
Dimalam hari terlihat dua orang yang tengah terbang menuju kediaman penguasa Kota Gouli. Meskipun saat tengah malam udara akan terasa dingin, tapi Cu Fei tidak merasakan perasaan dingin itu. Karena berkat Qi yang menyelimutinya membuat dirinya tetap hangat.
"Nak siapa namamu ?" ucap Han Chen sambil memandang anak di sampingnya. Han Chen tidak tahu siapa nama anak yang ia bawa.
"Namaku Cu Fei Nona" jawabnya dengan pelan.
Cu Fei mengira kalau Han Chen itu adalah orang dari keluarga yang sangat tinggi, karena di usianya yang masih muda dia sudah memiliki kekuatan yang sangat besar.
"Bukankah nama ayahmu Nang Cai ? Kenapa margamu beda dengan ayahmu ?" Han Chen menyentuhkan jarinya ke bibirnya sambil mengingat-ingat.
"Saya mengikuti marga ibu saya yang seorang pelayan. Ayah saya tidak menginginkan saya karena saya tidak memiliki bakat sebaik kakak-kakak saya". Cu Fei menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang terlihat sedih.
"Kamu punya kakak ?" tanya Han Chen.
"Ya nona. Saya memiliki dua kakak laki-laki, tetapi ayah saya hanya menyayangi kakak pertama saya, karena kakak pertama adalah orang yang memiliki bakat paling bagus", jawab Cu Fei.
"Lalu dimana ibumu ?" tanya Han Chen.
"Ibu saya meninggal saat saya berumur empat tahun. Saat saya terpuruk karena sudah tidak memiliki siapa-siapa, tetapi ada satu orang pelayan yang senantiasa menemani saya. Meskipun saya sedih karena ibu meninggal tapi masih ada pelayan saya yang menemani saya", jawab Cu Fei.
"Begitu ya..."
Han Chen teringat kenangan bersama ibunya yang ada di bumi saat ibunya masih hidup. Saat itu ketika dirinya menangis karena jatuh dari tangga, ibunya lah yang langsung datang dan segera menolongnya.
Saat ini mereka telah sampai di atas kediaman penguasa kota. Kediaman penguasa kota terlihat damai tanpa adanya masalah sedikitpun.
"Cu Fei. Sekarang kamu harus memilih. Kamu memilih ayahmu atau keselamatan penduduk Kota Gouli ?" tanya Han Chen dengan tegas.
Han Chen menyuruh Cu Fei membuat pilihan, karena Cu Fei merupakan anak dari si bajingan Nang Cai itu.
"Apa maksud nona ?" Cu Fei merasa bingung karena tiba-tiba disuruh memilih.
"Bukankah sudah jelas ? Jika Nang Cai dibiarkan tetap hidup maka dia akan terus melakukan hal-hal serupa. Untuk mencegah hal ini terjadi lagi maka aku harus menghancurkannya sampai ke akar-akarnya", ucap Han Chen.
Saat ini Cu Fei merasa bingung antara dia harus memilih ayahnya atau penduduk kota Gouli. Ia menjadi teringat dengan perkataan ibunya sewaktu masih kecil dulu.
"Cu Fei sayang kamu harus menjadi orang yang tegar. Karena sebagai anak dari penguasa kota kamu tidak boleh lemah meskipun orang-orang memakimu".
"Tapi ibu ayah tidak menyayangiku. Aku tidak ingin mempunyai ayah yang tidak menyayangiku".
"Ibu paham apa maksudmu. Tapi meskipun ayahmu tidak menyayangimu dan orang-orang memakimu. Tetapi jika kamu mencari lebih jauh maka kamu akan menemukan orang-orang yang menerimamu dan menyayangimu".
__ADS_1
"Apakah memang ada orang yang seperti itu ?"
"Ya, percayalah kepada ibu".
Cu Fei lalu menatap Han Chen. "Nona apakah nona tidak benci dengan orang yang tidak mempunyai bakat sepertiku ini ?"
"Kenapa aku harus membencimu ? Kau tidak berbuat salah kepadaku. Jadi aku tidak mempunyai alsan untuk membencimu", jawab Han Chen dengan lantang.
Cu Fei merasa senang bahwa nona didepannya tidak membenci dirinya. Ternyata yang dikatakan ibunya memang benar, bahwa akan selalu ada orang baik jika dia mencari lebih jauh lagi.
"Karena ayahlah semua anak-anak perempuan harus mengalami kejadian seperti tadi. Aku sudah memutuskan memilih penduduk Kota Gouli", ucap Cu Fei sambil menunjukkan mata yang percaya diri.
Cu Fei sudah membuat keputusannya sendiri, kalau dia lebih memilih keselamatan penduduknya dari pada ayahnya.
Han Chen tersenyum dan berkata "Aku senang kau membuat keputusan yang benar".
Han Chen lalu maju ke depan sedikit. Ia langsung mengeluarkan aura kultivasinya.
BUSHH...
Aura Han Chen menyebar hingga di rasakan oleh orang-orang yang ada di kediaman penguasa kota. Bahkan semua penduduk kota yang tengah berada didalam rumah merasakannya juga.
"Siapa ? Siapa yang memiliki aura kuat ini ?" ucap Nang Cai yang tiba-tiba terbangun dari istirahatnya.
Di atas langit Nang Cai melihat dua anak kecil yang melayang dan salah satunya adalah anaknya sendiri.
"Kenapa ? Bukankah kalian sudah dijadikan pengorbanan ? Kenapa kalian tidak mati ? Aku tidak percaya kalau Raja Zhang melepaskan kalian begitu saja". Nang Cai terkejut karena tidak terjadi apa-apa kepada dua bocah itu.
"Haha... aku juga tidak percaya kalau dia akan melepaskan kami. Seharusnya kau bisa menebaknya sendiri bagaimana kami bisa lolos". Han Chen tersenyum jahat kepada Nang Cai.
Nang Cai yang mendengar itu, ia merasa bingung. "Tidak mungkin. Apakah aku salah meneleportkan kalian ? Tapi aku sudah nyakin kalau aku mengirim kalian ke lokasi yang benar".
Han Chen tidak menduga kalau Nang Cai akan menebaknya seperti itu. "Aku tidak menduga kalau kau adalah orang yang bodoh. Akan kutunjukkan bagaimana cara kami bisa lolos".
Han Chen mengeluarkan pedangnya dari udara kosong. Pedang yang dia keluarkan adalah pedang hitam yang biasa dia pakai untuk membunuh monster.
"Lihatlah dengan kedua matamu sendiri !" ucapnya.
Han Chen mengalirkan elemen petirnya ke pedang miliknya. Ia lalu mengayunkannya ke arah Nang Du yang tengah berdiri. Sekumpulan guntur langsung menyerang Nang Du.
Nang Du yang tidak sempat bereaksi, dia langsung mati karena terkena serangan Han Chen.
__ADS_1
"Nang Du !!" Nang Cai berteriak keras saat melihat anaknya mati tepat didepannya.
Nang Cai menatap Han Chen dengan rasa marah. Matanya melotot seperti akan keluar. "Dasar bocah keparat akan kubunuh kau !"
Nang Cai mengeluarkan senjata miliknya. Senjata milik Nang Cai adalah sepasang dua pedang. Nang Cai mengalirkan elemen petir miliknya ke senjatanya. Ia langsung melesat ke arah Han Chen dengan kecepatan yang cepat.
Han Chen segera menangkis serangan yang dilancarkan oleh Nang Cai. Mereka berdua sekarang saling beradu pedang di udara. Suara dentingan pedang juga terdengar oleh semua orang yang tengah menonton.
"Apakah itu penguasa kota ?"
"Sepertinya begitu. Kenapa penguasa kota bertarung melawan anak kecil ?"
"Hei lihat siapa yang ada disana ? Bukankah itu anak ketiga dari penguasa kota. Kenapa dia hanya diam saja melihat ayahnya bertarung ?"
"Apakah menurutmu penguasa kota kita akan menang melawan anak kecil itu ?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat basis kultivasi anak itu".
"Kau benar aku juga tidak bisa melihatnya".
Cu Fei juga tercengang dengan pertarungan yang terjadi didepannya. "Aku kira nona akan memanggil monster itu lagi, tapi ternyata aku salah. Dengan kekuatan seperti ini kemungkinan nona bukan berasal dari alam rendah".
Kembali ke pertarungan. Sekarang Nang Cai sudah kelihatan kelelahan akibat pertarungan yang berat sebelah.
"Hei pak tua kenapa kau sudah kelihatan kelelahan ? Bagaimana caramu membalaskan dendam anakmu, kalau kemampuanmu hanya seperti ini", ejek Han Chen.
"Dasar bocah tengik !" Nang Cai termakan emosi karena mendengar ejekan dari bocah di depannya.
Nang Cai mengeluarkan jurus naga petirnya dan langsung menyerang Han Chen. Naga petir itu berwarna biru, seperti sekumpulan listrik yang membentuk sebuah naga.
Han Chen mengangkat telapak tangannya dan keluar sebuah pusaran angin tornado dari telapak tangan Han Chen. Pusaran itu mengurung naga petir milik Nang Cai dan membuatnya hancur terurai oleh serangan angin Han Chen.
Nang Cai yang melihat itu dia langsung menggertakan giginya karena kesal. "Bocah tengik darimana kau mendapatkan kekuatan sebesar itu ?"
Han Chen mengabaikan pertanyaan dari Nang Cai dan malah memandang ke bawah. 'Sepertinya mereka sudah lari. Lalu begitu aku harus segera mengakhiri ini'.
Dengan gerakan cahayanya Han Chen langsung memotong Nang Cai menjadi berkeping-keping. Potongan tubuh Nang Cai langsung berjatuhan ke tanah. Cu Fei merasa ngeri karena melihat langsung tubuh ayahnya terpotong-potong.
Semua orang yang menonton merasa takut dengan gadis kecil yang melayang sambil memegang pedang yang berlumuran oleh darah penguasa kota.
"Gadis itu sungguh mengerikan", ucap salah satu orang yang menonton.
__ADS_1
Han Chen lalu terbang tinggi dia juga membawa Cu Fei untuk terbang tinggi. Serasa sudah cukup ia kemudian memasang penghalang, memblokade seluruh kediaman penguasa kota. Setelah itu ia merentangkan tangannya memusatkan ke satu titik tengah di dalam penghalang yang menutupi semua kediaman penguasa kota.
Seketika terjadi sebuah ledakan energi di dalam penghalang itu. Semua orang yang berada di luar mendengar sebuah dentuman besar dari dalam penghalang. Setelah Han Chen menghilangkan penghalangnya, terlihat kediaman penguasa kota sudah musnah dan hanya meninggalkan sebuah lubang di tanah.