Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Pembalasan Dendam


__ADS_3

"Ayah apakah tidak papa jika kita membiarkan masalah ini ?" Xu Fei masih merasa resah karena situasi ini menyangkut nama baik Sekte Nui.


"Ayah sudah menyuruh beberapa tetua untuk menyelidiki siapa orang yang telah mengincar nyawa sang putri ! Kamu tenang saja karena ini didalam sekte mereka tidak akan berani berbuat macam-macam !". Ayah Xu Fei mengusap kepala anaknya.


"Sekarang kamu pergilah ! Ini sudah malam dan ayah harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menumpuk di atas meja", ucap Ayah Xu Fei.


Xu Fei lantas langsung pergi keluar dari ruang kerja ayahnya. Dia berjalan dijalanan untuk menenangkan pikirannya. "Semoga tidak terjadi hal buruk yang bisa menimpa sekte ini".


Xu Fei memandang langit. Langit yang ia pandang hari ini sangat gelap tanpa adanya cahaya bintang. Hanya cahaya bulan yang terlihat menyinari langit malam itu.


Dari arah Timur Xu Fei tidak sengaja melihat sebuah seluit. Seluit yang ia lihat kali ini berwarna abu-abu beda dengan seluit ia lihat saat berada di dunia rahasia. "Apa itu ? Sepertinya ada yang tidak beres".


Xu Fei langsung berlari mengikuti arah seluit itu pergi. Meskipun kecepatan Xu Fei lambat tapi ia sudah tahu kemana arah seluit itu pergi.


"Putri kenapa anda mengajak kami ? Apakah kami tidak mengganggu waktu putri dan pangeran ?" ucap Nan Mei. Dia dan adiknya tidak tahu kenapa sang putri menyuruh mereka juga ikut ke ketempat pertemuan.


"Tidak oapa, karena kakak juga menyuruhku untuk membawa kalian. Mungkin kakak berpikir keadaan kurang baik sehingga aku harus ditemani saat kesana !" ucap Nan Mei.


Di taman tengah malam, Tang Zhan sedang menunggu kedatangan Bai Long sambil bersembunyi. "Kenapa bocah itu belum datang juga. Ini sudah lebih dari sejam aku menunggu !"


"Apa kau mencari ku ?" ucap Han Chen dengan nada dingin.


Tang Zhan yang mendengar suara Bai Long dari belakang lantas ia langsung berbalik. Setelah menghadap kebelakang Tang Zhan melihat seorang pria yang mengenakan topeng rubah. Pria itu tengah jongkok di atas batu yang cukup besar dan tinggi. Dengan mata yang bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan mengisyaratkan kalau dirinya tengah menjadi Mansa binatang buas.


"Apa ? Siapa kau ?" tanya Tang Zhan kepada pria asing itu.


Han Chen tidak menjawab pertanyaan dari Tang Zhan. Ia segera mengeluarkan pedang hitam dari sarung yang ada di punggungnya.


SSHEING...


Suara tarikan pedang terdengar oleh telinga Tang Zhan. "Apa !? Apa yang ingin kau lakukan ? Apa kau ingin membunuhku !?" Tang Zhan tidak bisa melakukan apapun selain lari, karena lawannya berada di tahap Soul Wendering tingkat tiga.


Tang Zhan langsung lari dari pria dihadapannya, tapi sayang usaha Tang Zhan tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Punggung Tang Zhan ditebas oleh Han Chen.


CRAAUKS....


Suara cipratan darah terdengar dari tebasan yang Han Chen lakukan. Setelah selesai mengurus Tang Zhan, Han Chen lalu pergi ke arah asrama pangeran.


"Apakah orang itu pergi kearah sini ?" sedari tadi Xu Fei mengikuti arah Han Chen pergi. Tapi karena kecepatannya yang tidak sama, Xu Fei kehilangan jejak dari orang itu.


Xu Fei terus bergerak sampai ia melihat ada seseorang yang telah terbunuh. "Apa yang telah terjadi disini ?! Apa ini ulah orang yang aku ikuti tadi ? Apa mungkin orang itu juga yang mengincar nyawa putri ? Aku harus segera melaporkan ini ke ayah !" ia lalu pergi menuju ke tempat ayahnya berada.


Han Chen saat ini sudah ada di asrama pangeran.


"Hah setelah rencana ini berhasil maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang bisa mewarisi tahta !" Nan Wu duduk di kursi sambil menatap bulan sabit yang bersinar terang.


Tiba-tiba ia merasakan hawa kehadiran yang kuat disekitarnya. "Siapa itu !? Keluar kau !!"


Han Chen langsung keluar dari balik pintu. Ia lalu menarik pedangnya dari sarung pedang yang ada di punggungnya.


Nan Wu melihat kalau pedang yang ditarik pria itu sudah dilumuri oleh darah orang lain. "Jika kau membunuhku maka kau tidak akan bisa selamat dari kejaran ayahku !" ucap Nan Wu dengan nada yang takut.


"Jika kau segitu takutnya dengan kematian kenapa kau tega membunuh orang ? Teman yang sudah aku anggap sebagai keluarga sudah mati karena kalian bunuh ! Hanya untuk mencapai posisi tahta kau bahkan tega ingin membunuh adikmu !" Han Chen mengayunkan pedangnya. Seketika tangan Nan Wu langsung terpotong.


"AKH... BAJINGAN KAU !! JIKA KAU BERANI MEMBUNUHKU MAKA AYAHKU AKAN LANGSUNG DATANG KE SEKTE INI DAN LANGSUNG MEMBUNUHMU BESERTA SELURUH KELUARGA MU !!"


SLUUSSHH...


Kepala Nan Wu langsung lepas dari badannya. Darah mencuar keluar kemana-mana membasahi lantai kayu yang bersih tadi.

__ADS_1


"KAKAK... !!" Nan Mei terkejut melihat kakaknya yang sudah tak bernyawa.


Han Chen langsung menoleh ke arah kanan. Di sana dia melihat tiga orang wanita yang sedang memandangnya dengan perasaan takut.


Nan Mei segera melangkah maju untuk meminta penjelasan dari orang yang telah membunuh kakaknya.


"Putri jangan kesana !!"


"Orang itu berbahaya putri !!"


Peringatan dari Ruo An dan Ruo Ning tidak didengar oleh Nan Mei. Nan Mei tetap melangkah maju mendekati pria itu.


"Aku ingin meminta penjelasan kenapa kau tega melakukan hal kejam ini kepadaku !" Nan Mei tahu kalau perbuatan orang ini pasti ada alasannya karena ia pernah ditolong olehnya.


"Kau sungguh bodoh karena tidak mengetahui siapa musuhmu ! Seharusnya kau berterimakasih kepadaku karena aku telah membereskan orang yang terus mengincar nyawamu !" ucap Han Chen.


Di tempat ruang singgasana terlihat Raja dan Ratu tengah duduk santai.


KRATAK...


Terdengar suara retak dari bola kehidupan milik Tang Zhan. Bola itu retak dan langsung padam tidak menunjukkan cahaya lagi.


"Tang Zhan !!" Ibu Tang Zhan langsung panik melihat bola yang mewakili kehidupan putranya retak dan padam.


"Pangeran sudah mati !?" ucap salah satu mentri yang ada disana.


"Siapa yang berani membunuh putraku !! Kalian semua beritahu semua jendral untuk pergi bersiap menuju ke Sekte Nui !" perintah Raja para mentri yang ada di ruangan itu.


Sang Raja lalu melihat rekaman yang ada di bola itu sebelum ia berangkat ke Sekte Nui. Di saat-saat terakhir putranya mau terbunuh terlihat orang yang mengenakan topeng. Orang itu terlihat sedikit bercakap-cakap setelah itu dia langsung memenggal kepala putranya.


"Sayang kamu harus membalaskan dendam putra kita !" Sang Ratu menangis melihat rekaman tadi.


Setelah selesai mengurus Tang Zhan Han Chen segera pergi keluar lewat jendela. Han Chen berniat untuk menyambut kedatangan Ayah dari si Tang Zhan. Dia pergi dengan terbang dan meninggalkan tiga orang wanita yang masih berada dibawah sana.


Nan Mei, Ruo An, dan Ruo Ning tidak fokus mendengarkan apa yang dikatakan pria bertopeng tadi. Mereka malah fokus ke suara pria itu.


"Apakah tadi itu Bai Long ?" ucap Ruo An.


"Apa yang kakak pikirkan. tidak mungkin orang itu adalah Kak Long. Jelas-jelas ranah mereka berbeda. Bagaimana mungkin orang yang membunuh pangeran adalah Kak Long", ucap Ruo Ning.


Saat ini Han Chen tengah berada di luar area Sekte Nui. Dia sedang menunggu kedatangan pasukan kerajaan yang akan segera sampai untuk membalas dendam.


Dari arah belakangnya Han Chen merasakan sekumpulan orang yang sedang terbang ke arahnya. Sekumpulan orang itu adalah tiga orang panatua dan juga ketua sekte.


"Hei bocah apa kau yang telah membuat kerusuhan di dalam sekte ku ini ?" tanya ketua sekte.


Han Chen berbalik memandang mereka. Terlihat tatapan mata yang tajam seperti seekor naga. Tatapan itu ditujukan kepada mereka semua. "Aku hanya membunuh orang yang memang pantas untuk aku bunuh. Kalian semua tidak ada urusannya dengan masalahku !" ucap Han Chen.


"Meskipun kami tidak ada kaitannya denganmu. Tapi tidak seharusnya kamu membuat ulah di sekte ku !" ucap ketua sekte.


"Pergilah aku tidak ingin membuat kalian babak belur ?" ucap Han Chen.


"Bocah sepertimu yang berada di ranah Soul Wendering toga, berani sekali memandang rendah ketua kami !" Salah satu panatua menjadi kesal karena mendengar omongan bocah itu yang memandang rendah mereka.


"Ketua biarkan aku yang mengurus bocah itu !" ucap panatua yang kesal tadi.


"Hm... uruslah bocah itu, tapi jangan kamu bunuh, karena Raja Nan Dan pasti akan kesini dan meminta penjelasan atas kematian anaknya", ucap ketua sekte.


"Baik ketua !" ucap panatua itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah mendapat ijin dari ketua sekte, orang itu lalu mulai menyerang Han Chen. Serangan bertubi-tubi ia keluarkan, tapi tidak ada satupun dari serangannya yang mengenai bocah itu.


Karena sudah bosan bermain-main dengan panatua yang menyerangnya. Han Chen mengangkat tangannya dan menampar pipi panatua itu.


Seketika panatua itu terpental akibat tamparan dari Han Chen. Tubuh panatua itu langsung menghantam ketanah dengan darah yang keluar dari mulutnya.


"Hah... ? Bagaimana mana mungkin ?" ucap ketua sekte.


Semua orang terkejut karena panatua yang berada di ranah Soul Wendering Empat kalah hanya dengan sebuah tamparan.


"Sudah ku bilang aku tidak ingin menghajar kalian ! Ini adalah peringatan terakhir dariku. Cepat pergi dan jangan ganggu urusanku !" Han Chen menatap ketua sekte dengan tatapan yang tajam.


"Ketua sebaiknya kita turuti saja keinginan bocah itu. Kita pergi dan melihatnya dari kejauhan saja. Karena kemungkinan bocah itu sedang menunggu kedatangan dari Raja Nan Dan", ucap panatua Xu Ling.


Ketua sekte memutuskan untuk setuju setelah mendengarkan saran dari panatua Xu Ling. "Baiklah kami akan pergi dan tidak akan mengganggu urusanmu !" ucap ketua sekte. Mereka lalu pergi dan meninggal pria itu dibelakang.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang-orang dari kerajaan Shui telah tiba. Tanpa memberi salam Raja Nan Dan langsung menyerang Han Chen dengan senjata trisulanya.


Dengan gerakan cahaya, Han Chen langsung berpindah tempat menghindari serangan dari Raja Nan Dan.


"Dasar bocah keparat ! Berani sekali kau menghindari seranganku !" Mata dari Raja Nan Dan terlihat menunjukkan kemarahan. Emosi dari kehilangan putranya nampak dari raut wajahnya.


"Seharusnya aku yang marah kepadamu. Karena ulah dari anakmu Tang Zhan, temanku menjadi terbunuh untuk melindungi putri mu ! Apa kau tidak malu menjadi seorang ayah yang tidak becus mendidik anaknya sendiri", ucap Han Chen.


"Apa maksudmu putraku mengincar nyawa dari adiknya sendiri. Omong kosong ! Putraku Tang Zhan sangat menyayangi adiknya bahkan jika adiknya kenapa-kenapa dia yang selalu merasa lebih cemas karena mengkhawatirkan kondisi dari adiknya", ucap Raja Nan Dan.


"Entah otakmu kamu taruh di kepala atau dengkul. Sebagai seorang Raja kamu sungguh naif !" ucap Han Chen.


Raja Nan Dan menjadi marah karena mendengar dirinya sedang diejek dihadapan para pasukannya. Tanpa pikir panjang ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerang Han Chen.


"Beraninya kau memakiku. Aku tidak akan membunuhmu dengan cara yang mudah. Pasukan serang bajingan keparat itu !" perintah Raja Nan Dan kepada pasukannya.


Semua pasukan mulai menyerang Han Chen dari berbagai arah. Serangan para pasukan itu sungguh kuat karena mereka semua sudah berada di ranah Soul Wendering Empat.


Han Chen segera mengeluarkan pedang dari sarungnya dan melumuri pedang itu dengan api Phoenix miliknya. "Karena kalian berani meyerangku jangan salahkan aku karena tidak berbelas kasih".


Satu persatu pasukan itu terbakar karena telah kena tebasan dari pedang milik Han Chen.


"AAH... api apa ini !? Api ini tidak bisa dipadamkan", ucap salah satu jendral.


Mereka semua langsung terbakar dan menjadi abu karena terkena tebasan dari pedang api Han Chen.


"Seberapa kuat bocah itu ? Dia bahkan tidak merasa kesusahan saat melawan empat jendral yang sudah berada di ranah Soul Wendering Empat", ucap ketua sekte yang melihat pertarungan mereka dari kejauhan.


"BAJINGAN !!" umpat Raja Nan Dan. Ia lalu mengangkat trisulanya untuk menembakkan panah air yang berjumlah ratusan. Panah air yang berjumlah ratusan itu menyerang dengan cepat ke arah Han Chen melayang.


Melihat itu Han Chen hanya mengayunkan pedangnya membentuk perisai api yang mampu membakar semua panah yang mengincarnya.


Panah air dari Raja Nan Dan langsung menguap saat menabrak perisai api yang telah di buat Han Chen.


Tak sampai disitu, setelah perisai api milik Han Chen mulai padam. Raja Nan Mei langsung mengambil kesempatan itu untuk menyerang Han Chen. Setiap ayunan dari trisulanya mengeluarkan pisau air yang sangat tajam.


"Sia-sia saja usahamu. Mau seperti apapun kau meyerangku kau tidak akan pernah mengenaiku !" ucap Han Chen dengan senyuman sinis.


"Sebenarnya siapa kau !? Kenapa serangku selalu tak mengenalmu dan kenapa kau membunuh anakku !?" ucap Raja Nan Dan.


Han Chen merasa kesal ketika mendengar pertanyaan yang sudah jelas ia beritahu tadi jawabannya. Dia mulai berpindah ke belakang Raja Nan Dan dan langsung memukulnya jatuh ke tanah.


"Aku tadi sudah memberitahumu kalau anakmu lah yang telah membunuh temanku !" ucap Han Chen dengan keras dan tegas.

__ADS_1


__ADS_2