Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Bertemu Penguasa


__ADS_3

"System tampilkan data dari monster itu !" perintah Han Chen kepada System.


[Nama : Golgota


Usia : 416 - 478


Ranah : True God]


"Mereka semua berjumlah tujuh belas ekor dan dan mereka semua berada di ranah True God, sedangkan pemimpin mereka hampir mencapai ranah Half God !" ucap Han Chen.


"Karena hari ini sudah makam, aku mempunyai kesempatan untuk membunuh mereka dengan teknik bayanganku". Han Chen segera mengganti pedangnya dengan belati bayangan yang ada di Inventory-nya.


Keadaan di dalam hutan itu sungguh senyap. Ketua dari para Golgota merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka. "Kalian semua bersiaga ! Sepertinya ada sesuatu yang mengintai kita dari tadi".


Semua Golgota segera membentuk lingkaran menghadap ke arah yang berbeda-beda. Mereka waspada jika ada sesuatu yang menyerang mereka. Ketua Golgota melihat sebuah bayangan yang bergerak dengan sangat cepat, ia mulai menembakkan beberapa api ke arah bayangan itu.


Api yang ditembakkan ketua Golgota menembus bayangan itu dan tidak melukai bayangan itu sedikit pun.


CRUSH !!


Satu monster Golgota tumbang dengan tubuh yang sudah berdarah. Ketua yang melihat anak buahnya tumbang, ia segera memberitahu bawahannya untuk menembak ke sekeliling agar bayangan itu bisa menunjukkan wujudnya. "Semuanya tembakkan api ke sekeliling kalian !"


Meskipun semua Golgota sudah menembakkan api ke sekeliling mereka, para bawahan ketua itu tetap mati satu persatu. Ketua Golgota menjadi marah karena melihat para bawahannya mati tanpa tahu jelas siapa musuh yang telah menyerang mereka. "Siapa kau ? Tunjukkan wujud mu pengecut !"


Setelah semua bawahan ketua Golgota mati dan hanya tinggal ketua itu saja, bayangan hitam itu mulai menunjukkan wujudnya. Bayangan itu lama-lama menjadi pekat hingga menampakkan wujud Han Chen.


"Akhirnya kau menampakkan wujud mu. Dasar pengecut, kau hanya berani menyerang saat semua bawahan ku mati !" ucap Golgota.


"Hei... bukankah kau juga sama. Kau hanya bisa main keroyok dengan membawa para bawahan mu", ucap Han Chen.


Golgota langsung mengayunkan cakarnya ke arah Han Chen. Cakar Golgota dilapisi oleh api yang sangat panas, sehingga dengan sekali ayunan dari cakarnya mampu membuat lawannya langsung terbunuh.


Han Chen segera menghilang menjadi kumpulan asap hitam untuk menghindari cakar dari Golgota. Setiap Golgota mengayunkan cakarnya Han Chen selalu saja menghilang hingga membuat Golgota menjadi marah.


"Bajingan pengecut kalau berani terimalah seranganku jangan menghindar terus !" ucap Golgota.


Dari arah samping Han Chen muncul dan langsung menendang tubuh Golgota hingga menghantam sebuah pohon. "Kau bilang aku pengecut, kau sendiri yang tidak bisa mengenaliku kenapa harus aku yang kamu salahkan ?"

__ADS_1


Golgota bangun dengan kondisi tubuh yang masih sulit untuk bergerak. "Aku akan membalaskan dendam para bawahan ku dengan memakan mu !"


"Kusarankan kau sebaiknya makan daging dari monster Apceros. Daging monster itu sungguh enak bahkan aku sampai menjadi pecinta dari dagingnya", ucap Han Chen.


"Bajingan kau aku akan membunuhmu dan memakan mu !" Golgota itu kini menjadi agresif. Ia terus menyerang Han Chen dengan cakarnya yang tajam dan dilapisi oleh api.


Han Chen menangkis serangan Golgota dengan kedua belati bayangannya. Pertarungan itu diakhiri dengan kekalahan Golgota. Saat ini Golgota tengah terjatuh ketanah dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Aku tanya kau. Siapa penguasa dari wilayah ?" tanya Han Chen.


"Kenapa kau menanyakan itu ? Bukankah semua makhluk yang ada disini sudah tahu kalau penguasa wilayah disini adalah Gore Magala", ucap Golgota dengan raut wajah kesakitan.


"Dimana aku bisa menemukan Gore Magala itu ? Dan beritahu aku seberapa kuat Gore Magala itu !" ucap Han Chen.


"Kau bisa menemukan Gore Magala itu di hutan terkutuk yang berada di sebelah barat. Untuk kekuatan Gore Magala. Dia sudah berada di tingkat Half God", ucap Golgota.


"Baiklah kau sudah tidak ku butuhkan, selamat tinggal !" Han Chen membunuh Golgota dengan belatinya.


Sudah satu bulan Han Chen berada di dalam hutan. Han Chen sudah membunuh ribuan monster yang ada di sana sampai semua monster yang ada di wilayah itu mendengar kabar kalau ada sosok makhluk yang terus membunuh monster lain saat berpapasan dengannya.


"Apakah kau sudah dengar kalau ada yang membuat onar di wilayah tuan kita", ucap monster yang mirip badak.


"Sebaiknya kita segera memberitahu tuan tentang masalah ini", ucap monster yang seperti kerbau.


"Kau benar", jawab monster yang seperti harimau.


Kedua monster itu saat ini berlari menuju ke lokasi tuan mereka berada. Saat sampai disana terlihat sosok yang besar hampir sebesar gunung Everest tengah tidur dengan tenang.


"Tuan, gawat tuan. Ada makhluk yang sedang mengacau di wilayah anda ! Dia sudah membunuh ribuan monster yang menghuni hutan kuno. Kalau ini terus dibiarkan maka bisa-bisa mahkluk itu akan menyebabkan kekacauan di hutan tuan berada", ucap monster yang mirip badak.


"Kalau begitu bawa dia kehadapanku ! Katakan padanya kalau aku penguasa wilayah ingin berbicara dengannya !" ucap tuan mereka.


"Baik tuan. Kami akan segera melakukan perintah anda. Kami pastikan kalau pengacau itu akan kami seret kehadapan tuan !" ucap monster yang mirip harimau.


Kedua monster itu segera pergi dari hadapan tuannya. Saat ini kedua monster itu tengah mencari dimana si pengacau itu berada.


Disisi lain sekarang Han Chen sedang menambang kristal spiritual yang tidak sengaja ia temukan di dalam sebuah gua. Kristal spiritual itu berukuran sangat besar bahkan lebih besar dari batu yang Han Chen dapatkan saat berada di tangga jiwa.

__ADS_1


"HA... HA... HA... aku sungguh beruntung menemukan tempat tambang batu kristal spiritual ini. Selain dapat meningkatkan kekuatan aku juga dapat meningkatkan jumlah hartaku". Han Chen terus menambang dan menambang sampai seluruh batu spiritual yang ada di dalam gua itu habis.


Kedua monster itu tengah mencari sosok yang sudah membuat onar di wilayah tuan mereka. Tapi anehnya mereka tidak menemukan sosok itu walaupun mereka sudah berkeliling ke wilayah yang terdapat banyak monster.


"Aneh, seharusnya kita bisa dengan mudah menemukannya. Tapi kenapa kita tidak melihat sesuatu yang bising di sepanjang jalan ?" tanya monster yang seperti badak.


"Aku tidak tahu. Mungkin dia mendengar kabar kalau kita tengah mencarinya untuk membawanya kehadapan tuan", ucap monster yang seperti harimau.


Untuk menambang habis kristal spiritual itu Han Chen harus menghabiskan waktu empat hari di dalam gua. "Aiyo sudah saatnya aku hunting monster lagi. Ngomong-ngomong kearah mana kali ini aku akan Hunting ?"


Han Chen mengedarkan Qi-nya dari arah utara ia melihat sekelompok monster tengah berkerumun. "AHA... baiklah kali ini aku akan pergi ke arah utara". Han Chen melesat menuju ke arah berkumpulnya monster itu.


"Hei lihat bukankah itu adalah si pembuat onar ! Cepat beritahu bos !" Saat sekelompok monster itu melihat Han Chen, mereka langsung berlari ke arah barat dengan sangat cepat.


"Hmm... ? Apa yang terjadi dengan mereka ?" Han Chen berlari mengikuti para monster itu. Saat tengah mengikuti para monster ia melihat di depan ada dua ekor monster yang sedang menuju ke arahnya.


"Apakah kau si pembuat onar itu ?" ucap monster yang seperti badak.


"Tuan kami menyuruh kami untuk membawamu menghadapnya !" ucap monster yang seperti harimau.


"Siapa tuan kalian ?" Han Chen mempunyai firasat buruk saat ini.


"Ikuti kami ! Jika kamu tidak mengikuti kami, maka tuan akan mengambil tindakan terhadap apa yang sudah kamu perbuat selama ini !" ucap monster yang seperti badak.


Mau tak mau Han Chen harus mengikuti kedua monster itu menuju tempat tuan mereka berada. Setelah sampai ternyata tempat tuan mereka berada adalah di hutan terkutuk. Hutan dimana sang penguasa wilayah berada.


Han Chen melihat sosok yang besar tengah menatapnya dengan tajam.


Sedangkan disisi lain dunia kultivator alam rendah. Ruo An dan Ruo Ning sudah lulus dari Sekte Nui. Sekarang mereka sedang berada di rumah mereka.


"Kakak apakah ini tidak papa bagimu ? Biarkanlah aku yang menggantikan tempat kakak", ucap Ruo Ning yang mengkhawatirkan kakaknya.


"Aku tidak papa adik. Ini sudah tanggung jawab kakak sebagai seorang anak", ucap Ruo An.


"Putriku apakah kamu sudah siap ?" tanya ibu Ruo An.


"Aku sudah siap ibu !" Ruo An langsung menghampiri ibunya.

__ADS_1



__ADS_2