
Bai Long saat ini sedang dalam proses menyerap energi dari Inti Es yang ada didepannya. Seluruh tubuhnya kini terasa dingin. Warna kulitnya kini berubah menjadi putih pucat karena efek samping dari energi yang ia serap. Proses ini memakan waktu tiga puluh menit sampai semua energi yang ada di dalam Inti Es ia serap habis.
"Tubuhku menjadi dingin !". Bai Long mencoba mengeluarkan aura panas dari Tubuh Dewa Phoenix yang ia miliki. Aura panas itu ia gunakan untuk menangkal aura dingin yang kini tengah ia rasakan. "Fiuh... sekarang tubuh ku sudah terasa hangat kembali". Tubuhnya kini terasa hangat seperti sudah berendam di pemandian air panas.
Bai Long mulai berdiri dan mengepalkan tangannya. Ditangan kanannya saat ini terlihat ia air yang mulai berkumpul membentuk tetesan air. Tetesan air itu kini ia padatkan menjadi sebuah serpihan es yang melayang di atas telapak tangannya. "Fantastik ! Dengan ini peformaku akan jauh lebih keren". Bai Long menghancurkan serpihan es itu menjadi butiran debu.
"Ngomong-ngomong bagaimana caranya aku keluar dari menara ini ? System apakah kamu punya ide ?". Karena Bai Long dari tadi terus berpikir dan tidak menemukan cara untuk keluar dari dalam menara, ia tidak mempunyai cara lain selain bertanya ke System.
[Host bisa menggunakan jimat teleport untuk mengirim Host keluar menara]
"Bagaimana cara menggunakan jimat itu ?".
[Host hanya perlu memasukkan energi ke jimat itu dan membayangkan tempat yang ingin Host tuju]
"Baiklah beli satu jimat teleport".
[Mengurangi 200 Ps untuk satu jimat teleport]
Seketika keluar sebuah jimat berwarna biru dengan tulisan kuno di jimat itu. Bai Long kemudian langsung menyuntikan energinya ke dalam jimat dan mulai membayangkan lokasi di luar menara.
Tubuh Bai Long menghilang dari lantai sepuluh. Dan muncul di luar menara. Sedangkan token yang melayang tadi kini mulai menempel di dinding menara lantai empat, yang menunjukkan bahwa ia hanya bisa sampai di lantai empat.
"Bro Long !"
__ADS_1
"Bai Long !"
"Kak Long !"
Terdengar suara dari ketiga sahabatnya itu yang tengah memanggilnya. Mereka mulai menghampiri Bai Long saat terlihat kawannya sudah keluar dari dalam menara spiritual.
"Apakah kamu tidak papa Bai Long ?", ucap Ruo An yang mengkhawatirkan keadaannya.
Melihat Ruo An yang saat ini tengah mengkhawatirkannya membuat jantung Bai Long berdegup. "Aku tidak papa. Tapi sayang sekali tinggal sedikit lagi dan aku akan mencapai lantai lima", ucap Bai Long dengan ekspresi pura-pura kecewa.
"Tidak usah merasa kecewa begitu bro Long. Kita sudah beruntung dengan bisa menjadi murid luar. Dengan begini kita akan bisa terus bertemu !", ucap Luo Ji memeriahkan suasana.
Bai Long tidak merasa kecewa dengan keputusannya ini, karena dari tadi niatnya memang untuk bisa selalu bertemu dengan Ruo An dan menjadi lebih dekat dengannya.
"Oh ya saat kami berada diluar tiba-tiba menara spiritual mengeluarkan cahaya berwarna biru yang lumayan terang. Kak Long apakah kamu tahu mengapa menara spiritual bercahaya ?", tanya Ruo Ning karena saat menara spiritual mengeluarkan cahaya hanya Bai Long lah yang berada didalam sana.
"Ah, mungkin karena aku terlalu lama berada di sana sendirian dan tidak sampai-sampai di lantai lima sehingga menara spiritual mengeluarkan cahaya agar aku cepat menyerah dan keluar dari sana", ucap Bai Long.
"Jadi begitu, aku kira ada sesuatu yang menarik terjadi didalam sana !", balas Ruo Ning.
"Ya seperti itu, ngomong-ngomong siapa dia ?". Sedari tadi Bai Long melihat seorang pria yang berdekatan dengan kawan-kawannya. Pria itu mengenakan pakaian yang cukup mewah, dan ia mengira kalau pria didepannya ini adalah seorang tuan muda dari keluarga yang cukup terpandang.
"Ah... maaf aku lupa memperkenalkannya kepadamu. Perkenalkan ini adalah Tang Zhan. Tang Zhan, ini adalah Bai Long". Luo Ji memperkenalkan nama mereka masing-masing.
__ADS_1
"Aku adalah Tang Zhan. Tuan muda dari kota Chilo". Tang Zhan melakukan sikap hormat ke sesama kultivator.
"Aku Bai Long". Bai Long melakukan sikap hormat ke sesama kultivator. Yang membuatnya beda adalah ia tidak membungkuk melainkan tetap berdiri sambil menyatukan kedua tangannya. Bai Long tidak suka terhadap orang yang memperkenalkan dirinya sambil menyebutkan status sosialnya saat perkenalan.
Setelah Ronde ke sebelas berakhir ujian pun telah selesai. Banyak peserta yang membuat ekspresi kecewa karena tidak bisa sampai ke lantai empat. Sedangkan peserta yang berhasil lolos mereka membuat ekspresi lega di wajah mereka. Peserta yang lolos berjumlah sebanyak seratus orang, mereka tengah berkumpul mendengarkan instruksi dari orang yang akan memberi arahan kepada mereka.
"Perhatian kepada semua orang yang telah lolos dalam semua seleksi Sekte Nui. Aku mengucapkan selamat kepada kalian semua karena sudah lolos dalam seleksi ini. Bisa dilihat sekarang ada beberapa orang yang tengah berdiri di depan kalian. Orang-orang ini akan memandu kalian dan menunjukkan asrama untuk tempat kalian tinggal mulai sekarang.
Bagi yang laki-laki kalian akan dipandu oleh senior laki-laki yang ada didepan kalian untuk sampai ke asrama laki-laki. Dan bagi yang perempuan kalian akan dipandu oleh senior perempuan yang ada didepan kalian untuk sampai ke asrama perempuan. APAKAH KALIAN PAHAM !!?"
"KAMI PAHAM !!", teriak semua orang.
"Bagus kalau begitu aku akan pergi". Orang yang memberi instruksi tadi langsung terbang dan pergi meninggalkan orang-orang yang ada dibawah.
"Baiklah bagi yang laki-laki ikut kesini !", ucap senior laki-laki.
"Dan bagi yang perempuan kalian bisa mengikuti kami !", ucap senior perempuan.
Semua orang segera berkumpul ketempat masing-masing. "Bai Long, sampai jumpa di kelas besok !", ucap Ruo An dengan senyuman di bibirnya.
"Ah ya, sampai jumpa juga di kelas besok !", balas Bai Long dengan senyuman juga.
Ruo An dan Ruo Ning kini mulai pergi ke regu perempuan. Luo Ji yang melihat Bai Long tersenyum sambil melihat kepergian Ruo An, ia menjadi mempunyai keinginan menjahili temannya ini. "Wah... Wah... bro Long aku tidak tahu kalau kedekatan mu dengan Ruo An sudah mencapai tahap ini. Apakah sebentar lagi aku akan menyebutnya kakak ipar ?".
__ADS_1
"Ya mungkin sebentar lagi kau akan menyebutnya kakak ipar", jawab Bai Long dengan mudah. Ia lalu mulai berjalan ke regu laki-laki dan meninggalkan Luo Ji yang masih dibelakang.
"Apa ?!", Luo Ji tak menduga kalau kawannya itu akan menjawabnya dengan begitu.