Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Kekhawatiran Qin Ming


__ADS_3

Pagi hari di Istana Fu Jian


"Panggil Song Ming ke sini," perintah Qin Ming, sang Ayahanda. Seketika itu juga, Song Ming yang sedang berjaga di luar pintu langsung masuk ke dalam Istana.


"Salam, Yang Mulia. Ada perintah apa?" tanya pengawal pribadi sang Ayahanda, Song Ming.


"Coba selidiki keadaan Su Jiang, apa dia benar-benar sedang terluka parah saat ini?" sahut Qin Ming penasaran.


"Baik, Yang Mulia." Song Ming memberi hormat dan bersiap-siap untuk berangkat ke Istana Yu Qing, Istana kediaman Adipati Qin dan Su Jiang.


"Ingat, lakukan secara hati-hati. Jangan sampai kau membuat kesalahan," kata Qin mengingatkan anak buahnya.


"Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba pasti tidak akan mengecewakan Anda," sahut Song Ming sambil menganggukan kepalanya pertanda ia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan.


...****************...


Kamar Su Jiang, Istana Yu Qing


"Su Jiang, kau harus cepat pulih. Tuan Putri dari kerajaan Barat membutuhkan bantuanmu. Dan aku, aku butuh kau sebagai pemangku pedangku yang sejati. Dulu, aku selalu mengira aku bisa melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan dari siapapun. Sekarang aku tahu aku salah. Jadi, cepatlah sembuh dan bangun, oke?" tanya Qin Yang sambil memegang kedua tangan Su Jiang dan menempelkannya ke dahinya.


"Baginda, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa aku sudah melakukan kesalahan lagi?" tanya Su Jiang kebingungan. Adipati Qin menggelengkan kepala sambil meneteskan air matanya karena terharu.


"Kau sudah sadar. Apa kau sudah merasa baikkan?" sahut Adipati Qin sambil tersenyum lirih.


"Baginda, apa yang terjadi? Kenapa kepalaku sakit sekali dan aku tidak bisa mengingat kejadian semalam?" Su Jiang berusaha untuk mengingat kembali apa yang sudah ia alami kemarin malam.


"Kemarin malam seorang pria misterius bercadar hitam datang menyerang ke kamarku. Kau sedang berjaga di sana. Saat pria itu menerobos masuk ke dalam kamarku melalui jendela, kau langsung berperang melawannya. Tenaga dalamnya sangat kuat sehingga kau tidak bisa mengalahkannya. Pria itu menusuk perutmu dengan jarum beracun. Aku sudah menyuruh para pengawal untuk mencari tahu tentang jarum beracun itu," jawab Adipati Qin sambil menghela napas panjang.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau terluka, Baginda?" sahut Su Jiang khawatir.


"Tidak, aku tidak terluka. Kau melindungiku dengan sangat baik."


Su Jiang tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Jangan khawatirkan aku, khawatirkan dirimu sendiri. Istirahatlah sampai kau benar-benar sudah merasa lebih baik," kata Adipati Qin sambil tersenyum.


"Baginda, bolehkah aku meminta Anda membuatkanku Sup Lima Rasa?" tanya Su Jiang dengan nada memohon.


"Baik, aku akan pergi ke dapur sekarang." Adipati Qin segera menuju ke dapur dan membuatkan Sup Lima Rasa untuk pemangku pedangnya.


...****************...


Siang hari di Istana Fu Jian


"Qin Yang membuatkan Su Jiang Sup Lima Rasa? Apa dia sudah gila? Seorang pemangku pedang seharusnya diatur oleh Raja, bukan sebaliknya!" seru Qin Ming yang sudah tersulut emosinya.


"Yang Mulia, tolong Anda tenang dulu," kata Song Ming yang langsung berlutut dan diikuti oleh semua anak buah Qin Ming yang juga segera berlutut kepada tuannya yang sedang marah.


"Huh! Memalukan sekali! Dia sudah jatuh cinta kepada pemangku pedangnya yang tidak cukup kuat untuk melindunginya sebagai Kaisar. Su Jiang sama sekali tidak layak untuk menjadi pasangan hidupnya!" teriak Qin Ming dengan wajahnya yang memerah karena kesal.


"Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah begitu kesal?" tanya Qin Jun, putra bungsu Qin Ming yang baru saja kembali setelah berlatih pedang di luar Istana Fu Jian.


"Kakakmu jatuh cinta kepada Su Jiang, bagaimana mungkin Ayah tidak kesal?" sergah Qin Ming sembari mendecak pelan.


"Kau masih saja begitu payah dalam berpikir. Jika mereka menikah, Su Jiang akan menjadi Permaisuri dan takhta kita perlahan-lahan akan terlengserkan jika ia bisa melahirkan seorang anak laki-laki bagi Qin Yang."


"Tapi jika Su Jiang tidak bisa memiliki seorang putra, maka akulah yang akan menjadi Raja berikutnya," kata Qin Jun mengingatkan.


"Kau benar juga, tapi bagaimana jika Su Jiang bisa mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki?" sahut Qin Ming sambil menatap kedua mata Qin Jun dengan tatapan serius.


"Itu juga tidak masalah, aku punya cara untuk mengatasinya." Qin Jun tersenyum licik sambil membisikkan sesuatu ke telinga Ayahnya.


"Bagus, kau memang anak kandungku yang baik. Jalankan saja sesuai rencanamu itu," puji Qin Ming sambil menepuk pundak anaknya itu.


"Baik, Ayah. Qin Jun akan segera menjalankan rencananya dengan hati-hati. Aku jamin kali ini semuanya akan berjalan dengan baik," kata Qin Jun sembari memberi hormat kepada Ayahnya.


...****************...

__ADS_1


Sore hari di Istana Yu Qing


"Baginda, Yang Mulia Qin Jun meminta untuk bertemu Anda di lapangan kuda sekarang juga," lapor salah satu pengawal Adipati Qin.


"Baik, nanti antarkan aku ke sana," perintah Adipati Qin sembari bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya.


"Baik, Yang Mulia."


Pengawal itu segera memberi hormat dan keluar dari Istana untuk menunggu sampai Qin Yang selesai mengganti pakaian kerajaannya yang berwarna emas menjadi pakaian yang berwarna putih dan melepas mahkotanya dan mengenakan topi biasa untuk berkuda. Kemudian, ia mengantarkan sang Raja ke lapangan kuda.


...****************...


"Baginda tiba!" teriak salah satu prajurit yang ada di area lapangan kuda.


"Hormat kepada Baginda!" seru semua orang yang berada di sana sembari berlutut menyapa kehadiran Adipati Qin, termasuk Qin Jun yang sudah bersiap-siap dengan pakaiannya yang berwarna hitam.


"Semuanya berdirilah," perintah Qin Yang.


"Terima kasih, Baginda."


Mereka semua berdiri dan kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.


"Kakak, terima kasih sudah mau datang ke sini. Apa aku sudah menganggu Kakak?" tanya Qin Jun sambil mengangkat kedua alisnya.


"Jun, kita adalah keluarga. Kau memintaku datang ke sini, jadi tentu saja aku akan datang dan menemanimu untuk balapan kuda hari ini," jawab Qin Yang sembari tersenyum senang.


"Kakak, bagaimana jika kita bertaruh? Jika aku yang menang, aku boleh melakukan apa pun kepadamu. Tapi jika kau yang menang, kau juga boleh melakukan apa saja kepadaku. Bagaimana menurutmu?" tanya Qin Jun.


"Baiklah, karena kau begitu suka bertaruh dan bertanding denganku sejak kecil maka aku akan bertaruh denganmu hari ini."


Adipati Qin dan Qin Jun segera naik ke atas kuda-kuda yang sudah disiapkan di sana dan memulai balapan kuda di antara mereka.


Bersambung......

__ADS_1


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊


__ADS_2