Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Kericuhan


__ADS_3

Sekarang Han Chen sudah sampai di puncak dari tangga jiwa. Di tengah altar ia melihat sebuah kotak yang sepertinya merupakan hadiah bagi seseorang yang sudah mendaki sampai puncak.


"Hohoho kali ini hadiah apa yang akan aku dapatkan, aku sangat penasaran !".


Han Chen mulai mendekati kotak itu, saat sudah sampai ia lalu membukanya. "Ha... ? Kenapa cuma ada batu spiritual ? Apa hadiahnya adalah batu ini ?'.


Tak seperti yang dibayangkannya, hadiah didalam kotak itu adalah sebuah batu spiritual. Ukiran batu itu segenggam tangan orang dewasa. Sedangkan batu yang biasa digunakan untuk hadiah penyelesaian misi adalah sebesar uang koin.


"Haish sia-sia aku berharap, yang kudapat malah cuma sebongkah batu". Han Chen mengambil batu itu dan memasukkannya kedalam Inventory.


Dikediaman ketua sekte, seorang pria yang telah berumur terlihat sedang duduk dan mengerjakan proposal. "Hm... sepertinya ada seseorang yang sudah membuka kotak ku, semoga dengan itu bisa membantu kultivasinya".


Disisi lain. "Tuan Feng !! Tuan Feng !! seseorang baru saja menaiki tangga jiwa dan mencapai puncak !", ucap seorang bawahan dari pria itu.


"Apa ? Apakah yang kau katakan itu benar ? Jika kau berani membohongiku maka lidahmu akan ku potong !!", ucap tuan Feng dengan nada tinggi.


"Yang saya katakan adalah sebuah kebenaran tuan. Bahkan saya telah melihatnya sendiri dengan kedua mata saya !". Keringat mulai muncul di dahi bawahannya.


"Kalau begitu cepat panggil beberapa orang untuk menghadangnya. Dan ambil harta yang telah dia dapatkan dari puncak tangga jiwa !". perintah tuan Feng kepada bawahannya.


"Baik tuan !". Bawahan tersebut segera pergi memanggil orang-orang untuk mencegat Han Chen.


Han Chen sekarang menuruni anak tangga dengan ekspresi sedikit kecewa, karena terlalu mengharapkan hadiah yang bagus. Saat turun ia dihadang lagi oleh wanita yang sudah ia abaikan tadi. "Kenapa kau suka sekali menghadang orang lewat ? Apakah karena aku sangat tampan sehingga kau menyukai ku ? Tapi maaf ya aku sudah memiliki orang yang ku suka", ucap Han Chen kepada wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu menatap Han Chen dengan muka datar. "Siapa bilang aku suka kamu. Aku hanya ingin tahu apa yang telah kau dapatkan dari atas sana".


"Oh.. yang di atas sana hanya sebuah batu spiritual", jawab Han Chen.


"Aku tidak ingin bercanda denganmu. Apa yang sudah kau dapatkan dari atas sana !!", Wanita itu sedikit kesal karena pria dihadapannya tidak ingin memberitahu apa yang sudah dia dapatkan.


"Kan tadi sudah aku bilang, di atas sana hanya ada sebuah batu !", ucap Han Chen dengan sedikit nada penekanan.


"Kenapa kau terus berbohong ? Aku menayaimu dan kau tinggal jawab apa susahnya sih !?". Wanita itu marah dan melirik cincin penyimpanan milik Han Chen.


"Jika kau tidak ingin menjawabnya biarkan aku memeriksa cincin penyimpanan mu itu !", ucap wanita itu sambil menunjuk ke cincin yang tengah dipakai Han Chen.


"Enak saja untuk apa aku harus menyerahkan cincinku. Sudahlah lama-lama bicara denganmu membuatku jadi gila !". Han Chen pergi meninggalkan wanita itu.


Han Chen hanya tersenyum mendengar gumaman wanita itu. 'Carilah sampai langit runtuh pun kau tetap tidak akan bisa menemukanku !', batin Han Chen dalam pikirannya.


Dalam perjalanan untuk ke asrama Han Chen merasa ada seseorang yang mengikutinya dari arah belakang. "Cih... jika ada orang yang memegang permata pasti ada juga orang yang ingin mencurinya".


"Hei bocah berhenti sekarang juga !".


Han Chen dihadang oleh beberapa orang yang berada di tahap Gold Core. Ia sekarang dikepung dari depan dan juga belakang. "Kenapa kalian mencegatku !?". Han Chen mulai risih dengan orang-orang yang mengepungnya.


"Kalau ada senior di depanmu seharusnya kau jaga cara bicaramu itu !! Sepertinya kami harus memberimu pelajaran agar kau tidak bersikap seperti itu lagi kedepannya terhadap seniormu". Orang itu mulai mengepalkan tangannya mempersiapkan untuk memukul bocah yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Apakah kau juga ingin melihat apa yang telah aku dapatkan dari atas sana ?", ucap Han Chen.


"Hehe... akhirnya kau mengerti juga. Jika dari tadi otakmu kau gunakan untuk berpikir maka aku tadi tidak akan berbicara kasar terhadapmu !". Semua orang yang mengelilingi Han Chen menertawakannya karena dianggap bodoh oleh mereka.


"Apakah kalian tidak takut kalau para penatua akan menghukum kalau jika melihat seorang senior yang menindas juniornya ?", ucap Han Chen.


Orang yang didepan Han Chen hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Han Chen. "Hahaha... kalau memang para panatua melihat. Mereka juga tidak akan memper masalahkannya selagi orang yang kami tindas tidak mati !".


Samar-samar Han Chen merasakan keberadaan seseorang yang tidak jauh dari lokasinya. Orang itu adalah salah satu panatua dari Sekte Nui yang tingkat kultivasinya sudah berada di Soul Wendering dua. Panatua itu hanya menonton kejadian didepannya dan tidak mengambil tindakan sedikitpun.


'Cih... tak kusangka ada juga panatua yang memiliki sifat seperti itu !'. Han Chen mengerutkan keningnya karena merasa kesal dengan situasi ini.


""Jika kalian semua memang segitu menginginkannya, maka ambillah sendiri". Han Chen melemparkan cincin penyimpanannya kedalam sebuah danau yang kebetulan berada tak jauh darinya. Setelah itu ia segera lari meninggalkan sekelompok orang itu..


"Dasar bocah bangsat !! Kalian cepat cari cincin itu sampai ketemu !". Semua orang kini turun untuk mencari cincin yang telah dilemparkan oleh Han Chen tadi.


Sekarang Han Chen sudah sampai didalam asramanya. "Sialan hanya gara-gara seonggok batu orang-orang jadi menargetkan ku. Orang gila mana yang menaruh batu spiritual di puncak tangga ? Jika aku tahu siapa orangnya maka akan ku lempar kepalnya dengan batu". Han Chen terus menggerutu kesal bukannya dapat berkah malah yang ia dapatkan adalah musuh.


"Hah.. tidak ada gunanya aku terus seperti ini, lebih baik aku tidur saja". Ia langsung memasuki kamarnya dan tidur di kasunya yang empuk.


Disisi lain terlihat seseorang yang sedang menunggu kabar baik dari bawahannya. Orang itu tengah duduk di kursi sambil mengetuk-ngetuk kan jarinya di kursi.


"Tuan Feng kami telah membawa barang yang telah anda tunggu-tunggu". Semua bawahan berjalan ke arah Tuan Feng yang tengah duduk. Salah satu bawahan kemudian menyerahkan cincin penyimpanan kepada tuannya.

__ADS_1


Tuan Feng lalu mengambil cincin itu dengan ekspresi wajah yang bahagia. Ia sangat menantikan harta karun apa yang ada di cincin tersebut. Saat ia mengintip kedalam cincin itu tiba-tiba raut wajahnya yang semula bahagia sekarang menjadi sangat marah.


__ADS_2