
Keadaan disana hening tanpa suara sedikitpun. "Apa kalian sudah mengkonfirmasi bahwa yang kalian bawa adalah harta karun ?", ucap tuan Feng dengan nada mencekam.
"Kami sudah mengkonfirmasinya tuan. Anak itu bilang hartanya ada didalam cincin penyimpanannya", jawab bawahan yang ada didepan tuannya.
Tuan Feng hanya tersenyum dan mulai mengeluarkan isi yang ada didalam cincin penyimpanan yang ia pegang.
KLONTANG... KLONTANG...
Banyak peralatan memasak yang keluar dan berjatuhan dari cincin itu. Wajan panci dan bumbu-bumbu berserakan disana. Semua bawahan tuan Feng melongo melihat barang-barang yang keluar didalam cincin itu.
"Apa kau menyuruh ku untuk memasak menggunakan semua ini !!", tuan Feng marah karena bawahannya tidak becus dalam menjalankan perintahnya.
"Aku menyuruh kalian membawa harta ! Kenapa kalian malah membawakan ku panci dan wajan !?". Tuan Feng marah sambil memukul kursinya.
Semua bawahan menundukkan kepalanya ke bawah. Mereka tidak tahu kalau cincin yang mereka bawa isinya adalah alat memasak.
"Kau maju kesini !", ucap Tuan Feng sambil menunjuk salah satu bawahan yang mengantarkan cincinnya tadi.
Tuan Feng mengambil toples merica yang tergeletak di hadapannya. Ia lalu menaburkannya di mata bawahan itu.
"AH.. MATAKU !!". Bawahan itu berteriak kesakitan. Matanya menjadi merah karena bubuk merica itu.
"Kalian semua tidak becus ! Cepat cari anak itu sampai ketemu ! Dan bawa dia kehadapan ku !". Semua bawahan tuan Feng kini pergi untuk mencari keberadaan dari Han Chen.
Hari ini matahari bersinar sangat cerah bagaikan sinar surga yang menyinari bumi. Han Chen sekarang tengah bersiap untuk pergi keluar bersama dengan kawan-kawannya itu yang bernama Luo Ji.
"Hei bro Long hari ini kita akan kemana ?", tanya Luo Ji.
"Hm.. entahlah aku tidak tahu. Kita jalan saja dulu kemungkinan ada hal yang menarik", jawab Bai Long.
Mereka keluar dan berjalan-jalan. Di sana entah mengapa terlihat banyak orang yang tengah mengarah ke lokasi yang sama. Mereka membicarakan tentang masalah peringkat di papan batu.
__ADS_1
"Hei apakah kau sudah dengar bahwa tadi malam ada seseorang yang naik tangga jiwa dan langsung menduduki peringkat nomor satu di papan batu".
"Apa ? Benarkah ?".
"Ya temanku tadi malam berada disana dan melihatnya secara langsung. Orang itu sepertinya merupakan siswa yang baru masuk. Sekarang semua orang tengah ramai untuk melihat namanya secara langsung apakaah kau juga ingin melihatnya ?".
"Kalau begitu ayo langsung kesana, aku juga ingin melihat siapa orang yang berhasil menduduki posisi pertama itu ?".
Luo Ji yang mendengar itu sedikit penasaran dan ingin melihat nama orang itu juga. "Hei bro Long apakah kau mendengarnya tadi ? Katanya ada orang yang berhasil menduduki peringkat nomor satu".
"Lalu memangnya kenapa ? Apakah kau juga ingin kesana ?", jawab Bai Long.
"Ah kenapa reaksimu biasa saja. Apakah kau tidak penasaran siapa orang itu ?", tanya Luo Ji.
"Nggak tuh"., jawab Bai Long dengan jelas.
"Tapi aku penasaran. Sudahlah ayo kita langsung kesana", ajak Luo Ji.
Sedangkan di kediaman ketua sekte.
"Ayah !! Aku ingin daftar semua murid yang baru masuk !", teriak seorang wanita dari arah pintu masuk. Wanita itu lalu langsung menghampiri ayahnya yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Putriku Xu Fei kenapa kamu di pagi hari teriak-teriak. Memangnya mau kamu apakan daftar murid baru itu ?", tanya ayah dari wanita itu.
"Aku ingin mencari orang yang telah mengambil harta yang ada di tangga jiwa !, jawab Xu Fei.
"Lalu setelah menemukannya mau kamu apakan anak itu ?", tanya ayah Xu Fei.
"Aku ingin menemui dan memarahinya. Beraninya anak itu bersikap tidak sopan dihadapan ku. Aku kan seniornya, sudah seharusnya aku menghajar anak yang semacam itu. Dia juga telah berbohong kepadaku, dia bilang bahwa harta yang yang ada di puncak tangga hanyalah sebuah batu". ucap Xu Fei.
"Eh... Xu Fei yang dikatakan anak itu benar dia tidak berbohong. Yang ada dipuncak tangga memang adalah sebuah batu tapi bukannya batu biasa melainkan batu spiritual yang berukuran cukup besar", ucap ayah Xu Fei.
__ADS_1
"Ha... ? Berarti ayah berbohong kepadaku. Kat ayah dipuncak tangga terdapat sebuah harta karun yang dapat meningkatkan kultivasiku". Xu Fei merasa dibohongi oleh ayahnya itu. Terlihat ekspresi kecewa di wajahnya.
"Kalau aku tidak bilang begitu kepadamu maka kamu tidak akan mau manaiki tangga itu", jawab ayah Xu Fei.
"Tapi tetap saja anak itu bersalah yang dia katakan hanyalah batu bukan batu spiritual !", ucap Xu Fei dengan tegas.
Ayahnya hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku anaknya ini. Xu Fei lalu mulai mencari nama Han Chen di daftar murid baru. Dia mencari Han Chen berada di kelas mana. Xu Fei terus mencari tapi ia tetap tidak menemukan juga nama anak itu di daftar murid baru. "Apa apaan ini kenapa tidak ada orang yang bernama Han Chen di daftar ini ?".
Sedangkan di depan daftar peringkat semua orang saling berkerumunan. Orang-orang sedang melihat nama Han Chen di papan batu itu.
"Siapa itu Han Chen, apakah kau mengenalnya ?".
"Tidak aku tidak mengenalnya. Dikelasku tidak ada orang yang bernama Han Chen".
"Di kelasku juga tidak ada orang yang bernama Han Chen. Aku tidak tahu siapa itu Han Chen, tapi yang jelas dia sangat beruntung karena bisa mendapatkan harta yang langka diatas sana".
Han Chen yang mendengar perkataan orang disebelahnya, ia menjadi kesal. 'Harta pantatmu ! yang kudapatkan hanyalah seonggok batu. Dan karena batu itu juga aku mendapat masalah tadi malam', gerutu Bai Long didalam pikirannya.
"Hei bro Long lihat kekasihmu juga datang kesini", ucap Luo Ji.
Bai Long melihat Ruo An tengah mengarah ke sini bersama dengan adiknya dan juga putri Mei. Entah kenapa putri Mei terlihat terburu-buru untuk mengarah kesini.
"Hei Ruo An apakah kamu kesini juga karena ingin melihat daftar peringkat ?", tanya Bai Long.
"Sebenarnya aku kesini karena diajak oleh putri Mei kemari. Dia sepertinya sangat antusia mendengar nama Han Chen yang ada di daftar peringkat", jawab Ruo An.
"Lalu apakah kamu hari ini senggang jika senggang maukah kamu jalan-jalan bersamaku dan hanya kita berdua saja", ajak Bai Long.
Mendengar itu muka Ruo An langsung memerah, ia tidak menyangka bahwa Bai Long akan mengatakan itu di kerumunan orang ini. Tapi Ruo An merasa senang karena di ajak oleh orang yang disukainya. "Emm... hari ini aku luang".
Han Chen merasa senang mendengar perkataan dari Ruo An. Meskipun terdengar sedikit klise tapi saat ini hati Bai Long berdegup-degup.
__ADS_1