Mi sambil membungkuk dan tersenyum.


"Kalian bertiga mampu menarikan tarian kuno yang diciptakan oleh Ratu Fei Xi. Makna tarian ini berarti keanggunan dan keindahan yang dimiliki seorang wanita. Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah melihat ada yang bisa menampilkan tarian kuno yang rumit ini. Besok pagi datanglah ke aula Istana. Aku dan Ayahanda pasti akan menyambut kedatangan kalian," kata Adipati Qin sembari tersenyum.


"Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Baginda. Kami pasti akan datang ke aula Istana besok pagi," sahut Li Xing Mi sambil tersenyum.


...****************...


"Kalian semua berdirilah," perintah Adipati Qin.


"Terima kasih, Baginda." Mereka bertiga segera bangkit berdiri.


"Hari ini aku mengundang kalian ke sini karena aku ingin berterima kasih mengenai pertunjukkan tarian yang kalian tampilkan kemarin. Pertunjukkannya luar biasa sampai bisa membuatku dan Ayahanda terharu. Boleh aku mengetahui nama dan tempat asal kalian?"


"Baginda, nama saya Li Xing Mi. Saya berasal dari kerajaan Barat. Wanita yang berdiri di sebelah kanan saya bernama Guo Lin Xu dan wanita yang lainnya bernama Hua Xiang. Mereka berdua juga berasal dari kerajaan Barat."


"Li Xing Mi, kau pasti anak tunggal dari Li Yi Cheng, 'kan?" tanya Adipati Qin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benar sekali. Anda memang luar biasa, Baginda."


"Tidak perlu menyanjungku. Aku dan Ayahmu adalah teman lama. Bagaimana kabar Ayahmu sekarang?" tanya Adipati Qin sambil menatap ke arah Li Xing Mi.


"Ayahku baik-baik saja," jawab Li Xing Mi sambil tersenyum.


"Baguslah, aku senang mendengarnya," sahut Adipati Qin sambil tersenyum lega.


"Sebagai apresiasi atas pertunjukkan kalian yang luar biasa kemarin, silakan minta apa saja yang kalian inginkan, aku akan mengabulkannya," kata Adipati Qin.


"Baginda, temanku ingin mencari kakak kandungnya. Katanya, pemangku pedang yang selalu setia di sisi Baginda bisa meramal masa depan dan mencari tahu keberadaan seseorang. Bolehkah kami menanyakan tentang keberadaan seseorang kepadanya?" tanya Li Xing Mi.


"Tentu saja boleh, tapi Su Jiang sedang terluka parah saat ini. Kemarin malam, seseorang yang misterius datang menyerang ke kamarku. Kebetulan Su Jiang sedang menjaga di depan pintu kamar kemarin malam sehingga ia sempat berusaha untuk mengusir orang itu sampai akhirnya sosok misterius itu menusuk dadanya dan ia terluka parah sekarang," kata Adipati Qin menjelaskan. Wajahnya tampak sangat khawatir dan juga murung karena pemangku pedangnya sedang terluka parah.


"Maafkan kami, Baginda. Kalau begitu, kami tidak akan menganggu Nona Su Jiang sampai ia benar-benar sembuh dari lukanya," sahut Guo Lin Xu.


"Baik, pergilah. Nanti jika kondisinya sudah baik, aku akan segera mengabari kalian," kata Adipati Qin.


"Terima kasih banyak, Baginda," kata mereka bertiga sembari membungkuk.


"Qi Rui, antarkan mereka sampai ke depan gerbang Istana," perintah Adipati Qin.


"Baik, Baginda. Nona-nona, silakan," kata Qi Rui dengan sopan. Mereka bertiga segera mengikuti langkah Qi Rui sampai ke depan gerbang Istana. Setelah itu, mereka kembali ke tempat penginapan yang tadi.


Bersambung......

__ADS_1


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊


__ADS_2