
Didalam kamar sekarang Han Chen tengah tiduran sambil memikirkan sesuatu. 'Kalau aku naik tangga pada saat tengah malam maka tidak akan ada banyak orang yang melihatku, dan ditambah aku akan menyamar sehingga orang-orang tidak mengenaliku. Sebenarnya aku sangat penasaran apa yang ada dipuncak tangga itu ?'.
Han Chen terus memikirkan apakah dia akan menaiki tangga sekarang atau dia harus menunggu sampai proses upgrade System selesai. Setelah berpikir dalam waktu yang lama ia mulai memutuskan.
"Baiklah sudah aku putuskan aku akan menaiki tangga saat tengah malam ini". ucap Han Chen.
Saat hari sudah tengah malam, Han Chen sudah bersiap-siap pergi. Ia sekarang menyamar menjadi dirinya saat masih berada di bumi dulu. Rambut dan matanya kini berwarna hitam. Baju yang ia gunakan juga berwarna hitam karena ia akan bergerak pada waktu tengah malam.
Han Chen saat ini mulai mengendap-ngendap untuk keluar. Ia bisa menyembunyikan hawa kehadirannya, sehingga kakek Mo yang menjaga gerbang asrama tidak bisa mendeteksi dirinya. 'Ah si kakek Mo itu, meskipun hari sudah tengah malam tapi ia masih saja tetap berlatih'.
Saat ini Han Chen sudah berada di depan papan batu yang mencatat setiap peringkat murid yang menaiki tangga. Peringkat pertama ditempati oleh Xu Fei yang sepertinya adalah anak dari ketua sekte. "Xu Fei malam ini peringkatmu akan turun menjadi nomor dua hehehe", ucap Han Chen.
Han Chen mulai pergi ke lokasi tempat tangga jiwa itu berada. Di sana hanya sedikit murid yang berlatih di tangga itu karena hari sudah tengah malam.
Han Chen mulai melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama. Diwaktu itu ia merasakan jiwanya seperti menjadi tenang layaknya sebuah lautan yang tidak tertiup angin. "Ah... perasaan ini sangat nyaman",
Han Chen mulai menaiki anak tangga itu secara pelan-pelan. Saat melangkah kakinya seperti melangkah di sebuah lantai yang dipenuhi air.
Sedangkan didepan papan peringkat beberapa orang berkumpul. "Hei hei lihat daftar peringkatnya mulai berubah", ucap orang yang berpakaian biru.
Nama Han Chen mulai melewati nama murid lain yang ada di daftar peringkat. Sekarang ia sudah mencapai peringkat ke seratus sepuluh dan akan mencapai peringkat ke seratus sebelas.
"Menurutku dengan kecepatan seperti ini si Han Chen ini akan bisa melewati posisi si pangeran bahkan juga posisi si putri", ucap orang yang berpakaian biru.
"Hei jangan ngawur kamu bakat Putri Nan Mei adalah yang terbaik di Benua ini mana mungkin si Han Chen bisa melewatinya", ucap orang yang berpakaian merah tua.
Peringkat Han Chen terus naik, Sekarang dia sudah melewati peringkat kawan-kawannya dan juga si pangeran. Dan sekarang dia sudah ada di peringkat empat puluh satu dan sudah melewati peringkat si putri.
__ADS_1
"Wah... gila dia sudah mendorong peringkat si putri menjadi turun !", ucap orang berpakaian merah tua.
"Apa aku bilang dengan kecepatan seperti itu dia pasti akan melewati peringkat keluarga kerajaan", ucap orang yang berpakaian biru.
Sedangkan di lokasi tangga jiwa Han Chen masih melangkah dan naik ke atas seperti orang biasa yang naik dan sebuah tangga. Energi disana juga semakin pekat Han Chen rasakan saat ia naik lebih tinggi.
'Mungkin karena tingkat kultivasiku yang sudah mencapai ranah Soul Wendering sehingga aku mudah menaiki tangga ini"', pikir Han Chen.
Orang-orang yang di atas tangga menjadi terkejut karena melihat seorang pemuda bisa menaiki tangga jiwa tanpa merasa kewalahan. Saat ini Han Chen sudah naik sampai anak tangga ke tiga ratus.
"Siapa dia bahkan bisa sampai ke anak tangga tiga ratus ?", tanya orang yang berpakaian hijau.
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya, sepertinya dia adalah murid baru", jawab teman orang tadi.
Han Chen terus naik selangkah demi selangkah. Di atas sana Han Chen melihat satu orang yang sedang berlatih. Han Chen tidak memedulikan orang itu dan terus melangkah naik ke atas.
Han Chen yang mendengar mencoba menoleh ke arah wanita itu. Mata Han Chen tertutupi oleh poninya sehingga orang lain kurang jelas melihatnya.
"Siapa namamu ?", tanya wanita itu.
Han Chen hanya tersenyum sinis kepada wanita itu. Lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke puncak tangga.
"Dasar bocah sombong beraninya kamu tidak sopan terhadap seniormu !". Wanita itu marah karena pertanyaannya di abaikan oleh pria tadi.
Di depan papan peringkat orang-orang mulai heboh karena mereka tidak mengira bahwa si Han Chen ini bisa masuk di peringkat lima besar.
"Apakah ini mimpi ? Kalau ini benar mimpi seseorang tolong bangunkan aku".
__ADS_1
PLAK..
"Hei apa yang kau lakukan ?". Orang itu mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Lah.. katanya kau ingin dibangunkan ?".
"Nggak pakek pukul segala kali !".
"Hei sudah kalian berhenti, lihatlah dia sudah berada di peringkat satu dan berhasil menggeser posisi Xu Fei". ucap teman dari dua orang tadi.
Kembali ke Han Chen, sekarang dia sudah berada di anak tangga ke delapan ratus. "Uh... saat sudah sampai sini entah kenapa menjadi semakin sulit untuk didaki".
Sekarang Han Chen seperti melawan salju badai yang sangat lebat. Sesekali ia terdorong oleh badai tapi ia tidak menyerah untuk mendaki hingga sampai ke puncak.
Di anak tangga ke sembilan ratus enam puluh Han Chen mulai merasa langkah kakinya tertahan dan tidak dapat melangkah lagi untuk naik. Disaat itu ia teringat akan perkataan senior Xiao Yu.
(Untuk dapat menaiki tangga jiwa seseorang harus bisa berkomunikasi dengan langit dan bumi. Seseorang juga harus mencapai kondisi jiwa yang tenang agar mereka dapat terus berkembang)
"Komunikasi dengan langit dan bumi". Han Chen memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Sekarang energi di sekitar Han Chen menjadi semrawut tidak teratur. Hawa kehadirannya sudah menyatu dengan alam sehingga tidak dapat terdeteksi oleh orang yang berada di ranah Nescent Soul sekalipun.
Han Chen mulai melangkah menaiki tangga. Suasana disana sangat hening karena semua orang melihat ke arah Han Chen dan tidak berbicara. Di sana mereka melihat untuk pertama kalinya orang yang akan mencapai puncak dari tangga jiwa.
"Hei kalian sepertinya orang yang bernama Han Chen itu akan mencapai puncak dari tangga jiwa !", ucap orang yang tadi berada di tempat tangga jiwa.
"Apa !? Benarkah !? Kalau begitu kita harus melihatnya secara langsung".
Orang-orang yang berada di depan papan batu kini mulai menuju ke tempat tangga jiwa. Di sana semua orang kini memperhatikan Han Chen yang tengah naik menuju puncak dari tangga jiwa.
__ADS_1