Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Adik Candra?


__ADS_3

Minggu


Satu persatu para anggota mulai berdatangan ke rumah Candra. Mereka sudah membawa segala macam keperluan untuk berkebun dari rumah mereka masing-masing. Sesuai dengan pembagian tugas yang telah disepakati.


Mereka juga sudah belajar tata cara menanam tumbuhan dari internet. Sekarang, tinggal mereka praktikan saja ilmunya.


"Eh ... banyak tamu ya," kata bu Fyna saat melihat para anggota klub spesial sudah berkumpul di teras rumahnya.


Candra memang sudah memberitahu bu Fyna kalau para anggota klub akan datang hari ini. Jadi bu Fyna sudah tidak kaget lagi.


Dimas yang melihat bu Fyna langsung mengulurkan tangan untuk mencium tangan bu Fyna.


Bu Fyna tersenyum melihat sikap sopan yang ditunjukkan oleh Dimas. Berbeda dengan bu Fyna, para anggota klub yang lain justru kaget dibuatnya. Dimas yang mereka kenal berandalan menunjukkan sikap hormatnya pada orang yang lebih tua.


Para anggota yang lain pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Dimas. Mereka juga ikut mencium tangan bu Fyna.


Setelah itu, mereka pun memerkenalkan diri satu persatu pada bu Fyna. Dan untuk Kalevi, dia tidak perlu lagi memperkenalkan diri, karena bu Fyna tentu saja sudah kenal dengan dia.


"Kalian udah sarapan?" tanya bu Fyna.


"Udah, Tante," kata Kalevi.


"Tante udah nyiapin bekal buat kalian. Nanti dimakan ya," kata bu Fyna ramah.


"Makasih. Jadi ngerepotin, Tante," kata Restu.


"Enggak. Nggak repot kok. Tante malahan seneng," balas bu Fyna.


"Tante ke dalam dulu ya. Mau nyusul Candra sama Lely. Maksudnya Leilani," lanjut bu Fyna.


Mereka pun menganggukkan kepala pada bu Fyna sebagai jawaban.


"Iya. Terimakasih," kali ini Fadhil yang bicara mewakili mereka semua.


Bu Fyna pun berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya. Sementara para anggota, mereka menunggu sambil memainkan ponselnya.


"Candra sama ketua masih lama?" tanya Fadhil.


"Ck. Ketua kita emang udah kebiasaan telat kalo acara ngumpul-ngumpul kayak gini, kan? Jadi udah gak kaget lagi," kata Hadyan bosan.


"Emang kenapa? Lo ada urusan lain ya?" tanya Restu.


"Bukan. Gue mau numpang ke kamar mandi," jawab Fadhil.


Restu terkekeh geli. "Oh. Kirain ada apa. Coba telpon aja," saran Restu.

__ADS_1


Kalevi menimpali. "Lo masuk aja. Lurus, terus belok kanan. Atau engga, lo tanya aja sama ART nya," kata Kalevi.


"Sok tau banget lu," ejek Bima.


Kalevi tersenyum sinis. "Lah! Emang gue tau. Gue udah beberapa kali dateng ke sini," kata Kalevi bangga.


"Dateng ke sini? Ngapain?" tanya Restu penasaran.


"Ya maen aja. Kadang makan malem juga," jawab Kalevi. "Pergaulan gue tuh luas. Temen gue bukan cuman satu aja lah. Gak kayak ... musuh gue," sindir Kalevi pada Bima.


Setelah persahabatan Kalevi dan Bima rusak, Kalevi memang lebih sering menyebut "musuh" pada Bima daripada memanggil namanya.


"S*al*n," gumam Bima pelan. Bima memilih untuk diam dan tidak meladeni sifat kekanak-kanakan Kalevi.


Kalevi merasa puas. Ia tahu, satu-satunya sahabat Bima hanyalah dirinya. Dan sekarang, Bima pasti tidak punya teman dekat sama sekali. Kalevi tahu betul bagaimana Bima. Hanya Kalevi lah yang mampu dekat dengan Bima sejauh ini.


"Berantem mulu kalian, kayak orang pacaran," sindir Hadyan.


Restu, Fadhil dan juga Dimas langsung tertawa mendengar guyonan Hadyan.


Fadhil pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk menumpang ke kamar mandi. Dia sudah tidak tahan lagi.


"Permisi," kata Fadhil pada seorang wanita.


"Iya," jawab wanita itu dengan wajah bingung.


"Oh, silakan. Sebelah sana," kata wanita itu sambil menunjukkan letak kamar mandi.


"Terimakasih," kata Fadhil.


Wanita itu pun mengangguk dan kemudian berlalu pergi.


Setelah selesai dengan hajatnya, Fadhil pun kembali pada teman-temannya. Sementara itu, Leilani dan Candra masih belum datang juga.


"Lev!" seru Fadhil.


"Oy? Apa?" jawab Kalevi.


"Si Candra punya adek cewek?" tanya Fadhil.


Kalevi kelihatan sedikit berpikir. "Engga. Setau gue dia anak tunggal. Emang kenapa?" tanya Kalevi.


Fadhil kelihatan agak bingung. "Enggak. Barusan gue ketemu cewek. Kayaknya seusia sama kita,"kata Fadhil.


Kalevi mulai berpikir keras. "Gak tau juga sih. Nanti tanyain aja sama si Candra kalo lo emang penasaran," kata Kalevi.

__ADS_1


"Emang ceweknya cantik ya? Gak biasanya lo tertarik sama cewek," goda Restu sambil merangkul pundak Fadhil.


Fadhil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan sikap Restu. Ia pun langsung menurunkan kembali tangan Restu dari pundaknya karena ia merasa tidak nyaman.


Setelah beberapa saat, akhirnya Candra, Leilani dan juga bu Fyna keluar juga. Mereka bertiga menenteng bekal untuk mereka nanti. Tidak lupa juga, Candra dan Leilani membawa bahan yang menjadi bagian mereka.


"Lani mana?" tanya Restu sambil celingak celinguk melihat ke arah dalam.


Candra dan bu Fyna mengerutkan keningnya.


"Lo buta?!" balas Candra.


Restu sedikit kaget dengan balasan Candra.


"Buta gimana?" tanya Restu bingung. Apa ia salah bicara? Pikir Restu.


Sementara itu, Kalevi hanya tertawa geli tanpa mengeluarkan suara. Sepertinya Restu juga pangling melihat Leilani yang berpenampilan beda. Sama seperti Kalevi saat makan malam waktu itu. Kalevi pun begitu, dia juga hampir tidak mengenali Leilani jika saja Leilni tidak menyebutkan namanya.


Jangan-jangan, gadis yang Fadhil kira adik Candra itu, Leilani. Kalevi pun hanya bisa tertawa dalam hati.


"Ini aku, Leilani. Apa gak kelihatan?" kata Leilani sambil mengangkat tangan kananya.


Fadhil, Restu, Bima dan juga Hadyan saling bertatap-tatapan. Sepertinya mereka juga pangling melihat penampilan Leilani yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Lani? Ini kamu?" kata Restu dengan wajah yang kelihatan masih syok.


"Iya," kata Leilani bingung.


Sementara itu, bu Fyna hanya tertawa. "Kenapa? Kalian pangling ya?" kata bu Fyna.


"Ini emang Leilani yang kalian kenal. Penampilannya emang agak beda. Tapi dia memang Leilani," kata bu Fyna bangga.


Candra menunjukkan wajah kesal pada teman-teman satu klubnya. Mereka terus memperhatikan Leilani dari atas sampai bawah.


"Apa-apaan lo pada?! Ngapain liatin sepupu gue kayak gitu?!" kata Candra tak terima.


Bu Fyna menyikut putranya. "Kamu ini. Pantesan Lely gak punya pacar. Kamunya overprotektif kayak gitu."


"Emang harus gitu, Ma. Mama gak tau aja siapa mereka," kata Candra dengan wajah kesal.


Leilani hanya menghela nafas Lelah melihat semuanya. Tapi, setelah dilihat-lihat, sepertinya ada yang aneh.


"Eh? Kalian mau kotor-kotoran dengan pakaian seperti itu?" tanya Leilani bingung.


Bu Fyna dan Candra pun baru sadar. Kenapa para anggota klub memakai pakaian bagus seperti itu. Mereka mau berkebun, bukan nongkrong atau jalan-jalan.

__ADS_1


Para anggota saling melihat penampilan mereka satu sama lain. Benar juga apa yang dikatakan oleh Leilani.


***


__ADS_2