
"Panggil Qin Jun dan Shen Tao ke sini," perintah Qin Ming kepada Song Ming.
"Baik, Yang Mulia." Song Ming pun segera keluar dari kamar Qin Ming untuk memanggil Qin Jun dan Shen Tao.
"Salam, Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?" tanya Qin Jun sembari menundukkan kepala.
"Salam hormat kepada Yang Mulia," ucap Shen Tao sembari memberi hormat kepada Qin Ming.
"Apa yang kau lakukan kemarin pagi? Kenapa aku tidak bisa mencarimu di mana-mana?" tanya Qin Ming dengan nada tinggi dan tatapan mengintrograsi.
"Aku pergi berburu bersama dengan Shen Tao, Ayah."
"Shen Tao, apakah itu benar?" Qin Ming mengangkat kedua alisnya sembari menatap tajam ke arah Shen Tao.
"Benar, Yang Mulia. Yang Mulia Qin Jun pergi berburu dengan saya kemarin pagi," jawab Shen Tao sembari menundukkan kepalanya.
"Baiklah. Lain kali jika kalian ingin pergi, laporkan dulu padaku. Apa kalian paham?" sahut Qin Ming dengan tegas.
"Paham, Ayah."
"Paham, Yang Mulia."
"Shen Tao, mundurlah," ucap Qin Ming. Shen Tao pun memberi hormat. Kemudian, ia segera keluar dari ruangan itu.
"Ada apa, Ayah? Kenapa kau mengusir Shen Tao?" tanya Qin Jun bingung.
"Ayah punya satu tugas penting untukmu," kata Qin Ming sembari berjalan menghampiri Qin Jun.
"Apa tugasnya, Ayah?" sahut Qin Jun penasaran.
"Kakakmu harus menikah dengan Su Jiang akhir bulan ini. Aku tidak peduli bagaimana caranya, tapi kau harus membuat mereka menikah secepatnya supaya rencana kita bisa terwujud."
"Tapi bagaimana dengan rakyat, Ayah? Apakah mereka akan setuju jika Kakak menikah dengan Pemangku Pedangnya sendiri? Bagaimanapun juga, Kakak seharusnya menikah dengan Tuan Putri dari kerajaan lain."
"Rakyat ada di tanganku. Tuan Putri dari kerajaan lain juga urusanku. Kau hanya perlu mempersatukan Kakakmu, Qin Yang, dengan Pemangku Pedangnya, Su Jiang. Kau bisa melakukannya, 'kan?" tanya Qin Ming sambil menatap ke arah Qin Jun dengan tatapan penuh harap.
"Bisa, Ayah." Qin Jun mengangguk setuju.
"Bagus. Jangan kecewakan aku kali ini," kata Qin Ming sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik, Ayah. Kalau begitu, Qin Jun izin undur diri," balas Qin Jun sambil memberi hormat. Lalu, ia juga pergi dari ruangan itu.
"Song Ming," panggil Qin Ming.
"Ada perintah apa, Yang Mulia?" jawab Song Ming.
"Bagaimana perkembangan hubungan Su Jiang dengan Qin Yang sejauh ini?" tanya Qin Ming penasaran.
"Sesuai harapan Anda, Yang Mulia. Mereka berdua menjadi semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama saat Yang Mulia Qin Yang berburu dan berlatih memanah," sahut Song Ming. Qin Ming tersenyum senang mendengarnya.
"Hahaha, bagus sekali. Terus awasi pergerakan mereka dan laporkan padaku secara berkala," kata Qin Ming sambil tertawa licik.
"Baik, Yang Mulia," balas Song Ming sambil memberi hormat kepada Qin Ming.
...****************...
Qin Jun segera pergi ke Istana Yu Qing untuk mencari Qin Yang. Namun, ia tidak dapat menemukan Qin Yang di aula kerajaan maupun di kamarnya.
Akhirnya, Qin Jun mencari kakaknya di perpustakaan Istana. Ia paham dengan kebiasaan sang kakak yang gemar membaca buku di perpustakaan pada siang hari ini.
Benar saja, Qin Yang sedang duduk di tengah-tengah ruang perpustakaan sembari membaca sebuah buku. Qin Jun pun segera datang menghampiri Qin Yang.
"Baik. Kau sendiri bagaimana, Jun?" tanya Qin Yang yang langsung meletakkan buku yang sedang dibacanya di atas nakas.
"Aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir," sahut Qin Jun sambil tersenyum senang.
"Ada apa kau datang menemuiku? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Qin Yang khawatir.
"Memang ada. Aku ingin tahu hubungan Kakak dengan Su Jiang."
Qin Yang pun mengangkat kedua alisnya dan menatap Qin Jun dengan wajah kebingungan.
"Kenapa kau penasaran tentang itu? Apa kau keberatan jika aku menyukai Su Jiang?"
"Tidak, Kak. Kau adalah Kakakku, bagaimana mungkin aku keberatan dengan wanita pilihanmu?" tanya Qin Jun sambil tersenyum licik.
"Namun, jika kau menyukai Su Jiang, kau harus cepat-cepat menembaknya. Kau tau usianya sudah tidak muda lagi. Dia sudah ada di sisimu selama 5 tahun, Kak," imbuh Qin Jun.
"Lalu, bagaimana jika aku tidak menyukainya?" balas Qin Yang penasaran.
__ADS_1
"Hahaha, itu tidak mungkin. Kakak jangan bercanda denganku," jawab Qin Jun sambil tertawa lepas.
"Aku memang tidak menyukai Su Jiang."
"Benarkah? Bagaimana bisa Kakak tidak menyukai Su Jiang?" gumam Qin Jun kebingungan.
"Kakak tidak menyukai Su Jiang, tapi Kakak sangat mencintainya," ucap Qin Yang sambil tersenyum.
"Apa? Kakak membuatku kaget saja," sahut Qin Jun sambil menghela napas panjang.
"Kau adalah Putra Mahkota, Jun. Cepat atau lambat kau akan naik takhta menjadi seorang Raja menggantikanku," kata Qin Yang dengan tatapan seriusnya.
"Kenapa kau jujur padaku, Kak?" tanya Qin Jun heran.
"Apa maksudmu?" sahut Qin Yang penasaran.
"Kau tahu aku adalah Putra Mahkota yang bisa menggeser posisimu kapan saja. Kenapa kau masih memberitahuku bahwa kau mencintai Su Jiang?" Qin Jun mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa curiga kepada Qin Yang.
"Karena aku adalah Kakakmu. Meski kita beda orang tua, namun kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, Jun," sahut Qin Yang sambil tersenyum.
"Bahkan aku sendiri bukan keturunan dari keluarga kerajaan, Kak. Aku hanya orang yang dipungut oleh Ayah dan menjadi seorang Putra Mahkota setelah mengurus tugas pemerintahan selama bertahun-tahun," kata Qin Jun lirih.
"Maka kau harus lebih bersyukur. Tidak ada yang perlu kau ingat dari masa lalumu jika itu menyakiti hatimu."
Qin Jun langsung menatap wajah sang Kakak dengan tatapan kagum.
"Masa lalu tidak akan menentukan masa depanmu. Ingatlah itu, Jun. Kakak menyayangimu seperti seorang adik dan Kakak sangat yakin Ayah juga begitu menyayangimu seperti anaknya sendiri," imbuh Qin Yang sembari menepuk pelan pundak adiknya itu.
"Kakak, aku tidak ingin naik takhta," ucap Qin Jun jujur.
"Kenapa? Bukankah kau sangat ingin menjadi seorang Raja sejak kecil?" tanya Qin Yang penasaran.
"Sejak kecil, aku dirawat dan dibesarkan Ayah di Istana Fu Jian. Ia memperlakukanku dengan sangat baik meski aku bukan anak kandungnya."
"Aku bertekad untuk membalas budinya. Jadi aku selalu ingin menjadi seorang Raja, seperti apa yang diharapkan Ayah dariku. Namun, setelah bertahun-tahun, aku sadar bahwa aku paling mencintai kebebasan. Aku tidak bisa mengikuti peraturan di Istana yang begitu ketat," imbuh Qin Jun sambil menghela napas panjang.
Bersambung......
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊
__ADS_1