Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Jalan-Jalan


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian


Kabar tentang Kerajaan Shandian yang telah hancur sudah tersebar luas ke berbagai benua. Khususnya benua Huo. Saat mendengar kabar itu. Benua Huo sangat ingin sekali mendapatkan benua Shandian untuk memperluas wilayahnya. Tapi karena lokasi benua saling berjauhan membuat Kerajaan Huo tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa diam saja.


Kerajaan Shui, Khonggi, maupun Tudi. Mereka tidak membuat pergerakan saat mendengar kabar hancurnya Kerajaan Shandian. Mereka tahu bahwa Kerajaan Shandian memang layak mendapatkan balasan tersebut, karena ketiga kerajaan itu sudah diresahkan oleh organisasi pembunuh yang berasal dari Kerajaan Shandian.


Meskipun ketiga kerajaan itu tidak serakah mereka malah bersikap waspada terhadap orang yang menghancurkan Kerajaan Shandian. Kekuatan militer mereka perketat dan perkuat untuk mencegah hal serupa terjadi di wilayah mereka.


Sekarang Han Chen tengah berada di kota yang bernama Boli. Kota itu makmur karena tanah mereka yang sangat subur. Rata-rata daerah di Benua Tudi memang kebanyakan memiliki tanah yang subur. Benua Tudi juga terkenal dengan tanaman herbal mereka yang sangat bagus, bahkan mereka juga mempunyai tanaman yang berumur sampai lima ratus tahun.


"Kakak kakak aku mau ini", ucap Annchi sambil menunjuk ke arah jagung bakar yang tengah dibakar oleh paman pemilik toko.


"Hoho ternyata Annchi ku juga ingin jagung bakar ternyata", ucap Han Chen sambil mencubit kedua pipi adiknya dengan lembut.


"Hehe... tolong belikan ya kak", ucap Annchi memohon kepada kakaknya untuk di belikan jagung bakar.


"Tentu saja kakak akan membelikannya". Han Chen lalu mulai memesan jagung bakar. "Paman dua jagung bakar ya", ucapnya sambil menunjukan dua jari.


"Siap tuan. Tuan apakah ini adalah adik anda ?" tanya paman jagung bakar.


"Ya. Bukankah adikku ini sangat menggemaskan". Han Chen mengelus kepala adiknya yang tengah melihat jagung yang dibakar.


""Wah tuan sangat beruntung karena memiliki adik seimut ini", jawab paman jagung bakar.


Han Chen yang mendengar pujian dari paman dia merasa malu. "Haha paman bisa saja", ucapnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


Paman itu segera menyiapkan dua jagung bakar yang masih hangat dan baru selesai di bakar tadi. "Tuan ini jagung bakar anda", ucapnya sambil menyerahkan jagung bakar milik Han Chen.


"Dan ini adalah jagung bakar untuk adik yang imut ini". Paman itu menyerahkan jagung bakarnya sambil tersenyum ke Annchi


"Mana mana". Annchi meraih jagung bakar yang diberikan oleh paman itu. Annchi mencium aroma jagung yang sangat wangi di hidungnya. Annchi lalu segera memakan jagung bakarnya.

__ADS_1


"Mm... enak", ucap Annchi sambil tersenyum.


Han Chen yang melihat adiknya makan, ia menjadi tergiur. Han Chen lalu segera memakan jagung miliknya.


"Wah ternyata benar jagung ini enak. Jagungnya manis paman", ucap Han Chen sambil melanjutkan memakan jagung.


Paman pemilik toko merasa senang dengan dengan ekspresi dari kedua pelanggannya ini. "Tentu saja jagung yang saya bakar selalu memiliki kualitas yang sangat bagus. Semua ini juga berkat tanah disini yang sangat subur", ucap paman jagung bakar.


Han Chen dan adiknya sudah menghabiskan jagung bakar milik mereka berdua. Jagung itu langsung habis sebelum sempat ia bayar.


"Oh ya aku sampai lupa kalau aku belum membayar jagungnya", ucap Han Chen yang baru sadar akan hal itu.


Sedangkan Annchi dia masih ingin makan jagung bakar lagi. "Kakak aku ingin lagi". Annchi menarik-narik baju kakaknya sambil memohon untuk dibelikan jagung bakar lagi.


"Ah Annchi kakak paham perasaanmu, karena kakak juga ingin memakan jagung bakar lagi. Jadi bisakah Annchi jangan menarik-narik baju kakak ?", ucap Han Chen.


Annchi lalu melepaskan baju kakaknya. Ia masih menatap kakaknya dengan tatapan memohon.


Paman itu lalu tersenyum karena senang melihat tingkah laku dari adik kakak didepannya ini. "Baiklah akan segera saya siapkan".


Paman jagung bakar mulai menyiapkan dua jagung lagi. Setelah itu si paman langsung memberikan dua jagung yang telah siap kepada Han Chen. "Ini tuan dua jagung bakarnya".


Han Chen segera mengambil dua jagung yang diberikan oleh si paman. "Jadi semua berapa paman ?" tanya Han Chen sambil merogoh sakunya.


"Semuanya jadi empat koin perak tuan", jawab paman jagung bakar.


"Kakak kakak berikan jagungnya", ucap Annchi sambil kembali menarik baju Han Chen.


"Ah baiklah baiklah. Ini jagung milik Annchi". Han Chen memberikan satu jagung bakar yang ada di tangannya.


Annchi lalu mengambil jagung bakar yang kakaknya berikan itu dan langsung memakannya.

__ADS_1


"Paman ini uangnya", ucap Han Chen sambil memberikan satu koin emas.


Paman itu lalu mengambil uangnya. "Tuan ini kembaliannya", ucap paman jagung bakar sambil memberikan uang kembalian.


"Ah paman, paman simpan saja kembaliannya. Lagian jagung bakar paman juga enak, jadi itu sebagai bonus untuk paman", ucap Han Chen.


Mendengar itu si paman menjadi senang. "Terimakasih tuan*, ucapnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu kami pergi dulu paman". Han Chen lalu menggandeng tangan adiknya dan pergi meninggalkan toko jagung bakar.


Di jalanan banyak orang yang berlalu lalang meskipun hari sudah sore. Jalanan di Kota Boli cukup lebar sehingga orang-orang tidak akan berdesakan saat berjalan.


"Annchi apakah ada tempat yang ingin Annchi kunjungi lagi ?" tanya Han Chen sambil melihat adiknya.


Annchi tidak mendengar perkataan dari kakaknya karena ia sekarang masih fokus memakan jagung bakar miliknya. Han Chen yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.


"Huh... sepertinya aku harus menunggu sampai dia menghabiskan jagungnya". Sambil menunggu jawaban dari Annchi. Han Chen terus berjalan sambil tetap menggandeng tangan adiknya.


Han Chen juga memakan jagung bakar miliknya. Jagung yang Han Chen makan sangat manis sampai ia ketagihan untuk memakannya terus.


"Jagung bakar paman tadi sangat enak" ucap Annchi sambil tersenyum. Jagung bakar milik Annchi sudah habis dimakan Annchi.


Melihat Annchi sudah selesai makan. Han Chen lalu mengtakan kembali pertanyaan yang tadi ia tanyakan. "Annchi apakah ada tempat yang ingin Annchi kunjungi lagi ?"


"Em...?" Annchi meletakkan jarinya dibibir sambil mengingat-ingat apakah ada tempat yang ingin ia kunjungi.


Han Chen tertawa karena melihat adiknya yang bersikap seperti itu. "Haha... kalau begitu kita jalan saja dulu. Jika ada tempat yang membuat Annchi tertarik maka kita akan langsung kesana", ucap Han Chen yang memberi tahu adiknya ini.


Mereka kemudian berjalan-jalan menyusuri seluruh kota. Han Chen dan adiknya Annchi sangat menikmati waktu mereka dalam bersenang-senang. Mereka berdua bersenang-senang sampai matahari terbenam.


Kesenangan hari ini tidak akan Han Chen lupakan begitu pula Annchi.

__ADS_1


__ADS_2