
Di Kerajaan Shandian. Ruangan Pangeran.
Saat ini pangeran tengah kesal karena orang kirimannya gagal dan malah terbunuh oleh pemuda yang di targetkan.
'Kenapa ini bisa terjadi ? Bukankah ranahnya hanya di Gold Core ? Apakah ada ahli lain yang melindunginya ? Ya pasti itu. Tidak mungkin dia sendiri yang membunuh orang-orang suruhanku' Pangeran itu memejamkan matanya sambil berpikir tentang pemuda yang di targetkannya.
Dari arah pintu datang seorang yang pangeran kenal. Itu adalah pengikutnya yang setia yaitu Li Fan.
"Pangeran, anda tidak perlu pusing tentang masalah itu. Jika kita gagal hari ini, kita masih bisa mencobanya di lain hari" Li Fan mencoba menenangkan pangeran agar tidak usah risau dengan telur yang diinginkan oleh Li Fan.
"Tidak. Sepertinya kita tidak bisa menggangu anak itu. Kau bisa libatkan tadi. Orang-orang yang aku suruh telah tewas. Aku menduga kalau ada ahli yang melindunginya. Aku tidak bisa menyinggung ahli itu" ucap pangeran dengan ekspresi khawatir.
Melihat sikap dari pangeran, Li Fan menjadi kesal. "Tapi bukankah anda adalah seorang pangeran ? Apakah ahli itu berani menyakiti anda ? Dia tidak mungkin berani kan ? Jika dia berani menyakiti anda, maka seluruh Kerajaan Shandian ini akan menjadi musuhnya"
"Memang benar aku adalah seorang pangeran, tapi kita tidak seharusnya menyerang musuh yang kita tidak ketahui kekuatannya" jawab pangeran.
Saat Li Fan ingin berbicara, perkataanya segera di tepis oleh pangeran. "Tapi pangeran..."
"Sudahlah, kita tidak usah membahasnya lagi. Aku akan mencarikan hadiah yang lain untukmu. Ikut aku !" Pangeran itu segera berjalan menuju ke suatu tempat dan dia menyuruh Li Fan untuk mengikutinya.
Lorong istana sungguh besar dan lebar. Banyak hiasan di sana yang bertujuan untuk membuat orang yang melewatinya agar tidak bosan. Dari namanya saja kita sudah mengetahui kalau istana itu megah dan besar. Untuk sampai ke tempat tujuan, mereka harus menuruni tangga karena tempatnya berada diruang bawah tanah.
Sesampainya di sana Li Fan tercengang. 'Bukankah ini ruang harta' Mata Li Fan melotot ketika melihat pintu besar yang terbuat dari emas. Bahkan gagang pintunya sendiri terbuat dari batu giok.
__ADS_1
Pangeran segera membuka pintu itu. Saat di buka mereka berdua langsung disambut dengan segunung harta yang menjulang tinggi. Li Fan tidak bisa tidak terpukau dengan harta yang begitu melimpah didepannya. Sekarang dia merasa senang ketika pangeran ternyata mengajaknya ke ruangan harta.
Lo Fan mulai masuk mengikuti pangeran dari belakang,.tapi saat dirinya masuk kedalam. Matanya tidak tertuju pada harta melainkan sebuah pintu hitam yang dihiasi oleh permata hijau di tengah.
Li Fan mendekati pintu itu dan saat dia ingin menyentuh pintunya, tiba-tiba pangeran memanggilnya dari belakang.
"Li Fan, apa yang kamu lakukan disitu ?", panggil pangeran yang melihat Li Fan tidak berada didekatnya.
"Ah... saya hanya penasaran tentang apa yang ada di balik pintu ini. Sepertinya ada sesuatu yang spesial di dalam. Kalau boleh tahu, apa yang yang ada di balik pintu ini pangeran ?" tanya Li Fan yang sangat penasaran.
Saat mendengar pertanyaan dari pengikutnya, pangeran menjadi ragu. Apakah dia harus memberitahu Li Fan atau tidak.
'Apakah aku harus memberitahunya ? Tapi kata ayah rahasia itu hanya boleh di ketahui oleh keluarga kerajaan saja' batin pangeran.
Meskipun Li Fan adalah orang dekatnya, tapi perintah ayahnya adalah mutlak.
'Hm... apakah benar kalau di baliknya hanyalah sekumpulan emas ? Sepertinya aku harus memastikannya sendiri'. Li Fan masih saja penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu.
Setelah melihat-lihat Li Fan akhirnya memutuskan untuk memilih artefak pelindung. Artefak itu mampu melindungi dirinya dari serangan orang yang berada di ranah Soul Wendering Lima. Dengan begitu keselamatan dirinya akan bertambah sedikit.
Setelah selesai memilih, mereka pun segera keluar dari ruang harta. Pangeran segera menutup pintunya kembali. Agar tidak ada harta satupun yang hilang dari ruang harta kerajaan.
Kediaman Fan. Ruang Kamar Fan Zhong.
__ADS_1
Dari arah pintu datang Wan Rong. Dia segera menghampiri Fan Zhong yang terbaring di kasur.
"Kak bagaimana kak, apakah kamu mendapatkan bunga hantunya ?" tanya Fan Zhong dengan tergesa-gesa.
Wan Rong yang mendengar pertanyaan itu. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Fan Zhong menjadi sedih saat melihat jawaban dari kakaknya. "Lalu bagaimana caraku menyelesaikannya ?"
"Sudahlah nak, ini bukan tanggung jawabmu. Yang mencelakai adiknya bukan kamu. Kenapa harus repot-repot membatu orang yang telah menuduhmu ?" ucap ibu Fan Zhong yang sedari tadi berada di samping putranya.
"Apa yang dikatakan bibi benar. Kamu tidak perlu bersusah payah membantunya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu sendiri" ucap Wan Rong.
Fan Zhong hanya diam saja mendengar perkataan dari ibu dan kakaknya. 'Zhu Kai adalah teman baikku. Kami juga sudah berteman cukup lama. Dulu juga dia yang selalu menolongku saat nyawaku terancam, jika tidak maka aku sudah dari dulu mati' 2?batin Fan Zhong.
"Tidak. Aku tetap akan menolongnya, meskipun sekarang dia memusuhiku aku tetap akan membantu menyembuhkan adiknya" Fan Zhong tidak mau mengabaikan temannya yang sedang kesusahan. Dia akan membuktikan kalau dirinya tidak bersalah dengan membantu menyembuhkan adiknya.
'Huh... meskipun kau sudah dituduh kau tetap saja setia kepada temanmu. Ternyata kau masih Fan Zhong kecil yang ku kenal' batin Wan Rong.
Karena tidak ingin membuat adiknya kecewa. Wan Rong mencoba mengingat kembali dimana dirinya bisa mendapat bunga hantu selain di pelelangan.
"Ah... sepertinya aku mengingat sesuatu. Kalau tidak salah hadiah kontes Alkemis besok salah satunya adalah bunga hantu. Fan Zhong bukankah profesimu adalah seorang Alkemis ? Jika kamu bisa memenangkan kontes, maka kamu bisa mendapat bunga hantu itu untuk menyembuhkan adiknya Zhu Kai" ucap Wan Rong.
"Benarkah yang kakak katakan itu ? Jika memang benar maka aku harus berusaha agar menang dalam kontes besok". Mata Fan Zhong berapi-api, dia menjadi semangat untuk menjadi pemenang dalam kontes Alkemis.
__ADS_1
Sedangkan ibu Fan Zhong merasa khawatir melihat anaknya yang seperti itu. "Tapi bagaimana dengan lukamu nak ? Apakah kamu bisa mengikuti kontes Alkemis besok ? Sebaiknya kamu tidak usah memaksakan dirimu".
Fan Zhong merasa sedih karena melihat ibu yang mengkhawatirkan tentang keadaannya. "Tidak apa-apa ibu. Ibu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Anakmu ini kuat, lagian itu hanyalah kontes Alkemis yang mengandalkan kekuatan jiwa. Dengan keadaanku yang sekarang, aku masih bisa mengikuti kontes itu". Fan Zhong tersenyum kepada ibunya agar dia tidak mengkhawatirkan dirinya.