Legenda Penguasa

Legenda Penguasa
Wang Ji


__ADS_3

"Kenapa ayah selalu saja cuma memperhatikan anak tertuanya ! Apa orang tua itu pikir aku tidak seberbakat anaknya yang pertama ?" ucap tuan Ji.


"Tenanglah tuan bukankah kita kesini untuk meredakan amarah tuan", ucap pelayannya.


Mereka kemudian memasuki rumah bordil itu. Saat mereka masuk sudah ada Nyonya Bou yang datang menyambut mereka. "Selamat datang tuan, apakah ada yang bisa saya bantu ?"


Seorang pria yang datang bersama pelayannya. Mereka sedang berbicara dengan Nyonya Bou yang menyambut mereka.


"Aku ingin wanita cantik untuk menemaniku hari ini !" ucap tuan Ji.


"Kalau begitu saya akan mengantarkan tuan kesebuah ruangan untuk memilih wanita yang tuan sukai". Nyonya Bou segera menuntun mereka ke sebuah ruangan. Sesampainya disana Nyonya Bou segera memanggil para wanita yang ada. Tuan Ji dan pelayannya duduk sambil menunggu kedatangan wanita-wanita yang ada di rumah bordil ini.


Setelah sekian lama menunggu datang sekelompok wanita. Para wanita itu langsung berjejer dihadapan kedua pria tersebut.


"Hm...bukankah tempat ini terkenal akan bunga tercantik yang ada di rumah ini ? Dimana bunga tercantik itu ?" Tuan Ji tidak puas melihat para wanita di depannya ini.


"Kalau tuan menanyakan tentang wanita yang bernama Chu Chu. Sekarang dia sedang melayani seorang pria. Jika tuan ingin, tuan bisa menunggu", ucap Nyonya Bou.


"Lancang sekali kamu ! Tuanku adalah anak dari pemilik kota ini ! Dia baru kembali dari pengasingannya dan sekarang dia kesini karena mendengar bahwa rumah bordil ini terkenal karena ada seorang wanita cantik. Cepat panggil wanita itu kemari !" Pelayan tuan Ji memarahi Nyonya Bou karena bersikap kurang ajar kepada tuannya.


"Maaf tuan... tapi sekarang Chu Chu sedang bersama pelanggan lain. Saya tidak bisa mengganggu pelanggan itu, karena dia sudah membayar biayanya. Jika tuan tidak masalah bisakah tuan menunggu". Nyonya Bou sekali lagi memohon agar pria dihadapannya ini dapat menunggu.


"Katakan padaku sekarang mereka berada di ruangan mana !?" tanya tuan Ji.


"Sekarang mereka berada di lantai dua. Ruangan nomor empat", jawab Nyonya Bou.


Tuan Ji dan pelayannya segera berjalan menuju ke ruangan yang diberitahukan oleh Nyonya Bou tadi.


Sedangkan diruang nomer empat. Han Chen sekarang sedang berduaan dengan wanita yang bernama Chu Chu ini.


"Apakah aku mengatakan kalau kau boleh membuka bajumu !?" ucap Han Chen.


"Maaf ? Bukankah tuan memilihku karena ingin bersenang-senang denganku ?" tanya Chu Chu.


Han Chen segera duduk diatas kasur itu sambil menatap ke arah Chu Chu. "Aku memilihmu bukan karena aku ingin bersenang-senang denganmu !".


Chu Chu merasa kesal karena pria yang memilihnya tidak tertarik sedikitpun kepada dirinya. "Lalu kalau begitu kenapa tuan datang ke rumah bordil ini ? Kalau bukan untuk bersenang-senang lalu untuk apa ?"


"Katakan semua yang kamu ketahui tentang kota ini ! Apapun itu", ucap Han Chen.

__ADS_1


'Apakah orang ini gila atau bodoh ? Dia mengabaikan kecantikan didepannya dan malah bertanya sesuatu yang tidak penting' pikir Chu Chu.


BRAKK !


Terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras. Di pintu itu muncul dua orang pria yang tengah memandang Han Chen dan Chu Chu.


"Oh apakah aku mengganggu kesenangan kalian ?" ucap tuan Ji dengan nada mengejek.


Han Chen tidak senang ketika ada orang yang sengaja ingin mengganggunya. "Siapa kau ?"


"Kau tanya siapa aku ? Apakah kau tidak mengenalku ?" ucap tuan Ji.


"Tuan mungkin karena pengasingan tuan yang sangat lama sehingga orang-orang disini belum mengenal tuan", sahut pelayan yang berada di belakang tuan Ji.


"Ah kau benar juga. Perkenalkan aku adalah Wang Ji anak dari pemilik kota ini. Dan aku kesini karena ingin membawa Chu Chu. agar dia bisa menemaniku hari ini", ucap Wang Ji sambil melirik tubuh Chu Chu dari bawah sampai atas.


"Apakah kau tidak lihat sekarang wanita ini bersamaku. Jika kamu memang ingin maka mukamu seharusnya menunggu*, ucap Han Chen.


"Berani sekali kamu.." Ucapan pelayannya segera ditepis dengan tangan Wang Ji.


Wang Ji segera mendekati pria yang tengah duduk di kasur itu. Saat dia sudah sampai didepan pria itu dia segera mengatakan sesuatu. "Apakah kamu bodoh atau memang tuli ? Bukankah aku sudah bilang aku adalah anak dari pemilik kota ini. Semua yang ada disini adalah milikku ! Jika aku menginginkan wanita ini, maka aku bisa langsung mendapatkannya dan kenapa aku harus menunggu ? Oh... apakah karena milikmu tidak bisa berdiri atau hanya ukurannya yang kecil ? HA HA HA aku melihat kamu tadi tidak melakukan apa-apa kepada wanita ini. Berarti yang aku ucapkan memang benar. Aku sungguh malu jika menjadi dirimu. Yang bisa kau gunakan adalah ketampanan mu saja".


Han Chen merasa marah karena dirinya di ejek oleh orang yang tiba-tiba datang mengganggunya. Tangan Han Chen langsung meraih kepala pria itu. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi sambil menatap mata pria itu dengan penuh amarah.


"Aku sudah mendengar banyak orang yang menggunakan status tinggi mereka sebagai alat ancaman untuk orang lain. Di dunia ini apakah orang-orang selalu memiliki sifat sama seperti mu ! Ketika aku mengancam akan membunuh mereka, maka mereka akan memperingatiku kalau keluarga mereka tidak akan tinggal diam jika aku sampai membunuh mereka. Apakah kau juga akan sama seperti mereka ? Aku sangat penasaran". Han Chen memandang pria itu sambil tersenyum jahat.


"Apa yang kau maksud ? Lepaskan aku... !" Wang Ji kesakitan karena kepalanya dicengkeram oleh tangan Han Chen.


"Apa yang kau lakukan cepat lepaskan tuan muda !" Pelayan itu meneriaki Han Chen agar melepaskan tuan mudanya.


Tanpa mempedulikan apapun Han Chen langsung memperkuat cengkeramannya hingga kepala Wang Ji hancur. Darah menyiprat keluar membasahi ruangan empat tersebut.


Chu Chu yang melihat itu, dirinya membeku karena melihat seseorang dihadapannya langsung terbunuh dengan kepala yang hancur. Terlihat bola mata yang menggelinding dilantai. Otaknya juga berceceran dimana-mana.


Pelayan dari Wang Ji langsung ketakutan saat melihat tuannya dibunuh. "Kau... kau dasar monster ! Aku akan melaporkan kejadian ini ke kepala keluarga !" Pelayan itu langsung berlari dengan raut wajah yang masih ketakutan.


Suasana di rumah bordil yang tadinya penuh dengan kesenangan, sekarang berubah menjadi penuh kericuhan. Semua orang yang berada disana membicarakan pembunuhan yang terjadi di kamar nomer empat. Sedangkan Nyonya Bou yang merupakan pemilik tempat dari rumah bordil, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya merasakan tekanan yang kuat dari Han Chen.


Dijalan. "Han Chen kenapa kau membunuh Wang Ji ? Meskipun memang aku tidak suka dengan sikapnya, tapi jika keluarga mereka sampai bertindak maka aku tidak bisa menolong kamu", ucap Lu Jiao.

__ADS_1


"Jika memang seperti itu, maka datanglah. Aku tidak peduli", ucap Han Chen.


Lu Jiao merasa bingung saat mendengar jawaban dari Han Chen. "Kamu benar-benar gila. Aku tidak habis pikir kenapa kau masih bisa bersikap tenang, padahal nyawamu sekarang sedang dalam bahaya".


Han Chen tidak peduli apa yang dikatakan oleh Lu Jiao. Ia langsung memasuki restoran yang kebetulan ia lihat. Sedangkan Lu Jiao, dia pergi untuk kembali ke sektenya karena misi yang dia jalankan sudah selesai.


Didalam restoran itu Han Chen duduk di samping dekat jendela. Dia memesan makanan untuk mengisi perutnya meskipun dia tidak merasa lapar. Makanan disana terbilang cukup mahal untuk orang biasa, sehingga hanya orang yang memiliki kekayaan lebih yang ada di restoran itu.


Semua orang yang ada didalam restoran menikmati makanan yang tengah mereka makan, termasuk Han Chen. Masakan di restoran ini terbilang cukup enak di lidahnya. Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba ada seseorang yang datang dan tengah mencari Han Chen.


"Orang yang telah berani membunuh anak dari penguasa kota cepat berdiri !" teriak prajurit yang diutus dari kediaman penguasa kota.


"Apa ? Anak penguasa kota dibunuh !"


"Anak penguasa kota yang mana yang dibunuh ?"


"Aku tidak tahu. Penguasa kota mempunyai tiga anak, mungkin anak ketiga yang dibunuh".


"Anak ketiga ? Maksudmu anak tidak berguna itu ? Tapi bukankah lebih baik anak itu mati, terus kenapa penguasa kota marah karena anak itu mati ?"


"Apakah kau bodoh ? Penguasa kota hanya menjaga sikapnya. Meskipun dia anak tidak berguna tetapi dia masihlah anak dari penguasa kota".


Han Chen masih tetap melanjutkan makannya dan tidak peduli dengan prajurit yang menyuruhnya berdiri itu.


Prajurit yang diabaikan oleh Han Chen, ia menjadi marah dan langsung mendatangi tempat Han Chen duduk bersama dua prajurit lain yang bersamanya. "Hei nak bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berdiri !"


Han Chen masih melanjutkan makannya dan mengabaikan prajurit yang tengah berdiri didepannya. Prajurit yang tetap diabaikan itu menjadi marah. "Bocah ini... "


Saat tangan prajurit hendak menyentuh bahu Han Chen. Seketika Han Chen langsung mengarahkan pedang Qi ke prajurit itu. Tubuh prajurit itu terbelah menjadi dua. Semua organ perutnya berceceran di lantai dan membuat suasana di restoran itu menjadi mengerikan.


"Dia.. dia langsung membunuh prajurit itu !"


Semua orang disana ketakutan dan tidak berani menggerakkan tubuhnya. Kedua prajurit yang datang bersama satu prajurit yang telah dibunuh oleh Han Chen. Mereka berdua jatuh lemas.


Han Chen yang masih melihat dua prajurit yang tersisa, dia menatap mata ke-dua prajurit itu dengan tatapan kosong.


"Tidak ! Tolong ampuni kami..."


CRUAKK...

__ADS_1


Kedua prajurit itu terbunuh oleh pedang Qi Han Chen. Suasana disana mengerikan, seluruh ruangan itu dipenuhi oleh bau darah dari ke-tiga orang prajurit yang telah dibunuh Han Chen. Restoran yang tadinya dipenuhi suara riuh piuh dari para pelanggan, kini hanya menyisakan keheningan di seluruh ruangan tersebut.


__ADS_2