
Setelah itu Han Chen segera turun ke bawah bersama dengan Cu Fei. Saat sampai di bawah tiba-tiba tangan Cu Fei terasa ditarik oleh seseorang. Cu Fei segera berbalik dan melihat siapa orang yang menarik tangannya.
"Lulu ?!" Cu Fei segera melepaskan tangannya yang ditarik oleh pelayannya itu.
"Nona ayo cepat pergi ! Orang itu berbahaya". ucap Lulu sambil kembali meraih tangan nonanya.
"Tidak Lulu. Meskipun yang kamu lihat ini memang benar, tapi kamu tidak tahu mengapa dia melakukan ini kan ?" ucap Cu Fei.
Han Chen memaklumi pelayan Cu Fei yang tidak tahu apa-apa itu. Kemudian Han Chen berjalan mendekat ke arah mereka.
"Xu Fei apakah ini adalah pelayan yang kamu katakan itu ?" tanya Han Chen sambil melihat ke arah pelayan Xu Fei.
"Benar nona", jawabnya dengan pelan.
Lulu memegang erat tangan Cu Fei, saat Han Chen berada di hadapan mereka. Lulu berjaga-jaga untuk melindungi nonanya sewaktu-waktu kalau Han Chen menyerang mereka.
Han Chen hanya tersenyum melihat pelayan Cu Fei yang begitu setia kepada nonanya itu.
"Kau mempunyai orang yang baik yang berada di sisimu. Ketahuilah bahwa tidak mudah untuk mencari seseorang yang seperti itu", ucap Han Chen sambil memandang pelayan Cu Fei.
Cu Fei yang mendengar itu ia lalu melihat ke Lulu. Terlihat wajah Lulu yang begitu waspada terhadap orang di depannya. Cu Fei lalu membalas pegangan Lulu dengan erat juga.
"Nona". Lulu merasa senang dengan sikap nonanya ini.
Han Chen hanya tersenyum melihat adegan didepannya. "Hahaha... baiklah karena kediaman penguasa kota telah hancur, aku penasaran dimana kalian akan tinggal ?"
"Em... karena aku sudah tidak punya rumah mungkin aku akan tinggal bersama dengan Lulu", jawab Cu Fei.
Han Chen melihat kalau umur Lulu hanya terpaut dua tahun dengan Cu Fei. "Apakah Lulu mempunyai keluarga ?"
"Saya anak yatim piatu. Saya tidak mempunyai keluarga atau orang yang saya kenal selain nona Cu Fei yang saya layani", jawab Lulu.
Setelah mendengar jawaban dari Lulu, Han Chen lalu berpikir sebentar. "Ah... aku mempunyai ide yang lebih baik. Bagaimana kalau kalian masuk ke Sekte Pheng saja ? Di sana kalian akan memiliki tempat untuk tinggal dan kalian tidak perlu khawatir akan makanan".
Mereka berdua yang mendengar itu langsung merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Han Chen.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kami bisa masuk Sekte Pheng ? Saya tidak mempunyai bakat karena saya tidak bisa merasakan Qi sekitar. Selain itu pendaftaran untuk calon murid baru juga belum dibuka", jawab Cu Fei.
"Kau tidak perlu khawatir. Serahkan saja padaku. Tapi sebelum itu bisakah kau mendekat kemari ?" ucap Han Chen.
Cu Fei lalu berjalan mendekat ke arah Han Chen. Saat dia sudah di depan Han Chen, Han Chen lalu menyentuh dahi Cu Fei bermaksud membuka saluran Qi yang tertutup di tubuh Cu Fei.
Cu Fei merasakan sebuah gelombang energi yang masuk ke dirinya. Gelombang itu membantunya merasakan Qi yang selama ini tidak bisa ia rasakan.
"Jadi apa ini yang dimaksud dengan Qi ?". Sekarang Cu Fei sudah bisa merasakan energi Qi setalah dibantu oleh Han Chen.
"Velkhana keluarlah !" Han Chen memanggil Velkhana.
Samar-samar dari udara kosong muncul seekor naga putih yang sangat besar. Nanga itu menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada tuannya.
"Antar mereka berdua ke Sekte Pheng ! Suruh ketua sekte untuk menerima mereka sebagai murid !" ucap Han Chen.
Velkhana lalu merendahkan tubuhnya agar Cu Fei dan Lulu bisa naik ke punggungnya.
"Naiklah ! Hewanku akan mengantar kalian untuk sampai ke Sekte Pheng", ucap Han Chen ke mereka berdua.
"Baiklah sudah saatnya aku membasmi sekumpulan kecoak itu". Han Chen segera pergi menuju tebing yang dipakai sebagai tempat persembunyian kelompok pembunuh.
Dengan cepat dia sudah sampai di depan tebing. Han Chen merubah dirinya kembali ke bentuk pria. Ia lalu mengeluarkan cincin yang dipakai sebagai kunci untuk masuk. Setelah pintu terbuka Han Chen segera masuk kedalam.
"Hahaha... hei kalian para semut mari kita berpesta", ucap Han Chen dengan keras.
"Bocah tengik apa kau tahu tempat apa ini ?" ucap salah satu pembunuh yang marah.
"Bukankah ini tempat pesta ?" jawab Han Chen.
Tanpa basa basi Han Chen langsung menyerang mereka dengan membabi-buta. Seluit bulan terus keluar dari pedang yang terus Han Chen ayunkan.
"Kalian semua bunuh orang gila itu !" ucap pemimpin mereka.
Semua orang langsung menyerang Han Chen dari berbagai arah.
__ADS_1
"Hahaha.... bagus ! Bagus sekali !" ucap Han Chen.
Han Chen menghindari serangan lalu menebas mereka. Menghindar tebas menghindar tebas. Terus berulang-ulang sampai semuanya terbunuh dan hanya menyisakan satu orang yang masih hidup.
Han Chen mengacungkan pedang ke arah orang yang disebut sebagai pemimpin itu. "Sekarang adalah giliranmu !" ucap Han Chen sambil tersenyum.
"Apa kau masih punya kata-kata terakhir ?" tanya Han Chen.
Pembunuh itu marah. "Aku sebagai seorang pembunuh tidak akan takut walau di depanku adalah jurang sekalipun !" ucapnya.
Pembunuh itu menyatukan kedua tangannya. Seketika keluar seekor ular hitam dengan taring yang di penuhi racun hijau mematikan.
SSSHH...
Ular itu mendesih seperti sedang memberi peringatan ke Han Chen.
"Bunuh dia !" ucap pembunuh sambil menunjuk ke Han Chen.
Ular hitam langsung menuju ke arah Han Chen. Membuka rahangnya dan bersiap menggigit Han Chen.
Han Chen tersenyum. Ia dengan cepat langsung membelah ular itu menjadi dia bagian. Ular itu langsung mati seperti sebuah tali yang di urai menjadi dua.
Sekarang Han Chen berada tepat di depan pembunuh. Dia menatap pembunuh itu dengan kuat. "Aku tanya kau. Apakah ini adalah organisasi utama kalian ?!"
"Aku tidak akan memberitahumu" (ciuh) Pembunuh itu meludahi wajah Han Chen.
"Bajingan !" Han Chen langsung memukul wajah pembunuh itu dengan keras. Kepala pembunuh itu langsung hancur akibat pukulan kuat Han Chen dan tubuhnya langsung jatuh dengan darah yang mengalir di tanah.
"Cih" Han Chen mendecih karena kesal. Ia lalu segera membasuh wajahnya dengan elemen air miliknya.
"Terpaksa aku harus mencari petunjuk yang ada di tempat ini", ucapnya dengan nada kesal.
Ia lalu menggeledah seluruh tempat ini. Setelah ia geledah Han Chen menemukan beberapa surat permohonan untuk membunuh orang. Di salah satu surat yang Han Chen lihat juga ad surat permohonan untuk membunuh Han Chen waktu dulu.
"Han Dong tunggulah aku ! Aku pasti akan membunuhmu !" ucap Han Chen dengan benci.
__ADS_1
Han Chen lalu memeriksa surat lain. Setelah beberapa lama memeriksa ia akhirnya menemukan surat yang berasal dari Kerajaan.