Legenda Pendekar Seruling

Legenda Pendekar Seruling
Mengobati Yang Fei


__ADS_3

“Shi Ming, tolong segera berikan tanaman ini kepada tabib Istana untuk diolah menjadi obat,” kata Li Xing Mi sembari menyodorkan Bunga Mawar Hitam yang diggenggam di kedua tangannya dengan tergesa-gesa kepada Shi Ming.


“Baik, Tuan Putri.” Shi Ming mengambil Bunga Mawar Hitam itu dan segera pergi dari Aula Xiang Ping.


“Putriku, apa kau tahu kesalahan yang sudah kau lakukan?” tanya Li Yi Cheng dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam. Li Yi Cheng tampak berbeda kali ini, ia terlihat kesal sekali dengan putri tunggalnya yang pergi dari Istana tanpa meminta izin kepadanya.


“Aku tahu aku sudah berbuat salah, Ayah. Aku pergi meninggalkan Istana tanpa seizin Ayah. Mohon maafkan aku.” Li Xing Mi berlutut dan menundukkan kepala. Ia berusaha untuk terlihat sangat menyesal supaya sang Ayah mau mengampuni perbuatannya.


“Xing Mi, jawab pertanyaan Ayah dengan jujur. Apa mereka yang mengajakmu untuk pergi ke Gunung Zhou?” tanya Li Yi Cheng sambil menoleh ke arah Guo Lin Xu, Hua Xiang, dan Xiao Feng.


“Tidak, Ayah. Aku sendiri yang ingin ikut pergi dengan mereka,” jawab Li Xing Mi.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?” sahut Li Yi Cheng sembari menghela napas panjang.


“Tidak, Ayah. Aku baik-baik saja. Mereka bertiga menjagaku dengan baik. Hua Xiang juga terluka karena aku,” jelas Li Xing Mi sembari memperlihatkan bekas luka bakar di lengan Hua Xiang kepada sang Raja.


“Kau bawa dia untuk mengobati bekas lukanya dan beristirahat di kamarmu dulu,” kata Li Yi Cheng.


“Baik. Terima kasih, Ayah,” sahut Li Xing Mi sambil memberi hormat kepada Ayahnya.


“Terima kasih, Yang Mulia,” kata Hua Xiang yang ikut memberi hormat kepada Li Yi Cheng.


“Ayo,” ajak Li Xing Mi. Ia segera menuntun lengan Hua Xiang untuk pergi dari Aula Xiang Ping menuju ke kamarnya. Setelah Li Xing Mi dan Hua Xiang keluar dari situ, Li Yi Cheng menatap wajah Guo Lin Xu dan Xiao Feng secara bergantian.

__ADS_1


“Siapa kalian? Kenapa kalian mau mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke Gunung Zhou? Dan kenapa Tuan Putri bisa ikut ke Gunung Zhou bersama dengan kalian?” Li Yi Cheng memberikan pertanyaan beruntun sekaligus.


“Yang Mulia, nama saya Guo Lin Xu dan dia adalah Xiao Feng. Kami berdua adalah saudara se-perguruan Yang Fei di Gunung Xuan Zheng. Saat kami tahu bahwa Bunga Mawar Hitam bisa menyembuhkan penyakitnya, kami hendak berangkat ke Gunung Zhou. Tuan Putri melihat kami sudah bersiap-siap untuk pergi ke Gunung Zhou, ia meminta ikut bersama dengan kami, jadi saya memperbolehkannya untuk ikut karena saya tahu Tuan Putri juga ingin membantu Yang Fei dengan tulus,” jelas Guo Lin Xu.


“Yang Mulia, maafkan kami karena kami tidak izin terlebih dulu kepadamu saat membawa Tuan Putri bersama kami. Kami tidak akan beralasan dan membela diri kami. Mohon Yang Mulia hukum kami,” pinta Xiao Feng sambil memberi hormat kepada Li Yi Cheng. Guo Lin Xu pun ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Xiao Feng.


“Sudahlah. Xing Mi bilang kalian menjaganya dengan baik. Kali ini, aku maafkan kalian. Namun, lain kali jika Xing Mi ingin meninggalkan Istana, kalian harus lapor dan meminta izin padaku terlebih dulu,” jawab Li Yi Cheng sambil tersenyum.


“Terima kasih atas kebaikanmu, Yang Mulia,” sahut Guo Lin Xu.


“Pergilah dan istirahat di kamar tamu. Shi Ming, antarkan mereka ke kamarnya,” perintah Li Yi Cheng.


“Baik, Yang Mulia,” balas Shi Ming.


*****


Yang Fei sudah diberi obat oleh tabib Istana siang tadi. Guo Lin Xu, Xiao Feng, dan Li Xing Mi sedang berada di kamar Yang Fei. Mereka ingin menjaga Yang Fei sampai ia bisa sadar. Hua Xiang tidak bisa ikut bersama dengan mereka karena ia sedang beristirahat di kamar Li Xing Mi. Guo Lin Xu duduk di ujung kasur Yang Fei, sementara itu Xiao Feng dan Li Xing Mi duduk di sebelah meja yang terletak di tengah-tengah kamar. Setelah beberapa waktu, Yang Fei mulai menggerakkan jari-jari pada kedua tangannya.


“Teman-teman, sepertinya Yang Fei sudah sadar,” kata Guo Lin Xu dengan pelan. Xiao Feng dan Li Xing Mi pun segera menuju ke kasur di mana Yang Fei berbaring.


“Yang Fei, kau sudah sadar?” tanya Xiao Feng sembari duduk di ujung kasur milik Yang Fei.


“Yang Fei, akhirnya kau sadar!” seru Li Xing Mi yang juga ikut duduk di sebelah Xiao Feng.

__ADS_1


“Akhirnya? Apa yang terjadi denganku? Aku sudah tertidur berapa lama?” tanya Yang Fei kebingungan. Ia meletakkan kedua tangannya di samping tubuhnya untuk membantunya duduk.


“Pelan-pelan,” kata Guo Lin Xu sembari memegangi lengan kanan dan bahu Yang Fei.


“Terima kasih, Lin Xu,” sahut Yang Fei.


“Yang Fei, kau sudah tertidur selama 8 hari. Kami semua sangat mencemaskanmu, syukurlah kau sudah baik-baik saja sekarang,” kata Li Xing Mi dengan nada lega.


“8 hari, lama sekali, apa yang membuatku tertidur selama itu?” balas Yang Fei penasaran.


“Yang Fei, kau sudah diracuni oleh Wang Duan saat kau bertarung dengannya. Dia meracunimu dengan Racun Si Du. Racun itu sangat sulit untuk dinetralkan. Jadi wajar saja jika kau tertidur selama 8 hari,” jelas Xiao Feng.


“Jika racun itu sulit dinetralkan, kenapa aku bisa bangun dalam keadaan yang sehat sekarang?” sahut Yang Fei heran.


“Kau baru saja sembuh, kau tidak perlu terlalu banyak memikirkan hal itu. Makanlah yang banyak dan istirahat yang cukup supaya kami semua bisa tenang,” jawab Guo Lin Xu sambil tersenyum.


“Baik, terima kasih, teman-teman,” kata Yang Fei.


“Ngomong-ngomong, di mana Hua Xiang?” tanya Yang Fei bingung. Ia menatap ketiga orang yang sedang duduk di ujung kasurnya saat ini untuk menunggu jawaban dari mereka.


Bersambung……


Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️

__ADS_1


__ADS_2