
Sepanjang Han Chen berjalan dia selalu menjadi pusat sorotan dari orang-orang disekitarnya. Semua orang disekitar Han Chen mengagumi akan ketampanan yang dimiliki oleh dirinya.
"Apakah dia adalah seorang dewa yang turun dari langit ? Dia sungguh tampan".
"Lihat meskipun dia seorang pria tetapi kulitnya sungguh mulus seperti giok. Bahkan aku iri melihat kulitnya jika dibandingkan denganku".
"Jika aku beruntung, aku ingin sekali mempunyai anak darinya".
"Kyaa... lihat-lihat dia melihat ke arah kita".
Semua wanita terpesona saat melihat ketampanan yang dimiliki oleh Han Chen. 'Jelas mereka akan bereaksi begitu ketika melihatku karena aku sungguh tampan' pikir Han Chen sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong daging bakar ini lumayan enak. Meskipun hanya ditaburi garam tapi rasanya juga tidak kalah dengan masakanku". Dia memakan daging bakarnya dengan sangat lahap sambil berjalan-jalan melihat isi kota.
Di salah satu gang Han Chen melihat seseorang pria yang sepertinya sedang dipojokkan oleh beberapa orang disana.
"Apa yang barusan kau katakan ? Bukankah kau adalah seorang pedagang yang cukup kaya. Apakah kau tidak bisa memberi kami sedikit uang !" Pria yang memiliki badan paling besar menendang perut orang itu dengan sangat keras.
"Ugh... aku tidak bisa memberimu uang karena aku memang tidak sedang membawa uang di kantongku". Pria itu terbaring kesakitan diatas tanah sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Wah Wah ada apa ini !? Apakah kalian sedang memalak orang ?" Han Chen datang dengan gaya seorang pahlawan.
"Apa urusanmu bocah ! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan kami !" teriak orang berbadan besar.
"Bukankah kalian sedang memalak orang ? Jika seorang pahlawan melihat ada orang yang sedang kesusahan maka sudah menjadi kewajibannya untuk menolong orang itu", ucap Han Chen.
"Oh jadi kamu mau bersikap sok jadi pahlawan ya ? Anak-anak serang bocah itu !" Orang besar itu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Han Chen.
Dalam sekejap Han Chen merubuhkan anak buah orang itu dengan tebasan leher miliknya. "Jadi apakah kau masih mau melanjutkannya ?" tanya Han Chen sambil mengepalkan tangannya.
"Maaf tuan kami mengaku salah. Tidak seharusnya kami berbuat hal yang memalukan begini" ucap orang berbadan besar.
"Kalau kalian sudah tahu kalau ini salah. Maka jangan lakukan hal serupa dimasa depan. Sekarang kalian cepat pergi dari hadapanku !" ucap Han Chen dengan nada keras.
Orang besar itu segera pergi dengan anak buahnya setelah disuruh pergi oleh Han Chen. Sedangkan Han Chen saat ini berjalan mendekati orang yang terbaring diatas tanah.
"Apakah kau tidak papa ?" Han Chen mengulurkan tangannya ke pria itu.
Pria itu menerima uluran tangan dari penyelamatnya dan mengucapkan terimakasih. "Aku tidak papa terimakasih karena sudah menolongku tuan".
Han Chen bingung kenapa pria yang ditolongnya bersikap sesopan itu. Han Chen memaklumi kalau dia bersikap sopan karena sudah ditolong, tapi kenapa dia menyebut Han Chen dengan sebutan tuan ?
'Apakah karena bajuku yang terlihat bagus, sehingga dia salah sangka bahwa aku seorang bangsawan ?' pikir Han Chen.
"Kalau begitu saya akan pergi dulu tuan. Sekali lagi terimakasih karena telah menyelamatkan saya". Pria itu langsung pergi dengan tergesa-gesa.
'Haish... padahal aku mau menanyakan nama kota ini apa ? Tapi ya sudahlah mungkin dia punya urusan yang sangat mendesak'.
Saat Han Chen ingin berbelok tiba-tiba ada anak kecil yang menabraknya.
BRAKK
Anak kecil itu terjatuh karena menabrak tubuh Han Chen yang sudah sekeras batu. "Hei nak apakah kamu tidak terluka ?" tanya Han Chen kepada anak perempuan yang menabraknya.
Di atas tanah terlihat beberapa buah yang berceceran dimana-mana. Han Chen segera mengambil buah yang berceceran itu untuk diberikan kepada anak tersebut.
"Terimakasih banyak paman", ucap anak perempuan itu.
__ADS_1
"Hah kenapa kamu memanggilku paman. Apakah aku terlihat tua bagimu ?" Han Chen kaget karena anak itu memanggilnya dengan sebutan paman.
"Ah terimakasih kakak", ucap anak perempuan itu.
"Sudahlah ngomong-ngomong kenapa kamu membeli begitu banyak buah ? Memangnya mau kamu apakan semua buah ini ?" tanya Han Chen dengan sangat penasaran.
"Ibuku menyuruhku untuk membeli banyak buah karena mau dibuat menjadi makanan", jawab anak perempuan itu.
"Makanan ?" ucap Han Chen.
"Ya. Keluarga kami menjalankan sebuah restoran yang sangat terkenal di kota ini. Banyak orang-orang yang rela menunggu berjam-jam hanya untuk merasakan hidangan dari restoran kami. Jika kakak ingin aku bisa membawa kakak kesana", ucap anak perempuan itu.
"Hm.... baiklah bisakah kamu bawa aku kesana, aku ingin merasakan seperti apa hidangan yang ada di restoran keluargamu itu", ucap Han Chen.
"Hehehe kakak pasti akan ketagihan ketika mencobanya", ucap anak perempuan itu.
Mereka kini berjalan menuju ke tempat restoran yang katanya terkenal di seluruh kota ini. butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sebuah restoran yang dimaksud. Disana Han Chen melihat banyak pembeli yang sedang mengantri didepan restoran itu.
"Wah aku tidak menyangka kalau restoran keluargamu begitu banyak didatangi orang", ucap Han Chen sambil melihat situasi di depan restoran.
"Kakak lewat sini. Jika kakak lewat depan maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama". Anak perempuan itu menuntun Han Chen lewat pintu belakang.
"Ibu Ayah aku sudah membeli buah yang diperlukan", ucap anak perempuan itu sambil menaruh buah di atas keranjang.
Kedua orang tua dari anak perempuan tadi datang setelah mendengar anak mereka telah sampai.
"Oh siapa ini ?" tanya sang ayah.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan kakak ini. Katanya dia ingin merasakan hidangan restoran kita. Jadi aku membawanya kesini", ucap anak perempuan itu.
"Halo paman, halo bibi. Perkenalkan nama saya Han Chen. Seperti yang dikatakan oleh anak anda, saya ingin sekali merasakan hidangan restoran yang katanya terkenal di seluruh kota. Tapi saya tidak punya uang untuk membelinya karena saya seorang pengembara, jadi apakah bisa saya bayar dengan bekerja disini ?" ucap Han Chen.
Tiga hari berlalu setelah Han Chen memperkenalkan dirinya ke keluarga Xiuxiu. Anak perempuan yang menabrak Han Chen waktu itu bernama Xiuxiu, sedangkan ibu dan ayah Xiuxiu bernama Fei Lin dan Yong Gi. Disana Han Chen membantu mereka dalam membuat masakan serta menghidangkannya kepada pelayan.
"Nak Chen bisakah kau kemari dan ikut mengantarkan pesanan ini bersamaku", ucap Yong Gi.
"Baik paman aku akan segera kesana !" jawab Han Chen. Dia sudah akrab dengan keluarga ini sehingga Han Chen sudah menganggap keluarga ini sebagai keluarganya.
Diperjalanan. "Paman memang pesanan ini mau diantarkan ke siapa ?" tanya Han Chen.
"Oh pesanan ini akan kita antarkan ke sebuah kediaman yang terbilang cukup besar. Orang yang memesan ini adalah seorang pedagang yang cukup sukses, padahal umur dia baru baru dua puluh empat tahun tapi dia sudah memiliki cabang-cabang toko di seluruh negri". ucap Yong Gi.
"Wah ternyata banyak juga yang memesan masakan dari restoran paman ya", ucap Han Chen sambil tersenyum.
"Hahaha itu juga berkatmu yang juga pandai memasak. Apa kamu tahu bahwa masakanmu juga ikut terkenal bahkan salah satu bingkisan yang kamu bawa itu isinya adalah masakanmu", ucap Yong Gi.
"Hahaha paman bisa saja", ucap Han Chen sambil tersenyum.
Sekarang Han Chen sudah sampai dikediaman yang paman Gi sebutkan tadi.
TOK TOK TOK
"Siapa ?" Salah satu penjaga membukakan gerbang. Penjaga itu melihat ada dua orang yang tengah memegang bingkisan besar.
"Apakah pesanan tuan sudah sampai ? Kalau begitu segera bawa masuk !" ucap penjaga itu.
Yong Gi dan Han Chen segera masuk dan membawa pesanan dari tuan kediaman ini. "Nak Chen kamu tunggu disini dulu !" ucap Yong Gi.
__ADS_1
"Baik paman". Saat ini Han Chen sedang menunggu di depan pekarangan rumah. Di pekarangan itu terlihat seorang anak laki-laki yang berusia dua tahun sedang bermain bola dengan sangat riang. Bola itu menggelinding menyentuh kaki Han Chen.
"Halo nak apakah kamu anak dari tuan kediaman ini ?" Han Chen mengambil bola yang menggelinding itu.
"Apakah makcud kakak ajalah ayah ?" tanya anak laki-laki itu.
"Haha... apakah kamu tahu kakak kesini mengantarkan makanan yang dipesan oleh ayahmu", ucap Han Chen sambil mengelus kepala anak itu.
"Wow benalkah ?" Terlihat sorotan mata anak itu berbinar-binar.
"Ya, kakak tidak bohong", ucap Han Chen.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang wanita yang tengah mencari anaknya. "Chu Ling kamu dimana ? Jangan bermain bola jauh-jauh !"
"Mama aku disini !" panggil anak laki-laki itu.
Wanita itu segera menghampiri anaknya yang bernama Chu Ling. " Sudah ibu bilang jangan main bola di halaman depan, kenapa kamu selalu tidak nurut perkataan mama ?"
"Hehehe ", Chu Ling hanya tertawa mendengar omelan dari mamanya.
"Chu Ling siapa kakak ini ?" tanya wanita itu kepada Chu Ling.
"Ah kakak ini katanya mengantarkan pesanan yang dipesan oleh ayah. Benarkan kak.. kak.. ?" Chu Ling memanggil-manggil Han Chen sambil menggoyang-goyangkan kaki Han Chen.
Han Chen menjatuhkan bola yang telah dipegangnya tadi. Ia merasa syok saat melihat wanita didepannya. 'Anak ini bilang orang di depanku adalah mamanya ?'
Saat ini hati Han Chen hancur menjadi kepingan Kaca yang pecah. Dia melihat wanita di depannya ini sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berumur tiga tahun. Han Chen juga melihat bahwa perut wanita didepannya besar menandakan kalau dia sedang mengandung bayi yang ada didalam kandungannya.
"Chu Ling apakah kakak ini baik-baik saja ?" tanya ibu Chu Ling.
"Ruo An apakah itu kamu ?" tanya Han Chen sambil berdurai air mata.
Ruo An yang mendengar suara yang akrab dari orang didepannya, ia langsung kaget karena tidak menduga kalau pertemuannya dengan orang yang disayanginya akan seperti ini.
"APAKAH ITU KAMU JAWAB !" teriak Han Chen kepada Ruo An.
Ruo An hanya bisa tertegun sambil menunduk. Dia tidak malu melihat Han Chen dengan keadaan dirinya yang seperti ini. 'Apakah dia adalah Han Chen. Aku malu memperlihatkan diriku dihadapan Han Chen'.
"Bisa-bisanya kamu... bisa-bisanya kamu tega mengkhianati ku..." Mata Han Chen mengkilap berlapiskan air mata. Hatinya hancur menjadi kepingan kaca melihat kekasih yang dicintainya mengkhianati dirinya.
"Istriku apa yang tengah terjadi disini ?" ucap suami dari Ruo An.
Han Chen langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara tadi. Dia melihat dua orang tengah datang kemari. Dua orang itu adalah Ying Gi dan orang yang telah ditolong Han Chen waktu itu.
"Istriku ala yang terjadi ?" Suami Ruo An menghampirinya dan memegang tangannya.
Kemarahan Han Chen menggebu-gebu karena melihat orang yang telah ditolongnya ternyata adalah suami dari kekasihnya. Han Chen serasa ingin mencabik-cabik orang yang ada di hadapannya. Aura kultivasi yang berada di ranah Jendral Dewa Perak keluar dari tubuh Han Chen karena kemarahannya.
UGHH !!!
Orang-orang yang ada disekitar Han Chen merasakan perasaan tertekan sebentar karena Han Chen mulai menarik kembali aura kultivasinya mengingat kalau Ruo An sedang mengandung bayi.
"Istriku, Chu Ling apakah kalian tidak papa ?" Suami Ruo An memegangi lengan istrinya.
"Aku tidak papa, tapi Chu Ling sepertinya kesakitan", ucap Ruo An yang sedikit kesakitan.
Han Chen yang melihat itu hanya merasa marah. Dia mulai memotong udara kosong dengan jarinya. Seketika terlihat robekan ruang di hadapan orang-orang disana. Han Chen segera memasuki robekan itu dengan perasaan yang masih marah. Setelah ia memasukinya robekan itu kemudian menutup kembali seperti semula.
__ADS_1
Semua orang disana terkejut melihat pemuda yang mengeluarkan tekanan tadi langsung menghilang memasuki udara yang terlihat robek. Termasuk Ruo An dia sangat terkejut melihat perkembangan dari Han Chen. 'Apakah pilihan yang aku buat ini salah ? Sebenarnya aku merasa bersalah karena harus mengkhianati Han Chen' batin Ruo An.