
BLA... BLA... BLA...
Terdengar suara riuh orang yang berbicara. Pagi ini Bai Long dan Luo Ji sedang dalam perjalanan menuju ke kelas.
"Menurut peta tempat kita untuk melapor ada di depan. Tapi depannya depan mana ?". Luo Ji sedang melihat peta yang diberikan oleh senior Xiao Yu tadi malam. Selain memberikan peta, senior juga memberikan tanda pengenal untuk memasuki wilayah kelas.
Tidak lama kemudian. "Berhenti tunjukan identitas kalian !", ucap seorang pria besar yang menjaga pintu luar.
Bai Long mengeluarkan tanda pengenal yang diberikan oleh seniornya tadi malam. "Silakan".
"Mhm... kalian bisa masuk", ucap penjaga pintu.
Bai Long dan Luo Ji masuk, di sana Bai Long melihat Ruo An dan adiknya yang telah sampai duluan. Ada juga pangeran dan putri yang juga ada di sana.
"Bai Long !". Ruo An melambaikan tangannya untuk memberitahu lokasinya.
Bai Long dan Luo Ji menuju ke tempat Ruo An yang tengah memanggilnya tadi. "Ternyata kamu sudah sampai disini duluan ya. Tadi malam bagaimana apakah tidur kalian nyenyak ?", ucap Bai Long.
"Tadi malam tidur kami kurang nyenyak, kadang aku dan adikku terbangun karena suara berisik orang lain", ucap Ruo An.
"Kalau Kak Long dan Kak Ji bagaimana ?", tanya Ruo Ning.
"Oh.. tidur kami tadi malam sangat nyenyak, ya kan bro Long", jawab Luo Ji.
"Apakah Kak Long dan Kak Ji tidak terganggu dengan suara bising dari orang lain ?", tanya Ruo Ning.
"Aku dan Luo Ji tinggal di asrama swasta, jadi kami tidak akan mendengar suara berisik dari orang yang tinggal di asrama umum", jawab Bai Long.
__ADS_1
"Apakah kalian juga tinggal di asrama swasta ?", tanya sang pangeran.
"Ya kami tinggal di asrama swasta", jawab Bai Long.
"Kalau begitu bolehkah aku sesekali berkunjung ketempat kalian ? Kalian juga boleh berkunjung ke tempat ku. Aku tinggal di rumah nomor sembilan", ucap sang pangeran.
"Kalau begitu jika kami ada waktu maka kami akan berkunjung ke tempat anda pangeran", ucap Bai Long.
Tak lama kemudian datang seorang pria yang terlihat seperti tetua dari Sekte Nui.
"Dia datang !"
"Dia datang !"
Semua orang memalingkan perhatiannya menuju ke Tetua yang baru datang tadi. Tetua itu memiliki badan yang besar dengan wajah yang sudah keriput. Dia juga memiliki rambut dan janggut yang sudah berwarna putih.
"Gurunya sudah datang !", ucap Luo Ji.
"Hari ini aku akan mengajari kalian berlatih. Semuanya ikuti aku ke ruang latihan. Sebelah sini", ucap tetua Xu Ling.
Semua murid mengikuti tetua Ling untuk menuju ke ruang latihan. Karena namanya ruang latihan jadi tidak ada meja atau kursi disana, hanya ada ruangan yang kosong dengan alas lantai batu. Sesampainya di ruang latihan Bai Long duduk didekat Ruo An.
"Nah... dalam tiga minggu lagi sekte akan membuka dunia rahasia. Pembukaan ini di adakan setiap lima tahun sekali. Kalian dapat ikut berpartisipasi dalam acara itu. Di acara itu murid - murid akan memburu monster dan mengumpulkan inti mereka. Bagi yang masuk dalam peringkat sepuluh besar makan ia akan di promosikan menjadi murid dalam dan murid inti. Ini adalah kesempatan bagi kalian yang baru masuk agar bisa dipromosikan menjadi murid dalam.
Dan mulai hari ini kalian harus datang kesini tiga hari sekali untuk belajar. Aku akan mengajarkan kalian untuk meningkatkan kultivasi kalian.
Bla... bla... bla...", tetua Xu Ling menjelaskan bagaimana cara untuk meningkatkan kultivasi.
__ADS_1
'Hm... aku masuk sekte ini hanya untuk mengenal bagaimana cara kerja dan pendidikan sebuah sekte. Sedangkan untuk meningkatkan kultivasi, aku bisa membunuh beberapa monster dan menyerap energi kematian dari monster yang telah aku bunuh', batin Bai Long.
"Cukup untuk hari ini jika aku terus menjelaskan teori maka kalian pasti tidak akan paham. Sekarang kita akan praktek. Dalam tubuh setiap orang pasti memiliki kekuatan spiritual. Kita semua mengetahui untuk meningkatkan kekuatan spiritual maka kita hanya perlu menekan jiwa kita sampai ke titik terakhir. Tapi sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk meningkatkan kekuatan spiritual selain dengan kita menekan jiwa kita. Cara Lainnya yaitu dengan api spiritual". Tetua Xu Ling mulai membuat api spiritual di telapak tangannya. Api itu berukuran segenggam kepalan tangannya.
"Untuk menciptakan api spiritual kalian hanya perlu mengosongkan ranah jiwa kalian. Lalu fokuskan pikiran kalian ke telapak tangan. Semakin kuat api spiritual yang kalian bentuk maka kalian akan memiliki jiwa yang kuat. Nah sekarang sekarang kalian bisa mencobanya", ucap tetua Xu Ling.
Semua murid kini mencoba membuat api spiritual di telapak tangan mereka. Orang pertama yang berhasil membuat api spiritual adalah putri Mei. Api di telapak tangannya seukuran dengan tetesan air.
Pangeran Wu yang melihat adiknya berhasil membuat api spiritual, ia juga tidak mau kalah. Api spiritual yang dibuat oleh pangeran Wu juga seukuran tetesan air.
'Hm... sepertinya yang diharapkan dari keluarga kerajaan', batin tetua Xu Ling.
'Karena aku sudah memiliki teknik latihan jiwa, maka api spiritual yang aku buat juga bisa seukuran kepalan tangan. Tapi aku tidak mau menjadi menonjol sehingga diperhatikan oleh banyak orang. Itu akan membuatku mendapat masalah jika banyak orang yang memperhatikanku', pikir Bai Long.
Sementara itu Luo Ji di terus konsentrasi dan memfokuskan pikirannya ke telapak tangan. Luo Ji mencoba fokus membuat api tapi ia tetap tidak bisa, sekarang dipikirannya malah terbayang seorang wanita mandi yang sedang ia intip.
"Sekarang aku tahu kenapa kultivasiku macet diranah Fondation tingkat tiga. Sepertinya karena hawa nafsuku sendiri, he... he... he...", Luo Ji tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Tempat duduk Luo Ji disebelah kanan Bai Long. Sehingga Bai Long mendengar apa yang di ocehkan temannya itu.
"Kenapa kamu merasa bangga sendiri, bukankah itu cuma keinginan duniawi. Aku beritahu ya, jika pikiranmu tidak jernih, maka kamu tak akan bisa membentuk api spiritualmu", ucap Bai Long memberitahu Luo Ji yang ada di kanannya.
"Hmph... memangnya kamu sendiri bisa melakukannya ? Bukankah kamu juga terus memikirkan Ruo An ?", ucap Luo Ji membalas perkataan dari Bai Long.
Ruo An yang tempat duduknya disamping kiri Bai Long, ia menjadi malu karena mendengar Luo Ji mengatakan kalau Bai Long terus memikirkannya. Sedangkan Bai Long terdiam mendengar perkataan dari temannya itu. Meskipun perkataan dari Luo Ji memang benar sih.
Bai Long mulai membentuk api spiritual di telapak tangannya, untuk membuktikan bahwa ia bisa membentuk api spiritual. Api spiritual yang ia bentuk juga seukuran tetesan air.
__ADS_1
"He... He... He... bagaimana menurutmu bro Ji !?", ucap Bai Long sambil memamerkan api ditangannya itu.