
Dia terus meminum arak sambil menatap langit dengan perasaan yang hampa. "Sekarang aku sudah tidak punya tujuan lagi. Hari ini bulannya juga bersinar sangat indah seperti waktu lalu".
Perasaan sedih ia rasakan di hatinya. Ia sengaja menaiki perahu di sungai, berharap bahwa aliran sungai ini dapat mencari tujuan hidupnya kembali.
"Aku yang tidak harus tahu kemana, aku yang tidak memiliki keluarga, entah kenapa jalan di depanku terasa buram". Han Chen terus meminum araknya karena dengan itu hatinya bisa sedikit terobati.
Air mengalir ke berbagai arah. Turun dari ketinggian dan berjalan ke tempat yang lebih rendah. Mengalir ke tempat yang jauh dan tak pernah kembali. Biarlah aliran ini menuntunnya untuk menemukan cahayanya.
Berhari-hari berminggu-minggu aliran sungai itu membawa Han Chen sampai ke negri yang jauh.
DUKK !
Han Chen terbangun dari tidurnya karena merasakan perahunya menabrak sebuah batu. "Uh... System sekarang aku ada dimana ?"
[Tuan sekarang berada di negara petir. Sebuah negara yang di perintah oleh Kerajaan Shandian]
Han Chen segera keluar dari perahunya dan menuju ke kota terdekat yang ia ketahui saat mengedarkan Qi-nya tadi. Untuk sampai di kota dia perlu melewati hutan yang terdapat monster level rendah.
"Tolong siapa saja tolong aku !" teriak orang yang tengah dikejar oleh monster.
Sebenarnya Han Chen sudah tahu kalau ada orang yang sedang kesusahan tapi itu bukan urusannya, jadi Han Chen mengabaikan orang itu dan tetap fokus menuju ke kota.
"Hei kamu yang disana cepat bantu aku !" Orang itu memanggil Han Chen ketika dia melihatnya.
Han Chen tetap tidak peduli dan terus fokus ke tujuannya. Orang itu menjadi jengkel saat melihat orang yang dipanggilnya tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.
'Apakah dia tetap mengabaikanku meskipun dia tahu kalau aku sedang dalam kesulitan ! Hehe kalau begitu aku akan memaksamu menolongku !' Orang itu segera berlari ke arah Han Chen dengan sekor monster yang tengah mengejarnya.
Han Chen merasakan kalau ada sesuatu yang mendekat, ia menengok ke sebelah dan ternyata itu adalah orang yang ia abaikan tadi.
"Hei kawan bisakah kau menolongku !?" Orang itu berlari ke arah Han Chen sambil dikejar monster macan hitam dibelakangnya.
GROAARR !!
Melihat hal itu Han Chen merasa kesal, ia segera mengambil kerikil dan menyentilkanya ke arah monster macan hitam itu. Seketika kepala monster itu langsung meledak karena terkena serangan dari Han Chen.
"Apa ? Bagaimana mungkin !?" Orang itu terkejut melihat orang didepannya dapat dengan mudah mengalahkan monster tingkat empat dengan hanya sebuah kerikil.
Han Chen lalu segera melanjutkan perjalanannya dan mengabaikan orang yang sedang memasang ekspresi wajah terkejut itu.
"Hei hei kawan tunggu jangan tinggalkan aku !" Orang itu menyusul Han Chen yang sudah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Dalam perjalanan. "Hei kawan namaku Lu Jiao. Siapa namamu ?" tanya Jiao.
Han Chen tetap diam dan mengabaikan orang yang tidak dikenalnya ini.
Melihat itu Lu Jiao terheran. "Hei kenapa kau diam saja ? Apa kau tidak bisa bicara ? Tadi saat ku panggil kamu juga tidak menengok ? Apa kau juga tidak bisa mendengar ? Kalau memang benar itu bisa gawat. Memangnya kapan kamu mempunyai penyakit ini ? Apakah sejak dari kecil ? Lalu...".
"Diamlah jika kamu tidak tenang maka akan ku potong lidahmu ! Dan aku bukan kawanmu !" Han Chen memberi peringatan agar Lu Jiao diam dan tidak bicara lagi. Dia merasa risih mendengar pertanyaan dari mulut yang sudah seperti anak ayam yang sedang mencari induknya.
"Wow tenang kawan, aku hanya bertanya saja. Tapi ngomong-ngomong apakah kamu ingin menuju kota Gouli ? Aku kasih tahu ya, kota itu terkenal karena banyak hiburannya. Dan kalau tebakanku benar apakah suasana hatimu saat ini sedang buruk ? Sehingga kamu ingin mencari hiburan yang ada di kota Gouli itu", ucap Lu Jiao.
Han Chen tersentak sesaat bahwa tebakan Lu Jiao memang benar.
"Haha ternyata aku benar. Jangan khawatir kawan aku adalah jagonya dalam memilih tempat. Akan ku pulihkan tempat yang cocok untuk suasana hatimu yang sekarang !" ucap Lu Jiao.
Sesampainya didepan pintu gerbang masuk kota. Han Chen dan Lu Jiao di hadang oleh dua penjaga gerbang yang meminta menunjukkan identitas atau harus membayar biaya masuk kota. Seperti biasa Han Chen memasuki kota dengan membayar biaya masuk, sedangkan Lu Jiao dia menunjukkan tanda pengenalnya yang sebagai murid dari Sekte Pheng.
Didalam kota seperti biasa banyak pedagang yang sedang berjualan, dan banyak pejalan kaki yang sedang berlalu lalang. Suasana kota disini tidak beda jauh dengan kota yang Han Chen kunjungi dulu.
"Begini, banyak tempat hiburan yang menarik disini. Ada kasino, drama, bar, dan lain-lain", ucap Lu Jiao.
"Jadi kau mau mengajakku ke tempat minum-minum ?" tanya Han Chen dengan nada tidak peduli.
"Kalau itu aku minta maaf, karena aku tidak kuat untuk minum. Yah, tapi banyak hal lain yang bisa dilakukan selain minum. Pokoknya sebagai balasan karena kamu sudah menolongku tadi, aku kan menunjukkan salah satu tempat terkenal yang ada di kota ini !" ucap Lu Jiao.
"Yah bagaimana menurutmu ? Rumah bordil, bukankah tempat ini sangat menarik", ucap Luo Ji dengan bangga.
Han Chen menatap Lu Jiao dengan tatapan meragukan. Lu Jiao yang sadar akan tatapan pria disampingnya, ia mulai menarik tangan penyelamatnya untuk memasuki tempat yang penuh dengan kesenangan duniawi itu.
"Sudahlah kau pasti akan merasa senang. Akan ku kenalkan kau dengan wanita-wanita yang akan menemanimu hari ini. Ditambah lagi ini adalah rumah bordil termewah yang ada di kota ini", ucap Lu Jiao.
'Lah... jadi dia sudah sering main ke tempat ini ?' batin Han Chen.
Rumah bordil itu besar, sehingga didalam ruangan itu juga luas. Terdapat hiasan didinding untuk menambah kesan mewah terhadap tempat itu.
"Nyonya Bou aku datang !" teriak Lu Jiao saat memasuki rumah bordil.
"Oh tuan Jiao pelanggan setia kami. Aku senang kamu datang kembali", ucap Nyonya Bou yang datang menghampiri mereka berdua.
"Ngomong-ngomong siapa yang tuan bawa ini ? Dia sungguh sangat tampan", Nyonya Bou melihat Han Chen dari ujung kaki sampai ujung rambut. Baru kali ini dia melihat pria setampan ini didepannya.
"Ah dia adalah orang yang telah menyelamatkanku dari monster tadi pagi. Namanya adalah... ?" Lu Jiao menatap penyelamatnya karena ia belum tahu nama penyelamatnya siapa.
__ADS_1
"Han Chen", jawabnya.
"Ah iya namanya adalah Han Chen", ucap Lu Jiao.
"Astaga untunglah pria ini menyelamatkan tuan. Saya sungguh sedih kalau tuan Jiao tidak kembali lagi", ucap Nyonya Bou.
"Haha itu tidak mungkin karena wanita-wanita disini sangat cantik, bagaimana mungkin aku tidak kembali", jawab Lu Jiao.
"Saya senang kalau tuan merasa begitu. Kalau begitu mari ikuti saya. Saya sudah menyiapkan kursi khusus untuk tuan dan juga penyelamat tuan". Nyonya Bou menuntun mereka ke sebuah ruangan.
Disana sudah terdapat banyak wanita yang sudah berjejer dengan rapi. Wanita-wanita itu adalah wanita yang akan menemani pelanggan yang akan memilih mereka.
Lu Jiao dan Han Chen kemudian duduk di kursi sambil menghadap ke arah wanita-wanita yang berjejer di depan mereka.
"Baiklah Han Chen silahkan pilih wanita mana yang kamu suka ? Pirang ? Berambut merah ? Atau suka yang besar ?" tanya Lu Jiao.
Sedangkan para wanita yang melihat Han Chen, mereka semua terpesona dengan wajah tampan dari Han Chen.
"Astaga baru kali ini aku melihat pria setampan dirinya !"
"Aku harap aku beruntung dapat dipilih olehnya".
Semua wanita menjadi ribut hanya karena kehadiran dari Han Chen. Mereka tak segan-segan menunjukkan nafsu mereka saat melihat Han Chen.
"Wah... sepertinya menarik sekali perbincangan kalian. Kalau tidak keberatan denganku. Dengan senang hati akanku temani pria ini dihari yang indah ini". Datang seorang wanita cantik dengan warna rambut ungu gelap.
"Oh, jarang-jarang kamu turun ! Ngomong-ngomong inilah bunga tercantik yang dimiliki tempat ini", ucap Nyonya Bou.
"Wow Han Chen kamu sungguh beruntung. Bunga tercantik selalu tidak memiliki minat terhadap pelanggan. Tapi hari ini dia turun karena memiliki minat terhadapmu", bisik Lu Jiao.
"Aku hanya tertarik saja kepada pelanggan hari ini " jawab Chu Chu kepada Nyonya Bou.
Han Chen memperhatikan wanita yang baru datang itu. Penampilannya terkesan dewasa sehingga banyak pria yang akan terpesona olehnya. Tubuhnya sudah seperti seorang model dan wajahnya terlihat lebih cantik dari wanita yang sedang berjejer disini.
"Baiklah aku pilih dia", ucap Han Chen.
Chu Chu yang mendengar kalau dirinya yang terpilih, ia merasa senang. "Aku jamin aku akan memberikan pelayanan yang membuat tuan puas".
Setelah membayar, Han Chen mengikuti wanita yang dipilihnya yang menuntunnya ke sebuah ruangan lain. Sedangkan Lu Jiao memilik wanita yang berambut pirang untuk menemaninya hari ini.
Di ruangan yang dimasuki oleh Han Chen. Disana ia hanya melihat sebuah ranjang yang berukuran lumayan besar.
__ADS_1
"Kalau begitu tuan apakah kita akan langsung melakukannya sekarang ?" Chu Chu mulai membuka pakaiannya satu persatu dengan perlahan.