
Satu jam sebelum pembukaan dunia rahasia.
"Adik apakah kamu sudah menyiapkan apa yang akan dibutuhkan saat di dunia rahasia ?", tanya Nan Wu sambil menyeruput teh.
"Aku sudah menyiapkannya kak. Kakak tidak perlu khawatir karena aku bisa mengalahkan monster-monster itu dengan mudah", jawab Nan Mei sambil menunjukkan otot lengannya yang kecil sampai tidak terlihat.
"Haha... aku tahu kamu kuat. Tapi tidak ada salahnya kan mengkhawatirkan adik kesayanganku", Nan Wu menuangkan teh ke gelas satunya.
"Ini minumlah kau akan merasa baikan dan tidak tegang". Nan Wu memberikan teh itu ke adiknya.
"Terimakasih kak, tehnya enak !", ucap Nan Mei sambil tersenyum.
"Baiklah mari kita pergi untuk berkumpul dengan murid lainnya". Mereka berdua pergi ke tempat pembukaan portal dunia rahasia.
Saat ini semua orang tengah berkumpul dan mendengarkan pidato dari ketua sekte. "Hari ini adalah hari pembukaan dunia rahasia. Semua murid diwajibkan mengikuti acara yang diadakan dalam beberapa tahun sekali. Kalian diberikan waktu selama dua belas jam disana. Murid yang berhasil memperoleh seribu poin akan diberikan kenaikan tingkat. Semoga kalian selamat saat ada didalam sana. Baiklah tanpa menunggu waktu lama acara dimulai".
Semua murid segera memasuki dunia rahasia. Saat sudah berada disana semua murid akan ditempatkan di lokasi berbeda-beda. Dunia rahasia merupakan dunia kecil yang dibuat untuk melatih ketajaman para murid.
"Hm... sepertinya kita di tempatkan di area yang berbeda-beda. Tapi ya sudahlah mumpung disini banyak monster maka aku akan melakukan apa yang sudah lama tidak aku lakukan". Bai Long berlari dan mengarah ke sekelompok monster terdekat.
Sementara itu disisi lain. "Apa kamu sudah membawa barang yang aku maksud ?", tanya Nan Wu. Sebelumnya Nan Wu sudah menghubungi Tang Zhan menggunakan artefak komunikasi.
"Aku sudah membawanya pangeran", ucap Tang Zhan sambil menyerahkan benda yang dimaksud oleh pangeran.
"Bagus ! Sekarang mari kita pergi ke lokasi adikku berada. Sebelumnya aku sudah menandainya agar lokasinya dapat kita temukan dengan mudah". Nan Wu melihat artefak penanda, disitu terdapat kordinat adiknya berada. Setelah selesai mengkonfirmasi mereka langsung berlari menuju lokasi adik Nan Wu.
"Huh bukankah itu putri Mei. Lebih baik bersama dari pada sendirian. Putri Mei !!", panggil Luo Ji. Dia langsung berlari menghampiri sang putri.
"Luo Ji ? Kebetulan tempat kita sama". Nan Mei berbalik karena mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
"Bolehkah aku berjalan dengan putri ?", tanya Luo Ji.
"Boleh. Lebih baik bersama karena menambah kemungkinan selamat. Lalu apakah kamu sudah membunuh beberapa monster ?", tanya Nan Mei.
"Belum. Apakah putri sudah ?", tanya balik Luo Ji.
"Aku juga belum. Sepertinya disana ada sekumpulan monster kalau begitu ayo kita serang mereka !". Nan Mei berlari mengarah ke sekumpulan monster tingkat dua dan diikuti oleh Luo Ji dibelakangnya.
"Hehehe... monster gini mah kecil buatku". Terlihat Bai Long yang telah menghabisi banyak monster yang bertingkat tiga dan empat. Dia juga telah mendapat banyak inti monster yang telah ia ambil dari mayat monster yang telah ia bunuh.
"Huh... bosan banget. Karena lawannya lemah aku jadi bosan". Bai Long mendengus kesal karena kebosanan yang ia rasakan.
Boom... Terdengar suara ledakan dari arah Utara tempat Bai Long berdiri. Pohon-pohon juga rubuh akibat ledakan tadi.
"Sepertinya ada tontonan menarik !". Bai Long langsung pergi untuk melihat apa yang terjadi diarea utara. Sesampainya di sana ia melihat beberapa orang yang ia kenal tengah melawan tiga gorila besar. Gorila itu seukuran rumah dan memiliki bulu berwarna coklat.
Groar...
"Kalian semua pertahankan formasi kalian ! Kelemahan gorila itu berada di belakang kepalanya. Tiga orang maju kehadapan gorila itu kalian hanya perlu memalingkan perhatiannya saja ! Sedangkan yang lain incar kepala belakang gorila itu !". tuan Feng menginstruksikan para bawahannya untuk menyerang monster itu.
Penyerangan memakan waktu dua puluh lima menit sampai ketiga monster itu tumbang. Meskipun lama tetapi penyerangan mereka berhasil.
"Kalian cepat kumpulkan inti mereka dan kita akan melanjutkan penyerangan lagi !", perintah Tuan Feng.
Plok... Plok... Plok... "Wah wah aku tidak tahu kalau kalian bisa melakukan kerja sama sebaik itu". Bai Long bertepuk tangan untuk hasil kerja sama mereka dalam menaklukan ke-tiga gorila tadi.
Semua orang memalingkan wajahnya ke arah suara yang mereka dengar. Mereka melihat seorang pria yang tengah berdiri di atas dahan pohon.
__ADS_1
"Siapa kau ?", tanya tuan Feng ke pria itu.
"Aku hanya orang lewat saja, kebetulan aku melihat kalian yang sedang bertarung dengan monster, jadi aku menonton kalian untuk menghilangkan kebosanan ku", ucap Bai Long.
"Kalau kau tak ada keperluan dengan kami maka kami akan pergi". tuan Feng segera mengintruksikan ke para bawahannya untuk memulai penyerangan lagi tapi tiba-tiba salah satu bawahannya memberitahu tuan Feng.
"Hei hei jangan main pergi dulu. Apakah kalian tidak menginginkan harta yang ada dipuncak tangga jiwa ?", tanya Bai Long.
Mendengar itu tuan Feng segera menghentikan langkahnya. "Apakah kau mengetahui tentang harta itu ?".
"Tentu saja bukankah kamu menyuruh para bawahanmu untuk mencegat dan mengambil harta yang telah aku dapat waktu itu ?", tanya Bai Long dengan wajah sinis.
"Apakah yang dikatakan pria itu benar ?". tuan Feng mengalihkan pandangannya ke para bawahan dan menanyainya akan kebenaran omongan pria tadi.
"Tidak tuan yang pria itu katakan tidak benar. Orang yang membawa harta dari puncak tangga adalah orang yang berambut hitam, sedangkan rambut pria itu berwarna putih", jawab salah satu bawahan yang mencegat Bai Long waktu itu.
"Hei apa kau mencoba membodohi ku ?", tanya tuan Feng dengan nada tinggi.
""Siapa yang membodohi mu. Kuping bawahan mu saja yang rusak karena tidak mengenali suaraku. Padahal suaraku tidak aku ubah sama sekali saat menyamar". Bai Long mulai menunjukkan penyamarannya waktu itu kehadapan mereka semua.
Para bawahan tuan Feng terkejut dengan perubahan penampilan pria di depannya. "Apa ? Bagaimana mungkin !? Tuan benar yang dikatakan pria itu dia adalah orang yang kami cegat saat tengah malam. Dia juga yang memberikan cincin yang isinya barang dapur semua !".
"Berani sekali kau menunjukkan identitas mu ke hadapanku ! Apakah kau tidak takut kalau aku akan membunuhmu di dunia rahasia ini ?". Tuan Feng tersenyum jahat sambil memandang ke arah Bai Long.
"Ha Ha Ha aku takut !? Jangan mimpi ! Aku hanya bosan saja karena selama ini aku tidak melakukan peregangan tubuh. Dan kenapa aku harus takut kepadamu ? Malah sebaliknya aku ingin bermain denganmu selagi tidak ada panatua yang mengawasi". Sikap Bai Long berubah drastis saat ia ingin bertarung dengan musuh didepannya.
"Aku akui kalau kamu sangat berani dalam menantang maut yang akan menghampirimu ! Tapi aku ingin melihat sampai kapan kamu akan mempertahankan sikap arogan seperti itu ? Semuanya serang dan ambil harta dari bajingan itu !". tuan Feng memerintahkan pasukannya untuk menyerang pria dihadapannya.
Ditempat lain terlihat Luo Ji yang tengah bertarung bersama dengan putri Mei.
"Aku tidak tahu kalau kamu akan seterampil ini Luo Ji". Nan Mei memuji keterampilan pedang yang dimiliki oleh Luo Ji.
""Baiklah kalau begitu mari kita ambil inti mereka", ucap Nan Mei.
Mereka berdua mulai membelah bagian dada monster itu dan mengambil inti mereka. Inti yang mereka ambil adalah inti dari monster level tiga dan empat.
"Aku sangat beruntung karena telah datang ke sekte ini. Aku bisa memiliki teman seperti kalian yang bisa membuat hariku menjadi penuh arti", ucap Nan Mei.
"Apakah putri sebelumnya tidak memiliki teman ?", tanya Luo Ji sambil melihat putri Mei yang masih mengambil inti monster.
"Meskipun aku seorang putri tapi aku selalu saja merasa sendiri. Yang bisa aku ajak bicara hanyalah keluargaku dan para pelayan yang ada di istana. Aku sangat senang ketika memiliki kalian sebagai temanku". Setelah selesai mengambil inti mereka Nan Mei mulai berbalik dan menghadap ke Luo Ji.
"Aku sangat berterima kasih karena kalian mau menjadi temanku. Sekali lagi terimakasih Luo Ji", ucap Nan Mei sambil tersenyum tulus kepada Luo Ji.
"Manis..". Luo Ji terpesona dengan wajah senyum dari sang putri.
"Kamu bilang apa ?". Nan Mei tidak mendengar apa yang di katakan oleh Luo Ji tadi.
"Ah... bukan apa-apa", ucap Luo Ji dengan muka malu-malu.
"Haha.. kau aneh Luo Ji", ucap Nan Mei.
Nan Mei dan Luo Ji tidak menyadari bahwa ada orang yang mengintai mereka berdua di balik pohon. Dengan memakai tudung hitam dua orang sedang menunggu momen yang pas untuk menyerang.
"Kalau begitu ayo kita lanjut ugh...!". Qi Nan Mei terasa terkuras drastis, tubuhnya mulai sempoyongan karena tidak mampu menjaga keseimbangan.
"Putri apa yang terjadi ?". Luo Ji khawatir melihat putri Mei yang terlihat tidak baik.
__ADS_1
"Entah kenapa Qi-ku terasa berkurang terus dan menerus. Aku tidak tahu mengapa hal ini terjadi", jawab Nan Mei.
Tiba-tiba datang dua orang yang menyerang mereka dari belakang.
TRAANG...
Luo Ji segera menghalau serangan mereka saat ia sadar sesuatu mendekatinya. "Siapa kalian ? Kenapa kalian mencoba menyerang kami ?".
Kedua orang yang menyerang tadi hanya diam saja. Tanpa bicara ke-dua orang yang mengenakan jubah hitam itu langsung menyerang mereka.
"Putri orang itu mengarah ke anda !". Luo Ji memperingatkan putri akan kedatangan satu orang yang menyerang putri Mei.
Mereka berempat saling berhadapan satu sama lain. Benturan pedang terdengar terus dari pertarungan sengit mereka.
Disisi lain Bai Long saat ini tengah bermain-main dengan kelompok tuan Feng. Dia senang mempermainkan lawannya yang tidak mampu melawan dirinya.
"Haha... sekarang siapa orang yang berada di ujung maut ?", tanya Bai Long dengan senyum dan tawa jahatnya. Ia mencekik tuan Feng dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Semua bawahan bawahan tuan Feng dibuat babak belur oleh Bai Long. Termasuk tuan Feng sendiri mukanya saat ini penuh dengan darah karena tinjuan Bai Long.
"Baiklah kami mengaku salah. Tidak seharusnya kami berani membuat masalah denganmu, Tolong bisakah kau melepaskan kami ? errk...", ucap tuan Feng dengan nada yang serak.
"Haish... sepertinya kau tidak bisa bermain-main dengan ku lagi, padahal aku sangat menikmati waktu kita bermain", ucap Bai Long.
'Hanya orang gila yang ingin bermain denganmu !', umpat tuan Feng di dalam kepalanya.
Bai Long melemparkan tuan Feng ke arah bawahannya. "Sudahlah... sepertinya aku terlalu berlebihan. Oh ya.. aku peringatkan mulai sekarang jangan perlihatkan wajah kalian dihadapan ku !". Bai Long pergi meninggalkan kelompok tuan Feng yang babak belur itu.
"Akhirnya dia pergi, huh... aku bersyukur dia tidak membunuhku", ucap tuan Feng.
Sedangkan Luo Ji dan putri Mei masih dalam pertarungan melawan orang bertudung hitam. BRAAK... Nan Mei menghantam pohon akibat serangan dari orang yang ia hadapi. "Uhuk...!". Seteguk darah keluar dari mulut Nan Mei.
"Putri... !". Luo Ji memalingkan fokusnya ke arah sang putri. Karena kecerobohannya ini lawannya mengambil kesempatan untuk menyerang Luo Ji.
Jluubb...
Perut Luo Ji tertusuk oleh pedang. Darah mencuar keluar dari bagian yang ditusuk itu. Ketika pedang ditarik seketika tubuh Luo Ji langsung jatuh ketanah.
"LUO JI.......!!". Nan Mei berteriak saat melihat Luo Ji yang terjatuh. Ia sedih jika harus kehilangan teman seperti Luo Ji.
Saat pedang akan menebas tubuh putri tiba-tiba datang seorang dari arah samping. "Apa yang kalian lakukan !!?", teriak orang itu.
'Sial kenapa ada orang yang datang !'. Karena orang yang datang berada di ranah Gold Core tingkat lima membuat kedua orang berjubah hitam itu terpaksa mundur.
Sedangkan orang yang berteriak tadi langsung menghampiri keadaan dua orang yang tergeletak. "Hei apa kamu bisa mendengar ku ?". Orang itu mencoba membangunkan Nan Mei dalam keadaan pingsan akibat Qi-nya yang terus terkuras.
Saat ini cuaca di dunia rahasia tengah mendung. Hujan gerimis jatuh turun membasahi Bai Long dan tanah yang ada disana. Saat ini Bai Long tengah berjalan-jalan dengan langkah kaki ringannya. Ia terus berjalan karena tidak ada monster yang pantas untuk ia lawan. Semua monster yang bertemu Bai Long akan lari karena merasakan perasaan bertemu dengan lawan yang tidak bisa dihadapi.
Bai Long memperhentikan langkahnya ketika mencium bau darah manusia."Darah ? Dari baunya sepertinya ini darah manusia".
Bai Long mengedarkan pandangannya untuk melihat apa yang tengah terjadi di sekitar. Saat ia tengah melihat dengan pandangan, mata Bai Long tiba-tiba terbuka lebar. Ia sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat.
Dengan menggunakan teknik gerakan cahaya Bai Long langsung bergegas mengarah ke lokasi yang ia lihat tadi. Sesampainya disana ia tanpa sadar langsung meneteskan air mata karena melihat situasi yang ada di depannya.
Kesedihan Bai Long rasakan didalam hatinya. Hujan turun membasahi tubuh Bai Long seakan langit juga merasakan apa yang tengah dirasakan olehnya.
Bai Long mulai berjalan mendekat ke arah orang yang tergeletak dan di simbahi oleh darah. Ia merangkul dan mengusapkan dahinya ke dahi orang yang sudah meninggal itu. Air mata terus mengalir dari mata Bai Long seperti keran air yang tidak berhenti menetes.
__ADS_1
"AAAAAHHHHH....!!!!!!!".