
"Tapi, Guru, ini..." sahut Yang Fei gugup.
"Tidak apa-apa. Kamu bilang seruling adalah benda mati. Kamu adalah Tuan atas seruling ini. Selama kamu mengendalikannya dengan baik, maka tidak akan terjadi masalah. Jangan ragu lagi," jelas Guru Besar Duan Xing sambil memegang pundak Yang Fei lalu tersenyum.
"Oke, Guru, terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan berusaha untuk menjadi Tuan yang baik bagi Seruling Hei Tian ini," kata Yang Fei.
"Guru sudah tahu, kamu adalah anak yang baik. Oleh karena itu, aku meminta Ibumu untuk menyuruhmu datang ke sini saat kamu sudah dewasa. Besok subuh, aku akan mengajarimu cara mengendalikan seruling itu," kata Guru Besar Duan Xing sambil tersenyum lega.
"Baik, Guru," sahut Yang Fei sambil memberi hormat kepada gurunya.
...****************...
Subuh di Puncak Gunung Xuan Zheng
Guru Besar Duan Xing sedang memperagakan beberapa jurus untuk mengendalikan seruling itu. Sementara itu, Yang Fei berusaha untuk mengingat semua jurusnya.
__ADS_1
"Seruling Hei Tian bisa menjadi senjata yang baik jika kamu menggunakannya dengan pikiran yang tenang dan hati yang damai. Tapi jika kamu menggunakannya dengan pikiran yang marah dan hati yang kesal, seruling ini bisa menjadi senjata yang sangat berbahaya dan mematikan," kata Guru Besar Duan Xing.
"Jika kamu merasa marah dan kesal, segera mainkan seruling ini. Melodi yang dihasilkan oleh benda ini mampu menenangkan hati dan pikiran orang yang meniupnya," lanjut Guru Besar Duan Xing.
"Oke, Guru. Yang Fei mengerti," sahut Yang Fei.
"Kamu cobalah," kata Guru Besar Duan Xing sambil menyerahkan Seruling Hei Tian itu kembali ke tangan Yang Fei.
"Baik, Guru," sahut Yang Fei yang langsung memperagakan beberapa jurus yang barusan diajarkan oleh gurunya. Yang Fei yang pintar mampu mengingat semua jurus itu meski hanya melihat sekali saja.
"Oke, Guru, terima kasih atas ajaranmu," balas Yang Fei sambil memberi hormat.
"Guru, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Yang Fei.
"Apa itu?" sahut Guru Besar Duan Xing.
__ADS_1
"Apa senjata yang Guru gunakan selama ini?" tanya Yang Fei penasaran. Guru Besar Duan Xing menghela napas saat mendengar pertanyaan ini. Ia akhirnya mengeluarkan senjatanya, yaitu Cambuk Pemukul Roh.
"Guru hampir tidak pernah memakai senjata, tapi Cambuk Pemukul Roh ini adalah senjata Guru," jawab Guru Besar Duan Xing sambil memperlihatkan senjatanya itu kepada Yang Fei.
"Sepertinya cambuk itu bukan cambuk biasa," gumam Yang Fei sambil mengamati cambuk yang terlihat kasar dan berduri itu.
"Kamu benar. Cambuk ini juga merupakan benda yang diwariskan dari alam langit. Benda ini memiliki kekuatan yang sangat besar dan tidak bisa dirusak oleh manusia biasa seperti kita. Oleh karena itu, Guru tidak mau menggunakannya," sahut Guru Besar Duan Xing.
"Ah, oke, aku mengerti, Guru," kata Yang Fei sambil tersenyum.
"Karena kamu sudah bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih, sekarang kamu boleh kembali dulu ke kamarmu untuk istirahat," balas Guru Besar Duan Xing sambil memegang pundak Yang Fei.
"Baik, Guru. Terima kasih atas ajaran Anda," kata Yang Fei. Guru Besar Duan Xing mengangguk lalu menyuruh Yang Fei untuk kembali beristirahat.
Bersambung......
__ADS_1
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ☺️