
"Pak." Bima mengangkat tangannya.
"Ya?"
"Bapak bilang ... kita boleh melakukan hal yang kita sukai," kata Bima.
"Benar."
"Saya suka tidur. Berarti ... saya boleh bawa kasur?" tanya Bima.
"Kasur?" ulang pak Bayu.
Pak Bayu dan Bu Rika sedikit terkejut dengan ucapan Bima.
"Yang benar saja, Bima. Hahaha."
"Kayaknya kalo kasur gak bisa deh, Bim. Soalnya kan di klub ini ada wanita. Kalo ada kasur, takutnya dikira macem-macem sama yang lain," tutur bu Rika mengemukakan kekhawatirannya.
"Kalo gitu keluarin aja gadis aneh itu, Bu," ucap Hadyan bercanda.
"Kamu ini. Masa ketua dikeluarin. Ada-ada aja," balas bu Rika.
"Mungkin kalau semacam sofa bisa," ujar pak Bayu.
"Mending kita pikirin aja. Apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menata klub ini," ujar bu Rika.
Fadhil mengangkat tangannya. "Tapi ... klub ini tidak jelas kegiatan dan tujuannya. Jadi bagaimana kita bisa tau apa yang kita butuhkan?" Fadhil mengemukakan pendapatnya.
Candra mengangguk setuju dengan pendapat Fadhil.
"Benar juga. Ah, kalau begitu terserah kalian aja. Asal jangan kasur dan barang aneh lainnya," putus bu Rika. "Begitu pak Bayu?"
Pak Bayu mengangguk setuju.
"Oke. Itu saja untuk pertemuan kali ini. Ini kunci masing-masing anggota. Untuk milik Leilani, bapak titip sama kamu Fahd," ujar pak Bayu sambil menaruh delapan kunci ke tengah-tengah mereka.
***
Keesokan harinya, Leilani akhirnya kembali sekolah. Pagi-pagi, ia langsung pergi menuju klub, karena pak Bayu menyuruhnya.
Semalam, pak Bayu memberi intruksi di grup chat mereka. Pak Bayu membuat grup chat beranggotakan pak Bayu, bu Rika dan kedelapan anggota klub.
Awalnya, para anggota memilih keluar dari grup chat, karena pak Bayu dan bu Rika terus berkirim pesan tidak penting di sana.
Namun setiap kali mereka keluar dari dalam grup, pak Bayu dan bu Rika akan kembali memasukkan mereka. Pada akhirnya mereka lelah sendiri dan mengalah pada kemauan kedua gurunya.
Leilani segera masuk ke dalam klub. Ia sedikit terkejut karena cukup banyak barang baru di sana. Ada sofa, kursi baca, karpet, lemari, meja kecil, meja besar, gantungan baju, kursi dan meja gamer, bahkan ada juga dispenser dan bantal. Semuanya sudah tertata sempurna.
"Kenapa banyak sekali barang?" tanya Leilani heran. "Bukannya cuma mau mengganti barang-barang yang dibuang ya?"
"Tidak apa-apa. Pak Bayu bilang, anggep aja ruangan milik sendiri," jawab Restu sambil tersenyum manis pada Leilani.
"Oh. Tapi siapa yang beli?" tanya Leilani.
"Kita semua. Kita semua menyumbang barang untuk klub ini," jawab Hadyan malas.
Leilani menundukkan kepalanya. "Maaf. Aku tidak punya uang untuk menyumbang," sesal Leilani.
__ADS_1
Ketujuh pemuda yang ada di sana diam. Sepertinya mereka tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Jangan akting sedih. Itu lebih menyebalkan," ucap Hadyan dengan nada dingin.
Fadhil membuka kaca jendela agar udara segar masuk ke dalam ruangan.
Angin yang berhembus membuat rambut Leilani tersingkap ke belakang.
"Mba Kun, lo pake make up?" tanya Kalevi ketika melihat pipi sebelah kiri Leilani yang seperti memakai bedak. "Tuh, belepotan. Nggak rata."
"Nggak kok," bantah Leilani.
Sebenarnya, Leilani memang memakai fondation milik bi Sumi untuk menyamarkan luka bekas tamparan di wajahnya. Ternyata kelihatan.
"Masa?" Kalevi tidak percaya. Ia yakin Leilani memakai make up di wajahnya.
Sementara itu, keenam pemuda lainnya juga ikut penasaran. Apa benar Leilani memakai make up?
Hadyan turun dari atas meja. Ia menghampiri Leilani dan kemudian memperhatikan wajahnya.
Leilani memundurkan wajahnya ketika wajah Hadyan semakin dekat dengan wajahnya.
"Stop!!" kata Candra tiba-tiba.
Semua orang langsung beralih menatap Candra dengan tatapan bertanya.
Candra sedikit gelagapan. "Kita ke sini bukan mau bahas make up, kan?" ucap Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah bener," timpal Fadhil. "Ayo kita duduk."
Hadyan pun akhirnya kembali duduk di atas meja.
"Kemarin, anak-anak banyak yang datang ke sini. Mereka ingin masuk ke klub ini,” ucap Fadhil pada Leilani.
"Oh. Begitu," balas Leilani.
"Jangan cuma oh. Lo musti ambil tindakan," ujar Hadyan.
"Oh. Aku harus bagaimana?" tanya Leilani bingung.
"Tolak," jawab jawab Hadyan.
"Bener. Tolak semua. Males kalo kebanyakan orang," timpal Kalevi.
"Kenapa kalian tidak tolak sendiri saja?" tanya Leilani.
"Lo kan ketua,” balas Hadyan.
"Oh, baiklah," kata Leilani akhirnya.
"Nanti jam istirahat katanya mereka akan ke sini. Siap-siap aja," ucap Fadhil.
Leilani pun menganggukkan kepalanya.
"Selsai? Tumben cepet," sindir Hadyan.
Tiba-tiba ...
__ADS_1
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu klub yang terbuka. Itu adalah Rosa. Dia menunjukkan senyuman terbaiknya.
Hadyan langsung merubah ekspresinya. la kembali berakting menjadi pria kemayu dengan senyuman cerah di wajahnya. "OMG ... Rosa," ucapnya.
"Boleh masuk?" tanya Rosa.
"Tentu," jawab Kalevi dan Bima kompak.
Kalevi dan Bima langsung saling berpandangan satu sama lain dengan raut tak suka.
Seperti yang kalian ketahui, Kalevi dan Bima sangat menyukai gadis cantik. Dan Rosa masuk ke dalam kriteria mereka.
Rosa tersenyum senang setelah dipersilakan. Ia pun hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Berhenti di situ!" titah Fadhil dengan nada datarnya. "Tidak ada yang boleh masuk ke sini kecuali anggota."
Rosa tersenyum kaku mendengarnya. "Oh. Begitu ya?"
Fadhil mengangguk pelan. "Silakan tanya pada ketua," ucap Fadhil sambil melirik Leilani.
"Ketua?" Rosa kelihatan sedikit terkejut.
"Lani ketuanya?" tanya Rosa tidak percaya.
"Iya," ujar Leilani.
"Oh. Begitu. Ya sudah. Aku ke sini cuma mau memberikan ini," tutur Rosa sambil menunjukkan seragam di tangannya.
Ketujuh pria yang ada di sana mengerutkan kening melihatnya.
"Bajunya sudah aku cuci sesuai permintaan kamu, Lani. Ini,” ucap Rosa dengan senyuman pura-pura.
Leilani pun mengambilnya dari Rosa. "Terimakasih," ucap Leilani.
"Sama-sama, balas Rosa.
Setelah Rosa pergi, Leilani pun menghampiri Restu dan kemudian menyerahkan seragam itu padanya. "Terimakasih seragamnya."
Restu menerima seragam itu dengan penuh tanda tanya. "Sama-sama. Tapi ... kenapa seragamnya jadi ada pada Rosa?"
Semua menunggu jawaban dari Leilani.
"Kenapa ya? Aku juga tidak tau."
"Dasar aneh!" gumam Hadyan.
Leilani tidak berbohong. Dia tidak tahu kenapa seragam Restu ada pada Rosa. Seingat Leilani, kemarin ia masih menggantungnya sehabis di setrika.
"Oh ya, nanti harus ada yang jaga pintu supaya tertib," usul Leilani.
"Tenang. Kita bertujuh gantian jaga pintu. Fokus saja buat nolak mereka," jawab Fadhil.
"Hm ... selamat bertarung, Mba Kun. Lo musti bisa cari alesan yang tepat buat nolak mereka semua," canda Kalevi.
"Turut prihatin,” ucap Hadyan sambil mengangkat sudut bibirnya.
__ADS_1
***