
"Kenapa? Bukankah kau sangat ingin menjadi seorang Raja sejak kecil?" tanya Qin Yang penasaran.
"Sejak kecil, aku dirawat dan dibesarkan Ayah di Istana Fu Jian. Ia memperlakukanku dengan sangat baik meski aku bukan anak kandungnya."
"Aku bertekad untuk membalas budinya. Jadi aku selalu ingin menjadi seorang Raja, seperti apa yang diharapkan Ayah dariku. Namun, setelah bertahun-tahun, aku sadar bahwa aku paling mencintai kebebasan. Aku tidak bisa mengikuti peraturan di Istana yang begitu ketat," imbuh Qin Jun sambil menghela napas panjang.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan ke depannya, Jun? Bagaimanapun juga, selama kau masih tinggal di Istana, kau harus mengikuti peraturan di Istana dan pada akhirnya kau tetap harus naik takhta untuk menjadi seorang Raja menggantikanku." Yang Mulia Qin Yang pun menatap Qin Jun dengan perasaan cemas.
"Aku tidak mau menjadi Raja, Kak. Maka itu, tolong menikahlah dengan Su Jiang supaya kalian memiliki seorang putra yang bisa menjadi Raja selanjutnya. Bukankah Kakak sangat mencintainya? Kenapa Kakak tidak segera menikahinya?" tanya Qin Jun heran.
"Tidak semudah itu, Jun. Dia tidak bisa menjadi Permaisuri karena ia tidak berasal dari keluarga kerajaan," sahut Qin Yang sambil menghela napas panjang.
"Lantas, jika Su Jiang menjadi selir juga tidak masalah, 'kan?" balas Qin Jun sambil tersenyum licik.
"Tidak bisa begitu. Pada akhirnya, meski kami memiliki seorang putra, anak itu tetap tidak bisa naik takhta menggantikan posisimu saat ini. Su Jiang dan keturunannya tidak akan mendapatkan apa-apa jika ia hanya menjadi seorang selir," ucap Qin Yang sambil menutup kedua matanya dan menghela napas panjang.
"Kakak juga tidak ingin menikah dengan Tuan Putri dari kerajaan lain. Kalau begitu, Kakak tidak memiliki pilihan lain saat ini," balas Qin Jun.
"Menikahlah dengan Su Jiang, Kak. Kau tau bahwa Su Jiang juga sangat mencintaimu," imbuh Qin Jun sambil tersenyum.
"Daripada mendesakku untuk segera menikah, kenapa kau tidak melakukan hobimu saja?" tanya Qin Yang yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan dari adiknya itu.
"Kakak, kau juga harus menikah pada akhirnya. Jika kau tidak segera menikahi orang yang kau cintai, apa kau mau menikah dengan orang yang tidak kau cintai?" tanya Qin Jun sembari berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Kakak mengerti, Jun. Jadi, kau akan segera meninggalkan Istana?" tanya Qin Yang penasaran.
"Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Qin Jun dengan perasaan curiga.
Qin Yang menatap kedua mata adiknya sembari berkata, "Selama kau masih berada di Istana, kau harus naik takhta mengikuti kemauan Ayah."
"Entahlah. Aku masih belum memiliki rencana ke depan. Aku hanya ingin memperingati Kakak untuk segera menikah supaya kalian segera punya keturunan," sahut Qin Jun sambil tersenyum.
"Baik, Kakak sudah ingat. Terima kasih, Jun."
"Ya sudah. Aku pergi dulu ya, Kak," kata Qin Jun sambil bangkit berdiri.
"Iya, sampai jumpa nanti di pesta perjamuan. Jangan sampai telat," ucap Qin Yang mengingatkan adiknya itu.
...****************...
Malam hari di aula Istana Yu Qing, semua orang penting dari kerajaan-kerajaan lain yang ada di sekitar kota Chang An datang untuk berkumpul di dalamnya.
"Selamat malam semuanya," sapa Qin Yang yang sedang duduk di kursi kehormatannya.
"Selamat malam, Yang Mulia Qin Yang." Semua orang yang berada di aula menjawab dengan serentak sembari memberi hormat.
"Terima kasih sudah datang pada malam hari ini. Hari ini adalah hari pesta perjamuan yang sangat penting bagi kita semua. Pesta perjamuan malam ini diadakan untuk merayakan ulang tahun Kota Chang An yang ke-200 tahun," ucap Qin Yang sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengundang kami ke tempat ini, Yang Mulia. Semoga Yang Mulia berumur panjang," sahut para tamu undangan sembari memberi hormat.
"Tidak perlu sungkan. Silakan makan dan minum sepuasnya. Mari kita rayakan ulang tahun Kota Chang An pada malam hari ini dengan hati yang bahagia," ucap Qin Yang sambil mengangkat gelas arak di mejanya. Ia bersulang untuk para tamu dan para tamu juga bersulang untuk Qin Yang.
Kemudian, para dayang Istana menaruh makanan-makanan yang lezat di atas setiap meja yang ada di aula tersebut. Semua tamu dapat makan dan minum sampai puas.
"Semuanya, aku ingin menyampaikan sebuah pengumuman karena hari ini adalah hari yang penting," ucap Qin Ming sembari bangkit berdiri.
"Yang Mulia Qin Yang sudah saatnya untuk memilih calon Permaisuri. Yang Mulia Qin Yang akan segera menikah dengan Pemangku Pedangnya, Su Jiang," imbuh Qin Ming sambil menatap Qin Yang dengan senyuman licik.
"Adipati Qin Ming, apa maksud Anda?" tanya Su Jiang dengan wajah sinis. Namun, Qin Ming pura-pura tidak mendengar Su Jiang dan tetap menatap kepada Qin Yang.
"Kau harus segera menikah, Yang Mulia. Kau harus memiliki seorang Putra Mahkota untuk dijadikan Raja berikutnya," ucap Qin Ming mengingatkan.
"Adipati Qin, pernikahan tidaklah mendesak untuk sekarang. Kenapa kau buru-buru untuk menikahkanku dengan Su Jiang?" tanya Qin Yang heran. Ia mulai waspada dengan setiap ucapan yang dikatakan oleh Ayah angkatnya itu.
"Yang Mulia, aku hanya menyampaikan pengumumannya saja. Mengenai harinya, aku akan memilihkan hari yang tepat untuk kalian berdua," balas Qin Ming sambil tersenyum. Ia pun kembali duduk di tempatnya.
"Kau tidak perlu repot-repot, Adipati Qin. Aku yang akan mengurus pernikahanku sendiri," sahut Qin Yang sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Dan aku tidak akan menikah tahun ini. Aku akan menjadi Raja Kota Chang An untuk waktu yang sangat lama. Jadi aku tidak akan menikah dulu," imbuh Qin Yang dengan tegas.
Bersambung......
__ADS_1
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊