
"Bisakah kamu antarkan surat ini ?" ucap orang yang duduk di kursi.
"Baik Tuan", pelayan itu segera mengambil surat dari tangan tuannya dan segera mengantarnya ke tempat tujuan.
"Huf... hari ini sungguh melelahkan". Tiba-tiba pria itu melihat sobekan ruang di depan matanya. Pria itu melihat ada seseorang yang keluar dari sobekan ruang tersebut. Terlihat seorang pria tampan dengan rambut putih yang panjang serta memakai baju serba merah.
"Siapa kau !?" Dia segera membuat beberapa tombak yang terbuat dari elemen airnya, sebagai sikap pertahanan kalau-kalau pria didepannya itu mempunyai niat buruk terhadapnya.
Han Chen hanya menatap bengis pria dihadapannya. Dia marah karena perjanjian yang dibuatnya dengan pria itu berakhir dengan kekecewaan. Sorot mata yang terlihat marah ia tunjukkan kepada Mu Feng.
Han Chen langsung melemparkan bola Qi-nya untuk menghancurkan meja kerja Mu Feng. Mu Feng segera menghindar ketika pria tersebut melemparkan serangan kepdanya.
DUARR !!
Meja kerja Mu Feng hancur menjadi serpihan kayu.
Mu Feng segera melemparkan tombak air yang telah ia buat tadi. Sedangkan Han Chen yang melihat tombak air sedang menuju ke arahnya, ia hanya menepisnya dengan tangan.
'Apa bagaimana bisa seranganku ditepis dengan mudahnya ?' Mu Feng dengan segera membuat puluhan jarum yang terbuat dari elemen airnya. Jarum itu mengarah dengan cepat menuju ke Han Chen.
"Heh... kau pikir trik kecilmu ini akan mempan kepadaku ?" Han Chen mengeluarkan api dari tangannya yang membuat jarum air dari Mu Feng langsung menguap.
"Sebenarnya siapa kau !? Kenapa kau langsung menerobos ke kediamanku !?" Mu Feng bertanya dengan suara keras.
Sorot mata Han Chen terlihat marah. Dalam sekejap Han Chen sudah berada di hadapan Mu Feng, dia langsung mencekik lehernya dan menghantamkan tubuh Mu Feng ke dinding.
BAAMM !!
"Ekh... lepaskan... lepaskan aku !" Mu Feng terus memegang tangan pria itu, ia mencoba melepaskan dirinya dari cekikan pria didepannya.
"Aku tanya kau ! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjaga kedua wanita itu lima tahun lalu. Kenapa kau membiarkannya menikahi orang lain !" Cekikan tangan Han Chen semakin kuat.
Saat Mu Feng mulai menatap mata pria didepannya, ia baru sadar kalau pria didepannya adalah orang yang telah membuat perjanjian dengannya lima tahun lalu saat ia masih berada di Sekte Nui. "Apakah kau orang yang membuat perjanjian denganku dulu ? Tapi bisakah kau melepaskan ku dulu ?"
Han Chen melepaskan Mu Feng dengan cara melemparkannya ke sebuah rak. Rak itu hancur karena di tabrak oleh Mu Feng. "Uhuk...!" Mu Feng mulai bangun sambil memegang lehernya yang masih sakit.
"Katakan alasan apa yang kau miliki ! Jika aku tidak puas dengan jawabanmu, maka aku akan membunuhmu !" ucap Han Chen.
Mu Feng merasa kalau nyawanya kali ini benar-benar di ujung tanduk. "Pertama-tama semua ini bermula sekitar dua tahun lalu. Waktu itu mereka telah menyelesaikan pembelajarannya di Sekte Nui".
"Wah kakak aku sudah lama tidak melihat ibu dan ayah, aku jadi kangen", ucap Ruo Ning.
"Kakak juga sudah tidak sabar melihat ibu dan ayah", ucap Ruo An.
Saat mereka sudah didepan pintu terdengar suara orang tua merek yang memanggil mereka dari dalam.
"Ruo An, Ruo Ning"
__ADS_1
"Ibu senang karena tidak terjadi apa-apa pada kalian". Ibu mereka memeluk lembut kedua anaknya.
"Apakah kalian baik-baik saja selama berada di Sekte Nui ?" tanya ayah mereka.
"Kami baik-baik saja ayah. Selama disana kami belajar banyak hal", ucap Ruo An.
"Baguslah, ayah senang mendengarnya", ucap sang ayah.
"Oh ya ibu punya kabar baik untuk putri tertua ibu", ucap sang ibu.
"Memangnya kabar baik apa yang ibu punya untuk kakak ?" tanya Ruo Ning dengan penasaran.
"Waktu itu ayah dan ibu sedang kesusahan karena hasil panen tidak bagus tahun lalu. Jadi kami tidak bisa memberikan hasil panen sebagai bunga tahunan untuk kepala desa. Kepala desa itu terus mendatangi rumah kita untuk meminta bunga tahunan. Kami tidak bisa memberikannya karena hasil panen kami buruk. Tapi suatu hari ada pedagang yang cukup kaya menawarkan bantuan kepada kami, dan sebagai permintaan terimakasih kami berniat menjodohkanmu dengan anak pedagang tersebut yang kebetulan dia memiliki seorang anak laki-laki yang umurnya tidak jauh beda dari mu", ucap sang ibu.
Ucapan yang didengar tadi seperti Sambaran petir bagi Ruo An.
"Ibu !! Kakak sudah memiliki seorang kekasih kenapa ibu malah menjodohkan kakak seenaknya tanpa persetujuan dari kakak sekalipun !" Ruo Ning marah atas apa yang telah dilakukan oleh orang tua mereka.
"Apa ? Lalu bagaimana dengan perjodohan ini ? Ibu tidak bisa berkata membatalkan perjodohan ini kepada penyelamat ibu !" ucap sang ibu.
"Kalau begitu biar aku saja yang menggantikan kakak untuk menikah dengan anak dari pedagang itu !" Meskipun terlihat enggan tapi kalau demi kakaknya Ruo Ning akan melakukan apa saja agr kakaknya bahagia.
Melihat itu Ruo An merasa sedih karena harus membiarkan adiknya untuk menggantikan pernikahannya. "Adik biar kakak saja yang menikah".
"Tapi kakak bagaimana dengan Kak Chen ?" tanya Ruo Ning.
"Saat mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang aku suruh untuk menjaga mereka berdua, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya, karena itu adalah pilihan yang harus dibuat oleh Ruo An sendiri" ucap Mu Feng.
Meskipun begitu hati Han Chen masih marah karena Ruo An tega mengkhianati dirinya dan memilih menikahi orang lain.
TEERRRR !!
Vas bunga yang ada di ruangan itu pecah menjadi berkeping-keping karena perbuatan Han Chen. Han Chen segera merobek ruang kosong dengan jarinya, ia laku memasuki robekan itu dan menghilang untuk menenangkan dirinya.
"Hah... aku tidak bisa mencegah itu. Karena itu merupakan pilihan Ruo An sendiri" Mu Feng menghela nafas memikirkan kejadian yang terjadi di tahun lalu.
Disebuah padang rumput dengan pohon besar yang tumbuh dengan rindangnya. Terlihat Han Chen sedang merenung sendirian disana. "Kenapa dia tega meninggalkanku ? Apakah dia lupa dengan janji yang pernah kita buat dulu ?"
Suasana disana seperti mencocokan dengan suasana hati Han Chen. Meskipun matahari bersinar dengan terang tapi sinarnya ditutupi oleh awan. "Apakah perasaan yang dia tunjukan kepadaku dulu semuanya palsu ? Ku tak mengerti kenapa dia mengambil tindakan seperti itu".
Han Chen mulai mengingat pria yang waktu itu dia tolong. "Seharusnya aku biarkan saja pria itu dihajar, kenapa aku menolong waktu itu ?"
Sedangkan di tempat lain terlihat keluarga yang sedang berkumpul dengan cerianya. Mereka menyantap masakan dari restoran yang telah mereka pesan.
"Istriku apakah kamu sakit ? kenapa kamu tidak memakan makanan yang ada diatas meja ?" Chu Lang terlihat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sedari tadi terlihat murung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apakah kamu masih memikirkan pria tadi ?" tanya Chu Lang.
__ADS_1
"Ah tidak kok. Aku sedang memikirkan apakah masakan dari restoran itu enak atau tidak ?" jawab Ruo An yang tersadar dari lamunannya.
"Jika kamu hanya menatapnya maka kamu tidak akan tahu apakah makanan ini enak atau tidak ?" ucap Chu Lang.
"Ayah aku mau nambah lagi. Makanan ini cangat enak", ucap Chu Ling.
"Oh apakah anak ayah segitu sukanya dengan makanan ini. Kalau begitu ayah akan mengambilkannya lagi", ucap Chu Lang.
Ruo An yang melihat itu hanya tersenyum. Di segera mengambil sumpit dan mencoba ikan didepannya. Saat daging ikan itu sudah didalam mulutnya, Ruo An tiba-tiba terdiam. 'Bukankah ini sup ikan yang pernah dibuat Han Chen dulu'. Kenangan saat itu mulai teringat di kepala Ruo An.
Sekarang matahari sudah terbenam dan digantikan oleh bulan. Di malam hari orang-orang mulai beristirahat. Seperti biasa Ruo An mengantarkan minuman ke ruang kerja suaminya, karena suaminya seorang pedagang sehingga pekerjaannya banyak karena harus melihat laporan dari cabang-cabang tokonya.
"Sayang ini teh mu !" Saat Ruo An mulai membuka pintu, ia kaget dengan situasi di depannya.
PRANG !
Minuman yang ia bawah jatuh ke lantai. "Han Chen apa yang kamu lakukan pada suamiku ?" Ruo An melihat dengan kedua matanya Han Chen sedang mencoba membunuh suaminya.
"Memangnya kamu tidak bisa melihat apa yang tengah aku lakukan ini !" Han Chen mencekik leher Chu Lang sambil menodongkan belatinya mengarah ke mata Chu Lang.
"Tolong jangan sakiti suamiku dia tidak bersalah apa-apa !" Ruo An memohon sambil menangis di bawah kaki Han Chen.
"Apakah saat membuat keputusan dua tahun lalu kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku ketika melihatmu kelak ! Aku berjuang mati-matian hanya demi kamu ! Aku rela menghabiskan waktu lima tahun di dunia monster hanya agar aku bisa melindungi dirimu ! Semua yang aku lakukan hanya untuk kamu !" Han Chen menatap Ruo An dengan tatapan benci. Hatinya saat ini sudah menjadi gelap bagaikan asap hitam yang memenuhi ruangan.
"Aku minta maaf aku salah. Tapi tolong jangan sakiti suamiku. Dia tidak bersalah apa-apa hiks..." ucap Ruo An sambil menangis.
"Heh... sekarang kamu memanggilnya sebagai suami ya ? Heh.. ironis sekali !" Han Chen masih saja tidak melepaskan tangannya dari leher Chu Lang.
Sedangkan Ruo An masih menangis sambil memohon di bawah kaki Han Chen. Chu Lang yang melihat itu juga tidak tega karena harus melihat istrinya memohon di kaki pria yang tengah mencekiknya.
"Istriku biarlah orang ini membunuhku, jika yang menyebabkan semua ini memang adalah aku maka.aku siap menanggung konsekuensinya", ucap Chu Lang
"Tidak kamu tidak salah apa-apa ! Kumohon Han Chen kalau kamu ingin membunuh seseorang bunuh saja aku tapi jangan suamiku". Ruo An terus memohon kepada Han Chen agar suaminya dilepaskan.
"Istriku biarlah aku yang dia bunuh. Aku tidak mau kamu dan bayi kita yang ada di perutmu terluka", ucap Chu Lang.
Han Chen yang mendengar menjadi semakin risih. "Baiklah aku tidak akan membunuh suamimu ataupun kamu. Tapi menampakkan diri kalian di depanku lagi, jika aku melihat kalaian lagi dimasa depan maka aku akan langsung kalian. Camkan itu !!" Han Chen langsung pergi dan menghilang dari sana.
Disebuah restoran terlihat ketiga orang yang sedang melihat sebuah kertas yang berisikan surat.
"Paman, Bibi, Xiuxiu. Terimakasih karena sudah memperbolehkan aku tinggal selama tiga hari ditempat kalian. Aku sungguh senang karena merasakan kehangatan keluarga meskipun cuma sebentar. Aku harus segera pergi karena aku adalah seorang pengembara. Maaf karena tidak bisa berpamitan langsung dan hanya bisa meninggalkan surat ini. Oh ya, ngomong-ngomong aku sudah meninggalkan beberapa resep masakan di kertas lain yang aku taruh disitu. Aku harap dengan resep itu bisa membuat restoran kalian menjadi terkenal tidak hanya di seluruh kota melainkan di seluruh negara air ini. Sekali lagi terimakasih . Tertanda Han Chen".
"Ayah apakah kakak Chen benar-benar pergi ?" tanya Xiuxiu.
"Kamu sudah membacanya sendiri dikertas yang sudah ditinggalkan oleh nak Chen. Kita hanya bisa mendoakan agar ia menemukan kebahagiaan dalam perjalanannya", ucap Yong Gi.
Disisi lain Han Chen sekarang sedang menaiki perahu di sungai sambil meminum arak.
__ADS_1