
Di depan papan batu terlihat Ruo An, Ruo Ning, dan juga putri Nan Mei yang sedang melihat daftar peringkat.
"Hei kakak lihat sepertinya Kak Ji sedang menaiki tangga", ucap Ruo Ning sambil menunjuk nama Luo Ji yang terus bergerak naik ke atas.
"Sepertinya begitu", jawab Ruo An.
Nan Mei merasa heran karena melihat tingkah Ruo An yang sepertinya sedang mencari-cari nama orang di daftar peringkat itu.
"Kamu sedang mencari nama siapa ?", tanya Nan Mei kepada Ruo An.
"Em.. aku sedang mencari nama Bai Long, karena jika Luo Ji sedang disana seharusnya Bai Long juga ada disana", ucap Ruo An.
"Eh.. apakah segitunya kakak merindukan kak Long ? Padahal kemarin kakak baru saja ketemu sama Kak Long dan sekarang kakak sudah ingin ketemu lagi sama kak Long", ucap Ruo Ning yang menggoda kakaknya.
"Apa sih, bukan begitu tahu", ucap Ruo Ning yang mencoba menyangkal pernyataan adiknya ini.
"Kalau memang apa yang kamu katakan itu benar berarti dia kemungkinan disana. Lebih baik kita juga ikut kesana, karena aku juga ingin menaiki tangga itu", ucap Nan Mei.
Mereka bertiga kini menuju ke lokasi tangga jiwa. Setelah sampai disana terlihat banyak banyak orang yang tengah berlatih di anak tangga. Hanya Bai Long yang masih di bawah dan tidak ikut naik.
"Bai Long !". Terdengar suara Ruo An yang tengah memanggil Bai Long.
Bai Long menoleh ke arah suara yang sudah tidak asing di telinganya. Ia melihat tiga orang gadis yang tengah menuju ke arah dirinya.
"Ruo An, Ruo Ning, dan juga putri Mei", ucap Bai Long. Ketiga gadis itu kini telah berada di hadapannya.
"Kenapa kamu tidak ikut naik bersama dengan Luo Ji", tanya Ruo An.
__ADS_1
"Ah... aku hanya tidak ingin naik sekarang saja. Ngomong-ngomong apakah kalian kesini juga ingin mencoba menaiki tangga ini ?", tanya Bai Long mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kami juga ingin mencoba menaiki tangga ini. Sebenarnya aku dan adikku di ajak oleh putri karena katanya ada tempat yang menarik", ucap Ruo An.
"Oh ya, aku tidak tahu kalau kalian seakrab ini", ucap Bai Long.
"Sebenarnya aku tidak sengaja bertemu dengan Ruo An dan Ruo Ning di dalam hutan. Kebetulan saja aku menjalankan misi yang sama dengan mereka", ucap Nan Mei.
Orang-orang menjadi iri karena melihat Bai Long tengah dikerubungi oleh tiga orang gadis. Terutama saat mereka melihat ada putri Nan Mei diantara ketiga gadis itu.
"Terkutuklah bocah itu beraninya dia berbicara dengan si putri saat tengah berada didepan banyak orang !", ucap orang yang berbaju hijau.
"Apa hebatnya dia yang bahkan tidak bisa menaiki satu anak tangga pun !", ucap orang berbaju ungu.
'Rasakan itu Bai Long. Semua orang saat ini tengah mengutukmu ! Bukankah rasanya enak mendengar itu di telingamu !?', batin Tang Zhan yang sedari tadi sudah berlatih di anak tangga.
"Kalian semua tidak berhak mencaci Kak Long !". Ruo Ning menjadi kesal mendengar perkataan dari beberapa orang.
Ruo An mendecih kesal melihat pria yang disukainya di emoh oleh banyak orang. Bai Long yang melihat itu hanya tersenyum, ia lalu mengusap kepala Ruo Ning sambil tersenyum. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, bukankah kamu kesini karena ingin mencoba menaiki tangga jiwa".
"Baiklah aku naik dulu". Ruo An tersenyum kepada Bai Long lalu pergi menaiki tangga jiwa. Putri Nan Mei juga ikut menaiki tangga jiwa sedangkan Ruo Ning masih dibawah bersama Bai Long.
"Hm... kenapa kamu tidak ikut kakakmu menaiki tangga ?", tanya Bai Long.
"Aku hanya tidak ingin satu tangga dengan sekelompok orang kotor seperti mereka !", jawab Ruo Ning.
"Haha... baiklah kalau begitu kita tunggu disini saja sampai mereka selesai", ucap Bai Long. Dia menunggu kawan-kawannya itu sampai selesai latihan.
__ADS_1
Sesaat Bai Long berpikir tentang apa yang ada di puncak tangga. 'Aku merasakan bahwa ada sesuatu yang sedikit menarik di atas sana. Apakah tangga ini seperti sebuah tantangan untuk semua orang ?', pikir Bai Long.
Sedangkan di anak tangga ke seratus dua puluh satu. "Huf... sepertinya ini adalah batasku. Aku sudah tidak bisa naik lagi, karena setiap aku ingin naik aku akan didorong untuk kembali. Kalau aku mencoba memaksa maka aku sendiri yang akan terpental", ucap Luo Ji.
Luo Ji sekarang menuruni anak tangga dan mengarah ke tempat Bai Long dan Ruo Ning berada. "Aku hanya bisa sampai ke anak tangga seratus dua puluh satu", ucap Luo Ji.
"Tidak papa itu sudah bagus karena kamu bisa masuk dua ratus teratas", ucap Bai Long.
"Ya kak Ji, itu sudah bagus kok. Kakak sudah bekerja keras hingga bisa sampai ke daftar dua ratus teratas !", ucap Ruo Ning yang menyemangati Luo Ji.
Tak lama kemudian datang senior Yu dari arah tangga. Terlihat raut wajah dari senior Yu yang sedikit kecewa.
"Ah senior Yu apakah senior berhasil ?", tanya Bai Long meskipun dia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh senior itu.
"Aku masih belum bisa dan masih berada pada anak tangga yang sama", ucap senior Yu sambil menggelengkan kepala.
"Ngomong-ngomong ini siapa ?", tanya senior Yu yang melihat seorang gadis di sebelah Bai Long.
"Ah ini perkenalkan namanya adalah Ruo Ning. Dia yang waktu itu aku ceritakan sama senior saat dalam perjalanan. Ruo Ning ini adiknya Ruo An hadis yang baru saja menaiki tangga tadi", ucap Bai Long.
"Halo senior salam kenal". Ruo Ning memberi salam kepada senior itu.
"Ah ya salam kenal", jawab senior Yu.
Mereka berempat saling bicara sambil menunggu Ruo An selesai dalam latihannya. Waktu cepat berlalu disana sampai-sampai matahari sudah mencapai puncak terangnya. Ruo An dan si putri juga sudah menyelesaikan latihan sehingga mereka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan.
Agar lebih mudah senior Yu berperan sebagai pemandu dan menunjukkan tempat-tempat yang perlu diketahui oleh murid baru. Tempat yang paling menarik yang ditunjukkan oleh senior adalah laut dewa.
__ADS_1
Di laut dewa terdapat endapan aura langit dan bumi yang menggumpal menjadi sebuah batu spiritual. Memang biasanya batu spiritual didapatkan melalui tambang batu spiritual, tapi kualitas dari batu yang ditambang tidak sebagus dengan batu yang ada di laut dewa.
Setelah turnya cukup mereka kini berpisah dan kembali ke asrama masing-masing.