
Balapan kuda hari ini dimenangkan oleh Qin Yang karena ia memacu kudanya sampai bisa melewati garis akhir terlebih dulu sebelum Qin Jun.
"Kakak, kau masih saja hebat seperti dulu," puji Qin Jun sambil tersenyum. Ia dan Qin Yang segera turun dari kudanya.
"Terima kasih, Jun. Kau juga hebat," sahut Qin Yang sembari menepuk pundak adik angkatnya itu.
"Silakan lakukan apa saja kepadaku, Kak." Qin Jun segera menunduk sebagai pengakuannya bahwa ia sudah kalah dan menerima konsekuensi dari kekalahannya.
"Jun, aku tidak mau menghukummu. Kau selalu menyukai kebebasan. Kalau begitu, mulai besok kau jaga saja lapangan kuda ini seharian supaya kau bisa balapan kuda sesuka hatimu," kata Qin Yang sembari tersenyum tipis untuk menahan tawa.
"Kak, jangan begitu. Lapangan kuda ini begitu sejuk saat pagi hari, begitu panas saat siang hari, dan begitu dingin saat sore dan malam hari. Apa kau tega menyuruhku seharian berada di sini dan merasakan semuanya itu?" sahut Qin Jun lirih.
"Jadi, apa maumu?" tanya Qin Yang datar. Sejak awal, ia sudah tahu adiknya pasti tidak akan menerima hukuman darinya meskipun kalah dalam pertandingan.
"Karena kau sudah tahu aku selalu suka kebebasan, maka tolong perintahkan aku supaya bisa keluar dari Istana Fu Jian. Kau tahu sendiri temperamen Ayah. Aku tidak mau dekat-dekat dengan Ayah. Ayah tidak akan mengizinkanku bermain atau bersantai di Istana Yu Qing."
Qin Jun memasang wajah cemberut dan menangkupkan kedua tangannya untuk memohon kepada sang kakak.
"Bagaimana aku bisa memerintahkanmu keluar dari pengawasan Ayah padahal aku juga tidak bisa mengawasimu?" tanya Qin Yang sembari mengangkat kedua alisnya dan menatap Qin Jun dengan sinis.
__ADS_1
"Ayolah, Kak. Aku sudah dewasa sekarang. Begini saja, kau jadikan saja aku pengawal pribadimu supaya aku tetap bisa berada di sisimu dan kau bisa mengawasiku tanpa perlu khawatir Ayah akan memarahi kita," bujuk Qin Jun dengan tatapan memohon kepada kakaknya.
"Baiklah, lakukan saja semaumu. Aku mengizinkanmu menjadi pengawal pendukung di sisiku, tapi pengawal pribadiku tentu saja hanya Su Jiang seorang. Mulai besok, kau bisa keluar dari Istana Yu Qing dan bekerja bersama Su Jiang di Istana Fu Jian."
"Terima kasih banyak, Kakak. Kau memang Kakakku yang terbaik," puji Qin Jun dengan senang hati.
"Namun, menjadi seorang pengawal berarti harus bangun pagi dan tidur saat larut malam. Apa kau yakin bisa melakukannya?" tanya Qin Yang khawatir.
"Tidak masalah, Kak. Kalau aku tidak bisa bangun pagi, aku bisa menyuruh orang lain membangunkanku," jawab Qin Jun sembari tersenyum lebar.
"Baik, kembalilah ke sisi Ayah hari ini dan bersiap-siap untuk menjadi pengawalku besok pagi."
"Baik, Kakak. Aku undur diri," kata Qin Jun sembari membungkuk memberi hormat kepada Qin Yang. Setelah itu, ia segera melangkah pergi dari sana untuk kembali ke Istana Yu Qing.
"Baginda, kenapa kau mengizinkan Qin Jun untuk berada di sisimu?" tanya Su Jiang penasaran.
"Qin Jun tidak akan meminta kepadaku untuk terus berada di sisiku. Kali ini, dia pasti melakukannya karena Ayah," jawab Qin Yang yang terlihat cemas.
"Jadi, kau mau aku bekerja bersamanya dan menyelidiki motifnya dan Yang Mulia Qin Ming?" sahut Su Jiang memastikan.
__ADS_1
Qin Yang menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Bagus, kau mulai mengerti situasinya sekarang," puji Qin Yang sambil mengelus rambut Su Jiang.
"Aku yakin mereka punya motif tersendiri. Jun ingin terus mengawasiku dan melaporkan semua gerak-gerikku kepada Ayah. Kita tidak bisa terlalu memercayai mereka meski mereka adalah keluarga angkatku. Kita harus bertindak saat malam hari," kata Qin Yang mengingatkan Su Jiang.
"Baik, Baginda. Aku akan membantumu menyelesaikan semua misteri ini," balas Su Jiang sambil memberi hormat kepada Baginda.
"Oh iya, aku hampir lupa. Kemarin, Tuan Putri dari kerajaan Barat datang ke sini. Ia ingin bertemu denganmu untuk menanyakan keberadaan kakak dari temannya. Apa kau sudah bisa bertemu dengan mereka besok pagi?" tanya Qin Yang memastikan.
"Tentu saja aku bisa bertemu dengan mereka, Baginda. Dia datang jauh-jauh ke sini untuk bertemu denganku juga merupakan suatu kehormatan," jawab Su Jiang sambil tersenyum lebar.
"Baik, besok pagi aku akan menyuruh orang untuk menjemput mereka kemari besok pagi. Kau bisa kembali ke kamarmu dan beristirahat sekarang," kata Qin Yang.
"Baginda, orang misterius yang menyerang kamarmu saat malam hari masih belum ditangkap karena aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Namun, kau mengampuniku begitu saja. Tapi aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau belum menemukan pelakunya. Jadi, bolehkah aku berjaga seharian di depan pintu kamarmu?" tanya Su Jiang lirih.
"Su Jiang, kau sudah melaksanakan tugasmu dengan sangat baik. Masalah menangkap orang misterius itu tentu saja bukan kesalahanmu karena orang itu memang memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Jika kau berjaga seharian di depan pintu kamarku, kau akan kelelahan besok pagi dan kau tidak akan bisa menyambut Tuan Putri dengan baik," kata Qin Yang menjelaskan.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku sekarang dan beristirahat. Baginda, kau juga harus beristirahat dengan baik," kata Su Jiang mengingatkan sang Raja. Qin Yang menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Bersambung......
Halo semuanya, Author ucapkan terima kasih banyak sudah mampir ke sini. Mohon dukungan kalian untuk memberikan like, comment, dan vote karya Author yang satu ini supaya Author bisa lebih sering update dan mencari inspirasi yang lebih banyak lagi untuk membuat novel ini menjadi lebih baik. Jika kalian punya saran untuk novel ini, silakan disampaikan di comment ya. Terima kasih ️😊