
"Apakah kamu tuli atau bodoh ? Aku tadi sudah memberitahumu kalau anakmu lah yang telah membunuh temanku !" ucap Han Chen dengan keras dan tegas.
Raja Nan Dan mulai bangun dan mulai melihat ke arah Han Chen yang ada di atas. "Meskipun apa yang kamu katakan itu benar, tapi sebagai seorang ayah aku harus membalaskan dendam anakku !"
Raja Nan Dan mulai memfokuskan trisula di depan wajahnya. Seketika muncul lambang trisula di dahinya. Rambut dan matanya yang semula berwarna hitam kini berubah warna menjadi biru pucat. Kekuatan Raja Nan Dan yang semula berada di ranah Soul Wendering delapan kini melonjak ke ranah Nescent Soul.
Han Chen hanya tersenyum tipis melihat perubahan wujud dari musuhnya. "Aku penasaran sampai kapan kau bisa mempertahankan wujudku itu ?"
"Meskipun wujudku ini hanya bertahan sebentar, tapi itu sudah cukup untuk membunuhmu !" Raja Nan Dan mulai melesat terbang ke arah Han Chen. Ia mulai meluncurkan serangannya.
Pertarungan sengit terjadi di atas langit. Seolah cahaya berwarna biru dan putih saling bertabrakan satu sama lain. Suara dari dentingan pedang dan trisula terdengar jelas dari pertarungan mereka berdua.
Ketua sekte dan para panatua yang melihat itu menjadi ternganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Bagaimana bisa ? Meskipun Raja Nan Dan sudah bertransformasi tapi anak itu juga tak kalah kuat dengan sang Raja !" ucap panatua Xu Ling.
""Meskipun anak itu masih berada di tahap Soul Wendering dia mampu mengimbangi Raja Nan Dan yang sudah berada di tahap Nescent Soul !" ucap ketua sekte.
"HaHa... ini adalah pertarungan yang paling menyenangkan yang pernah aku lakukan !" Han Chen senang karena lawannya seimbang dengan dirinya. Ia kini tak ragu-ragu untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Cih... meskipun aku sudah bertransformasi tapi aku masih saja tidak bisa mengungguli mu !? Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini sebelum waktu transformasi ku berakhir !" Raja Nan Dan lalu memusatkan sejumlah energi di bagian ujung tombaknya.
"Bocah terimalah seranganku ini !" Serangan air berbentuk naga keluar dari senjata trisulanya. Naga itu bergerak dengan cepat sambil membuka taringnya untuk melahap Han Chen.
"Ho... ternyata kamu juga punya sedikit trik. Baiklah aku akan menunjukkan sedikit kesopanan ku dengan menerima seranganmu !" Han Chen juga memusatkan sedikit energi di ujung pedangnya. Ia lalu menembakkan api dari pedang. Api itu langsung membentuk sebuah Phoenix dan mengarah ke naga air.
Kedua serangan itu bertabrakan satu sama lain menyebabkan ledakan yang cukup besar. Tak sampai disitu serangan Han Chen masih bertahan dan menuju lurus ke arah Raja Nan Dan.
Raja Nan Dan yang melihat serangan di depannya ia langsung mulai menghindarinya. Serangan yang dihindari Raja Nan Dan menghantam beberapa pohon dan akhirnya serangan dari Han Chen membakar pohon dan tanah itu.
"Hey... sekarang giliranku kan ? Sebenarnya ada satu jurus yang sangat ingin sekali aku coba. Mumpung ini adalah situasi yang cocok maka aku akan mencobanya kepadamu !" Han Chen mulai memfokuskan pikirannya kedalam pedang. Situasi menjadi senyap karena jurus yang akan Han Chen keluarkan.
Han Chen mulai menebaskan pedangnya ke arah Raja Nan Dan. Tebasan Han Chen terlihat seperti tebasan biasa jika dilihat oleh orang-orang. Tetapi sebenarnya tebasan yang dilakukan Han Chen mengandung aturan yang sulit untuk dipahami oleh orang-orang.
Raja Nan Dan yang melihat itu dia mulai berkeringat dingin. Terlihat di dahinya keringat mulai bercucuran. Setelah beberapa saat anehnya Raja Nan Dan tidak melihat apapun dari serangan Han Chen.
"Hahaha... apakah ini jurus yang kamu maksud bocah !" Raja Nan Dan tertawa karena jurus yang dikeluarkan bocah itu tidak mengeluarkan apapun. Tetapi setelah beberapa detik berlalu ia mulai merasakan badannya mulai melemah. Raja Nan Dan yang terlihat seperti berusia empat puluh tahun kini mulai terlihat seperti berusia tujuh puluh tahun. Bersamaan dengan itu tranformasi dari Raja Nan Dan juga berakhir.
"Apa kau senang menerima serangan ku itu ?" ucap Han Chen dengan senang.
__ADS_1
Serangan Han Chen tadi di khususkan untuk memotong umur seseorang. Orang yang terkena serangan itu tidak bisa lagi menambah umurnya meskipun ia berlatih sebanyak apapun.
Han Chen menggunakan gerakan cahaya untuk sampai di depan Raja Nan Dan. Setelah itu dia mencekik lehernya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Ingat ini adalah peringatan dariku ! Didiklah anakmu dengan benar, meskipun kau sudah tidak punya anak laki-laki tapi kau masih punya anak perempuan. Jika aku melihat anak perempuan bertingkah bodoh maka aku yang akan secara langsung mendisiplinkan-nya ! Aku sudah berbaik hati tidak membunuhmu dan hanya memotong umurmu itu. Camkan kata-kata ku ini !" Sesudah selesai berbicara ia melemparkan Raja Nan Dan ketanah. Setelah itu Han pergi menghilang di udara yang kosong.
"Setelah mendengar percakapan mereka sepertinya yang salah adalah anak laki-laki dari Raja Nan Dan", ucap panatua Xu Ling.
"Sudahlah kita tidak usah membicarakan lagi masalah yang sudah selesai, sebaiknya kita segera menolong Raja Nan Dan yang jatuh ke tanah itu !" ucap ketua sekte.
Di asrama perempuan terlihat Ruo Ning dan juga Ruo An. "Kakak apakah kau masih memikirkan pia itu ?" tanya Ruo Ning.
"Ah tidak, aku hanya berpikir kenapa pria itu membunuh kakak dari putri Mei ? Saat ingin pergi pria itu mengatakan bahwa seharusnya putri Mei berterimakasih kepadanya karena telah mengurus orang yang selama ini mengincar nyawa putri", ucap Ruo An.
"Sudahlah aku haus dan mau pergi mengambil air. Apakah kakak juga ingin aku ambilkan ?" ucap Ruo Ning.
"Ah iya tolong sekalian ambilkan untuk kakak !" jawab Ruo An.
Ruo Ning segera pergi menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Sedangkan Ruo An melanjutkan lamunannya. 'Apakah pria bertopeng itu adalah Bai Long ? Aku yakin pria itu adalah Bai Long karena suara mereka sama persis'.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah jendela. Ruo An melihat seorang pria bertopeng yang mengenakan topeng rubah. Mata pria itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan menatap lurus ke arah dirinya. Gambaran yang Ruo An lihat adalah seorang pria misterius yang diterangi oleh cahaya dari bulan sabit.
"Bai Long apakah itu kamu ?" Ruo An mulai mendekat ke arah pria itu. Sedikit demi sedikit kakinya mulai berjalan maju. Setelah mata mereka saling berdekatan terasa sebuah kehangatan yang menyelimuti mereka berdua.
"Ruo An", panggil Bai Long dengan lembut. Tangannya kini mulai mengusap pipi Ruo An yang halus itu.
"Mungkin ini adalah hari yang buruk untukmu tapi aku harus pergi ke suatu tempat dan aku tidak akan bisa bertemu denganmu untuk waktu yang lama", ucap Han Chen.
"Memangnya kamu mau pergi kemana ?" tanya Ruo An.
"Aku akan pergi ketempat yang cukup jauh. Bisakah kamu menungguku ? Setelah selesai aku akan langsung mendatangimu", ucap Han Chen dengan nada lembut.
"Ini ambillah. Didalam cincin ini ada beberapa inti monster dan batu spiritual yang bisa kamu gunakan untuk berlatih !" ucap Han Chen sambil memberikan cincin penyimpanannya.
Ruo An mengambil cincin yang diberikan oleh kekasihnya itu. "Apakah kamu benar-benar akan menemuiku setelah urusanmu disana selesai ?"
"Ya aku janji. Ini adalah permintaan keduaku dan kamu harus menungguku sampai kedatangan ku tiba ! Dan jangan panggil aku dengan Bai Long mulai sekarang karena namaku yang sebenarnya adalah Han Chen !" ucap Han Chen.
"Han Chen" ucap Ruo An dengan lembut.
__ADS_1
"Aku harus segera pergi. Kamu tunggulah aku !" Han Chen mulai mengambil topeng rubah-nya dari tangan Ruo An.
Saat Han Chen ingin pergi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Ruo An. Ruo An langsung mencium bibir Han Chen sebagai tanda Han Chen harus kembali dan menemui Ruo An setelah urusannya selesai.
"Berjanjilah kalau kamu akan menemuiku kembali Han Chen !" ucap Ruo An dengan berbinang air mata.
"Hmm... itu sudah pasti !" Setelah itu Han Chen segera pergi dan meninggalkan Ruo An.
Ruo An masih berlinang air mata sambil menatap kepergian Han Chen yang lama-lama semakin tidak terlihat oleh matanya. Ruo An memeriksa cincin yang diberikan oleh Han Chen kepadanya, dia kaget saat melihat ratusan inti monster dan satu buah batu spiritual yang berukuran besar.
"Sepertinya aku masih belum bisa memahami mu", ucap Ruo An sambil tersenyum.
"Kakak aku sudah membawakan minuman mu", ucap Ruo Ning yang memegang dua gelas air ditangannya.
"Kakak apa yang terjadi sewaktu aku pergi !?" Ruo Ning terkejut melihat kakaknya yang berlinang air mata.
"Ah bukan apa-apa. Apakah gelas satunya punyaku ?" Ruo An mengambil gelas yang berisi air yang tengah di bawa Ruo Ning. Ia lalu langsung meminum airnya.
Di udara terlihat Han Chen yang sedang senang. Ia menyentuh bibirnya sambil tersenyum. "Aku pasti akan menjadi kuat dan akan melindungi mu !" Han Chen lalu memakai topengnya kembali untuk menuju ke suatu tempat sebelum ia pergi ke tempat jauh.
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu dari asrama tuan Feng. "Siapa itu ? Pelayan tolong bukakan pintunya", perintah tuan Feng kepada pelayannya.
Pelayan itu segera berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu. Terlihat seorang pria yang tengah mengenakan sebuah topeng diwajahnya. "Siapa kau ? Dan ada urusan apa kau menemuiku ?" tanya tuan Feng.
Han Chen segera masuk dan duduk berhadapan dengan tuan Feng. "Aku kemari karena ingin meminta tolong kepadamu".
Mendengar suara yang sedikit familiar tuan Feng mulai mengingat ngingat siapa orang yang memiliki suara itu. Setelah dia mengingat orang yang dihadapannya ini ternyata adalah orang yang telah menghajarnya sewaktu masih berada di dunia rahasia.
"Memang apa yang bisa aku bantu ? Meskipun kau lebih kuat dariku tapi aku tidak ingin membantu orang dengan cuma-cuma !" ucap tuan Feng.
Han Chen segera melemparkan sebuah teknik ke arah meja didepannya. " Ini adalah pembayaran mu. Kau cukup melindungi wanita yang bernama Ruo An dan adiknya yang bernama Ruo Ning sampai aku sampai urusan ku di suatu tempat selesai !" ucap Han Chen.
Teknik yang Han Chen berikan itu adalah teknik yang ia dapat dari kotak perak yang baru ia buka saat tengah terbang tadi.
Tuan Feng mulai mengambil teknik yang dilemparkan oleh pria itu. 'Dari mana dia mendapatkan teknik tingkat Raja ini ? Di alam rendah ini teknik yang paling tinggi adalah tingkat langit'.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menyetujui permintaanmu, tapi kira-kira kapan urusanmu akan selesai ?, karena aku juga mempunyai urusanku sendiri untuk aku lakukan", ucap tuan Feng.
"Aku tidak tahu. Kau hanya perlu menjaga mereka berdua sampai aku kembali. Kalau begitu aku akan pergi dulu. Ingat aku tidak ingin adanya sebuah kesalahan di perjanjian ini !" Han Chen lalu langsung menghilang dihadapan tuan Feng.