Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Anak Ke Tiga


__ADS_3

"Ayah apakah yang datang tadi adalah pemimpin Sekte Pheng ?" Seorang pria muda datang menghampiri Nang Cai yang tengah melihat kepergian dari Mu Lan.


"Ya, yang datang tadi adalah pemimpin Sekte Pheng", jawab Nah Cai sambil menengok ke arah anaknya.


"Memangnya pemimpin Sekte Pheng membicarakan hal apa sampai pemimpin sekte datang langsung ke kediaman kita ?" Nang Du penasaran apa yang dibahas pemimpin sekte tadi dengan ayahnya.


"Bukan hal penting. Apakah kamu baru sudah menyelesaikan latihan mu ?" Nang Cai mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar anaknya tidak penasaran dengan apa yang ia bicarakan dengan pemimpin Sekte Pheng tadi.


"Ya ayah, sekarang aku sudah bisa mengendalikan elemen petir sesukaku. Aku juga hampir menyempurnakan jurus naga petirku ini", jawab Nang Du dengan bangga.


"Bagus ! Itu baru anakku. Kau selalu membuat ayah bangga, ayah kagum padamu !" ucap Nang Cai yang memberi pujian kepada anaknya itu. Seperti yang diharapkan dari anak pertamanya, bakat yang dimiliki anak pertamanya sungguh hebat. Selain mempunyai elemen petir, anaknya juga mempunyai pembuluh darah naga sehingga Nang Cai sangat memperhatikan anak pertamanya itu.


Di kejauhan ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari balik pohon. Orang itu adalah anak ketiga dari Nang Cai yang berumur tiga belas tahun. Nang Cai sangat tidak peduli terhadap anaknya yang lain, ia hanya memprioritaskan anaknya yang pertama.


"Ayah hanya memperhatikan kakak. Ayah benar-benar sudah tidak menyayangi ku". Anak itu langsung berlari menuju ke kamarnya. Ia berlari sambil mengeluarkan air mata. Sesampainya di kamar dia melihat ada pelayannya yang setia sedang membersihkan ruangan kamarnya.


"Lulu !" Anak itu memeluk pelayannya sambil menangis. Dia terus menangis di pundak pelayannya.


"Nona ada apa ? Kenapa nona menangis ?" Pelayannya yang bernama Lulu mencoba bertanya alasan nonanya menangis.


"Ayah... ayah memang benar-benar tidak menyayangiku. Memangnya aku salah apa ? Apakah karena aku merupakan anak dari seorang pelayan ? Aku hanya ingin disayangi seperti kakak. Memangnya apa yang salah dari semua itu ? hiks..." Dia mengutarakan isi hatinya itu kepada pelayannya.


Anak itu bernama Cu Fei marganya ikut nama ibunya yang seorang pelayan. Nama anak itu juga diberikan oleh ibunya. Ayahnya yang merupakan penguasa kota sama sekali tidak memperhatikannya. Sejak kecil ia tidak diperbolehkan menunjukkan diri didepan ayahnya, meskipun ia berpapasan dengan ayahnya. Nang Cai yang merupakan ayahnya sama sekali tidak mempedulikannya dan terus menganggap bahwa anak itu tidak pernah ada.


Pelayannya Lulu mengelus punggung nonanya, ia mencoba untuk menenangkan nonanya agar tidak terus menangis. "Nona, apakah nona tahu di luaran sana ada banyak sekali anak yang seperti nona. Bahkan ada anak yang lebih menderita dari nona. Mereka ada yang tidak mempunyai ayah atau ibu, bahkan ada yang tidak mempunyai orang tua sama sekali. Meskipun begitu mereka tetap tegar untuk menjalani kehidupan mereka".

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya itu denganku ?" tanya Cu Fei kepada pelayannya.


"Hmm... nona harus mempunyai keinginan yang kuat agar ayah nona dapat memperhatikan nona", jawab Lulu sambil menatap mata nonanya yang masih berlinang air mata.


"Keinginan yang kuat memangnya seperti apa itu ?" Cu Fei tidak tahu apa yang dimaksud pelayannya.


"Nona harus mencontoh kakak nona. Dia terus berusaha dan mendapatkan perhatian dari ayahnya", ucap Lulu.


"Apa maksudmu ? Apa kau juga membandingkan bakatku dengan bakat kakak ?" Cu Fei melangkah mundur menjaga jarak dari pelayannya.


"Bukan itu yang saya maksud nona", jawab Lulu.


"Ternyata kamu sama dengan semua orang itu. Kalian semua selalu mengataiku karena aku tidak mempunyai bakat seperti kakakku. Aku sangat kecewa, aku menyesal karena telah menganggap mu berbeda dengan semua orang itu !" Cu Fei berlari keluar dengan perasaan yang kecewa terhadap pelayannya.


Hari berlalu dengan cepat, sekarang bulan sudah terlihat menandakan kalau hari sudah malam.


Suasana Kota Gouli dimalam hari tidak seramai saat di siang hari. Di malam hari para pedagang kebanyakan menutup tempatnya ada juga yang masih membuka tempatnya. Itu adalah tempat minum-minum yang biasa dikunjungi oleh para pria. Di tempat itu kebanyakan orang akan mabuk karena alkohol yang mereka minum.


Han Chen sekarang berada diatas bangunan tertinggi, dia mengamati jika ada gerak Derik yang mencurigakan terlihat disekitarnya. Dan benar saja ia melihat ada satu orang mencurigakan yang baru saja keluar dari tempat minum. Orang itu segera menuju ke arah gang sempit. Sesampainya disana ada satu orang yang muncul dari balik bayangan.


"Tuan menginstruksikan kita untuk berhati-hati karena ada anggota kita yang telah tertangkap !" Pria yang baru keluar dari tempat minum itu memberitahu kepada pria yang ia temui untuk waspada kepada sekitar.


"Lalu apakah pekerjaan ini akan dihentikan sejenak ?" tanya pria yang baru muncul dari balik bayangan.


"Tidak. Tuan berkata kalau pekerjaan ini tetap akan dilanjutkan. Tuan hanya menyuruh untuk lebih waspada terhadap sekitar", jawab pria itu.

__ADS_1


Setelah mereka berdua selesai berinteraksi, mereka berdua kemudian berpisah. Orang yang satu kembali lagi ke tempat minum-minum, sedangkan yang satu lagi, dia segera bergegas menuju ke suatu tempat.


'Sepertinya aku harus mengikuti orang bertudung hitam itu'. Han Chen segera bergerak mengikuti ke arah mana orang itu bergerak. Dengan menyamarkan auranya Han Chen tidak akan diketahui oleh orang yang sedang ia ikuti.


Orang bertudung hitam itu berhenti disebuah rumah yang terlihat seperti rumah tua yang telah sangat lama. Han Chen melihat orang itu memasuki rumah itu. Karena tidak tahu apa yang terjadi didalam, ia kemudian mengedarkan Qi-nya untuk mengetahui suasana yang ada didalam rumah itu.


Di dalam rumah itu terlihat sekumpulan pria yang sama-sama memakai tudung hitam. Pria yang Han Chen ikuti tadi seperti mengintruksikan kepada yang lain untuk memulai pekerjaan mereka.


"Tuan berkata kalau pekerjaan ini tetap akan dilanjutkan. Kita hanya harus lebih waspada terhadap area sekitar. Kalau begitu segera berpencar !" ucap pria itu.


Semua orang yang ada di dalam rumah tua itu segera keluar dan langsung berpencar ke berbagai arah dalam kelompok masing-masing. Han Chen melihat orang dia ikuti tadi keluar bersama dengan satu orang rekannya. Orang itu dan juga rekannya langsung bergerak menuju ke arah yang sudah mereka tentukan.


Han Chen terus mengikuti kedua orang itu sampai ia melihat kalau kedua orang itu sepertinya sedang mengintai anak kecil lain untuk mereka tangkap. 'Hm... sebenarnya mengapa mereka menangkap anak kecil ?'


Disisi lain. Cu Fei sedang berjalan-jalan disekitar kota untuk menghilangkan kesedihannya. "Memangnya kenapa kalau aku tidak punya bakat ? Apakah seseorang harus mempunyai bakat agar mereka bisa di sayangi orang tua mereka ?"


Cu Fei merasa, sekarang dirinya tidak mempunyai siapa-siapa yang dapat menjadi sandaran baginya. Ia sekarang seperti seekor semut yang berjalan sendirian dan tidak tahu arah jalan pulang untuk kembali ke sarangnya.


"Andaikan ibu masih hidup, maka aku tidak akan meras sendirian di dunia ini" ucap Cu Fei.


Tiba-tiba ia melihat ada orang yang terlihat mencurigakan didepannya. Orang itu memakai tudung hitam dan tengah berjaan mengarah ke dirinya. "Siapa ? Siapa itu ?"


Cu Fei takut dengan kehadiran pria aneh didepannya. Ia segera berbalik untuk lari, tetapi keberuntungan ternyata tidak memihaknya. Dibelakangnya ternyata juga ada orang yang memakai tudung hitam dan sepertinya merupakan teman dari pria yang juga bertudung hitam. "Jangan ! Jangan mendekat ! Tidak... !"


Orang bertudung hitam itu langsung menangkap Cu Fei dan membuatnya pingsan.

__ADS_1


__ADS_2