
Keesokan paginya, Yang Fei segera datang menemui Qin Jun di taman Istana Yu Qing saat matahari baru saja terbit. Qin Jun sedang berlatih memanah saat ini dan ia hanya ditemani oleh seorang pengawal pribadinya.
"Yang Mulia," panggil Yang Fei sembari berlari ke arah Qin Jun.
"Ada apa?" sahut Qin Jun sembari menoleh ke arah Yang Fei. Ia penasaran apa yang membuat Yang Fei mencarinya sepagi ini.
"Maafkan aku jika bersikap lancang, tapi apakah aku bisa bertaruh denganmu?" tanya Yang Fei yang langsung berterus terang.
"Kau ingin bertaruh dengan apa?" Qin Jun mengangkat sebelah alisnya.
"Aku dengar Yang Mulia sangat suka berburu. Bagaimana jika aku pergi berburu dengan Yang Mulia?"
"Baiklah. Besok pagi aku akan pergi berburu denganmu. Datanglah lagi ke sini besok jam 6," perintah Qin Jun sambil tersenyum.
"Baik, Yang Mulia."
"Yang Mulia, apa kau yakin ingin pergi berburu dengan seorang rakyat biasa? Bagaimana jika Tuan tahu dan marah besar?" tanya pengawal pribadi Qin Jun, Shen Tao.
"Shen Tao, kau tenang saja. Ayah tidak akan menghukummu, aku jamin." Qin Jun menepuk pundak Shen Tao sambil tersenyum.
"Tapi Yang Mulia, kau juga baru mengenal orang itu. Bagaimana jika dia berniat untuk menjebakmu, Yang Mulia Qin Jun?" sahut Shen Tao dengan wajahnya yang tampak cemas.
"Menurutku dia cukup menarik. Pokoknya kau tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja besok. Jika kau merasa sangat khawatir, datang saja ke sini besok pagi dan ikut berburu bersama kami," kata Qin Jun sembari tersenyum lebar.
"Baik. Hamba akan datang ke sini dan mengawasi Yang Mulia besok."
"Yang Fei adalah adik laki-lakiku satu-satunya di dunia. Seharusnya dia tidak akan melakukan apa-apa kepadaku besok pagi, 'kan?" gumam Qin Jun.
...****************...
__ADS_1
"Selamat pagi, Yang Mulia Qin Jun." Yang Fei segera memberi hormat kepada Qin Jun.
"Pagi juga, Yang Fei. Bagaimana kabarmu?" sahut Qin Jun sambil tersenyum ramah. Ia segera menepuk pundak Yang Fei, menyuruhnya untuk bangkit berdiri.
"Aku merasa sangat bersemangat pagi ini karena aku bisa berburu bersamamu, Yang Mulia."
"Bagus, apa kau sudah siap?" tanya Qin Jun.
"Sudah, Yang Mulia," jawab Yang Fei sembari memperlihatkan busur dan anak panahnya yang ia pinjam dari salah satu prajurit Istana kemarin malam.
"Ayo kita berangkat," ajak Qin Jun.
Kemudian, ia naik ke atas kuda putihnya dan ia meminjamkan satu kuda hitam untuk kutunggangi. Kami segera menunggangi kuda-kuda itu untuk meninggalkan area Istana dan pergi ke hutan. Begitu kami tiba di hutan, Shen Tao menunggangi kuda cokelat dan berhenti tepat di belakang kami.
"Dari mana saja kamu? Katanya mau ikut, tapi kamu malah datang terlambat," ucap Qin Jun sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba pantas dihukum," kata Shen Tao. Seluruh tubuhnya gemetaran dan berkeringat dingin.
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Terima kasih atas pengampunan Yang Mulia," jawab Shen Tao sambil menundukkan kepalanya untuk menunjukkan penyesalannya.
"Shen Tao, apa kau akan ikut kami berburu juga? Kalau kau menang, aku akan memberimu hadiah," sahut Qin Jun.
"Yang Mulia, Hamba tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan jika kalah berburu dengan kalian berdua. Hamba akan mengawasi Yang Mulia dan Tuan Yang Fei dari sini saja."
"Baik, terserah kamu saja," kata Qin Jun sambil tersenyum.
"Yang Fei, begini peraturannya. Siapapun yang hewan buruannya sudah duluan mencapai 10 hewan, dialah pemenangnya. Apa kau setuju?"
"Baik, aku setuju," jawab Yang Fei sambil mengangguk.
__ADS_1
"Jika aku menang, aku ingin kau membantuku sebagai pelayan sekaligus mata-mata Ayah di Istana Yu Qing. Katakan apa permintaanmu jika kau menang," sahut Qin Jun dengan percaya diri.
"Aku akan mengatakannya jika aku sudah mengalahkanmu, Yang Mulia Qin Jun."
"Baiklah, jika kau sudah selesai berburu, lepaskan kembang api ini ke udara. Ayo kita mulai sekarang," kata Qin Jun sembari memberikan sebuah kantung berisi kembang api kepada Yang Fei.
Kemudian, ia segera memacu kudanya menuju ke tengah-tengah hutan. Ia segera memanah seekor kelinci putih yang sedang melompat-lompat di atas rumput. Aku juga melihat kelinci cokelat di sisi lain. Namun, saat aku hendak melesatkan anak panahku ke tubuh kelinci itu, kelincinya sudah terlanjur kabur. Alhasil, anak panah Yang Fei melesat di rumput.
"Aku tidak pandai memanah. Apa yang harus kulakukan?" gumam Yang Fei sambil berpikir keras. Sembari berpikir keras, seruling ajaibnya hampir jatuh dari kantungnya.
"Hei Tian" seru Yang Fei kaget. Anehnya, seruling hitam itu malah terbang menjauh dari Yang Fei.
"Hei Tian, kembali" Yang Fei terus mengejar seruling ajaibnya sembari memacu kudanya. Namun, Seruling Hei Tian itu menusuk tubuh seekor rubah putih yang sedang tertidur.
"Hei Tian... apa yang kau lakukan? Kau bisa berburu?" tanya Yang Fei kebingungan.
Seruling itu kembali ke tangan kanan Yang Fei seketika itu juga. Seruling ajaib itu juga mengeluarkan sinar biru, memberi tanda bahwa ia ingin ditiup oleh Tuannya.
Yang Fei pun mulai meniup dan memainkan lagu dengan Seruling Hei Tian. Tidak lama kemudian, rusa, rubah, dan kelinci yang menikmati alunan musik yang dihasilkan dari Seruling Hei Tian pun segera jatuh dan mati begitu saja di tanah.
"Kau benar-benar ajaib, Hei Tian."
Yang Fei tersenyum lebar. Ia mendapati bahwa jumlah buruannya sudah mencapai 15 hewan. Yang Fei pun melepaskan sinyal kepada Qin Jun berupa kembang api sebagai tanda keberhasilannya. Melihat kembang api itu, Qin Jun segera datang menghampiri Yang Fei.
"Bagaimana caramu bisa membunuh mereka semua secepat itu?" tanya Qin Jun dengan wajah kebingungan.
"Itu..." Yang Fei menggaruk kepalanya karena tidak tahu harus jawab apa.
"Katakan apa yang kau inginkan sebagai hadiah taruhan dariku," ucap Qin Jun sambil menghembuskan napas kasar. Ia mengakui kekalahannya dengan berat hati.
__ADS_1
"Aku ingin kau keluar dari Istana, Yang Jun," pinta Yang Fei sambil menatap kedua mata kakak kandungnya itu.
Bersambung......