
"Katakan apa yang kau inginkan sebagai hadiah taruhan dariku," ucap Qin Jun sambil menghembuskan napas kasar. Ia mengakui kekalahannya dengan berat hati.
"Aku ingin kau keluar dari Istana, Yang Jun," pinta Yang Fei sambil menatap kedua mata kakak kandungnya itu.
"Kau tahu itu tidak mungkin, Yang Fei. Aku bukan lagi Yang Jun. Aku adalah Qin Jun sekarang."
Qin Jun segera mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan. Ia tidak sanggup menatap wajah Yang Fei.
"Aku tahu, Kak. Aku tahu kau tidak bisa keluar dari Istana. Tapi bukan bisa atau tidaknya, hanya saja, apa kakak bersedia mengikutiku keluar dari Istana?" tanya Yang Fei cemas. Qin Jun pun menghela napas panjang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh adik kandungnya itu.
"Apa yang membuatmu begitu yakin bisa membuatku bersedia mengikutimu keluar dari Istana?" tanya Qin Jun dengan wajah sinis.
"Aku tahu semua ini tidak akan mudah bagimu, Kak. Kau sudah hidup dalam kemewahan selama puluhan tahun di Istana Yu Qing. Tapi kedua orang tua kita sudah mati," sahut Yang Fei lirih.
"Ibu sudah meninggal?" tanya Qin Jun cemas.
"Sebelum Ibu mati, ia memberiku pesan, yaitu aku harus membawamu menemui Guru Besar Duan Xing di puncak Gunung Xuan Zheng," imbuh Yang Fei.
"Bagaimana kalau aku tidak mampu memenuhi pesan terakhir yang ditinggalkan Ibu kepadamu?" tanya Qin Jun lirih.
"Maka sisa hidupku akan menjadi sia-sia," sahut Yang Fei sambil mendengus.
"Apa kau akan bunuh diri?" Qin Jun mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Yang Fei dengan tatapan tidak percaya.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak perlu bunuh diri karena alam yang akan menghukumku," jawab Yang Fei sambil menghela napas panjang.
"Yang Fei, berhentilah menjadi orang bodoh. Aku tidak akan ikut denganmu untuk keluar dari Istana karena aku memang tidak bisa dan tidak mau. Nanti saat kau meninggalkan Istana, kau harus menikmati sisa hidupmu tanpaku."
Qin Jun menepuk pundak kanan Yang Fei sembari berlalu pergi darinya.
__ADS_1
"Kak, kau adalah satu-satunya keluargaku di dunia ini yang masih hidup. Kita seharusnya saling menjaga sebagai saudara," ucap Yang Fei lirih.
"Kakak tahu, Yang Fei. Maafkan Kakak, tapi Kakak tidak bisa menjadi Kakakmu lagi." Sorot mata Qin Jun penuh dengan penyesalan saat ini.
"Pada hari di mana Kakak dinobatkan sebagai Putra Mahkota di Chang An, Kakak memutuskan untuk meneruskan takhta itu sampai Kakak menjadi Raja yang berkuasa di sini," imbuh Qin Jun sambil menutup kedua matanya, membayangkan betapa enaknya kehidupan sebagai seorang Raja.
"Meskipun Kakak akan mendapatkan takhta itu, tapi Kakak hanya akan dijadikan sebagai boneka oleh Qin Ming pada akhirnya."
"Kau masih muda, Yang Fei. Kau tidak mengerti apa itu kekuasaan dan bagaimana cara kekuasaan bekerja." Qin Jun menghela napasnya dalam-dalam.
"Aku memang masih muda, tapi percayalah padaku, Kak. Kau harus ikut denganku ke Gunung Xuan Zheng," balas Yang Fei sambil menatap kedua mata Qin Jun.
"Atas dasar apa aku harus percaya padamu?" sahut Qin Jun dengan nada tinggi.
"Bagaimana jika aku menunjukkan padamu sesuatu yang paling kau inginkan?" tanya Yang Fei sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apa itu?" Qin Jun menatap ke arah Yang Fei dengan wajah kebingungan.
"Baiklah. Sampai jumpa besok," kata Qin Jun. Ia segera memacu kudanya menuju Istana diikuti oleh Shen Tao di belakangnya. Sementara itu, Yang Fei menghela napas dan akhirnya ia mengikuti Qin Jun sampai ke Istana.
...****************...
Pagi-pagi sekali, saat matahari bahkan belum terbit, Qin Jun sudah duduk di kursi yang ada di taman. Qin Jun merasa sangat gelisah karena ia masih tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan Yang Fei kemarin.
"Sial, kenapa aku bahkan tidak bisa memikirkan apa yang paling hatiku inginkan di masa depan?" gumam Qin Jun sembari merutuki dirinya sendiri.
"Sebelumnya aku sangat menginginkan takhta sebagai Raja, tapi sekarang aku kembali meragukannya. Menjadi seorang Raja juga tidak bisa menikmati hidup yang enak dan bebas," kata Qin Jun sambil mendengus.
Qin Jun adalah seorang Putra Mahkota yang sangat sulit diatur karena ia menyukai kebebasan.
__ADS_1
"Jika aku menjadi Raja dan tidak bisa bebas, maka tidak ada gunanya aku menjadi Raja. Namun, aku adalah Putra Mahkota. Bagaimana mungkin aku mengikuti Yang Fei yang sudah terpisah dariku selama puluhan tahun? Meski ia adalah adik kandungku, tapi aku tidak mengenalnya. Bagaimana jika ia berniat jahat terhadapku?" tanya Qin Jun kepada dirinya sendiri.
"Tenang saja, Kak. Kakak kelihatannya begitu cemas. Meskipun aku berniat jahat terhadapmu, aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kepadamu karena aku tidak punya kuasa untuk melakukan itu."
"Yang Fei? Sejak kapan kau tiba di sini?" tanya Qin Jun kaget.
"Baru saja. Jadi, bagaimana? Apa Kakak sudah bisa menjawab pertanyaanku kemarin?" sahut Yang Fei sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu. Aku sangat ingin menjadi seorang Raja, tapi aku benci peraturan Istana yang sangat ketat." Qin Jun membuang napas kasar.
"Itu berarti bukan takhta yang paling kau inginkan, Kak," kata Yang Fei mengingatkan.
"Kau tahu apa tentangku? Lantas, menurutmu, apa yang paling hatiku inginkan untuk diriku sendiri di masa depan?" tanya Qin Jun sinis.
"Ketenangan, kebebasan, dan kebahagiaan, serta kemakmuran."
"Apa maksudmu?" sahut Qin Jun bingung.
"Kau ingin jadi seorang Raja karena ingin hidup makmur, tapi meski kau naik takhta, kau tidak akan bisa mendapatkan kebebasan dan ketenangan. Makanya kau mulai ragu dengan keinginanmu karena kau ingin hidup bahagia," jawab Yang Fei menjelaskan.
"Mungkin kau benar." Qin Jun mengangguk pelan.
"Jadi, apa Kakak bersedia mengikutiku pergi ke Gunung Xuan Zheng?" tanya Yang Fei dengan penuh harap.
"Baiklah, tapi bagaimana caranya? Aku diawasi selama 24 jam. Selain itu, Ayah tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Dia membutuhkanku di sisinya," sahut Qin Jun khawatir.
"Tenanglah, Kak. Aku tidak menyuruhmu untuk mengikutiku sekarang juga. Asalkan kau sudah bersedia, itu sudah cukup. Aku akan segera memberitahumu langkah selanjutnya," ucap Yang Fei sembari tersenyum.
Qin Jun pun mengangguk setuju. Ia bersedia untuk mengikuti adik kandungnya itu pergi menuju ke Gunung Xuan Zheng.
__ADS_1
Bersambung......