Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Bagaimana Kalau Aku Jatuh Cinta?


__ADS_3

"Hah?! Jadi kamu lebih milih dia?" ujar Karin dengan tatapan tak percaya.


Candra menganggukkan kepalanya.


"Wah ... brengsek lo," timpal Kalevi.


Karin mulai berkaca-kaca. "Apa lebihnya dia dari aku hah? Apa dia lebih cantik? Apa dia lebih pinter? Enggak, kan?" protes Karin.


Candra hanya diam.


"Oh, apa jangan-jangan ... dia kasih tubuhnya buat dapetin kamu hah?!" lanjut Karin.


"Dasar cewek murah!"


"Gue makin yakin kalo kita mending putus aja," ujar Candra setelah mendengar Karin mencaci sepupunya.


"Oke. Kita putus. Selamat buat hubungan menjijikan kalian!" ucap Karin sambil meneteskan air mata.


Karin beranjak dari duduknya. Ia hendak pergi dari sana.


"Tunggu!" pinta Leilani.


Leilani menatap lurus mata Candra. "Kita katakan saja yang sebenarnya."


Candra sedikit terkejut dengan keputusan Leilani. "Lo yakin? Lo yakin bakal baik-baik aja?" tanya Candra khawatir.


Karin tersenyum sinis melihat Candra yang begitu khawatir pada Leilani.


"Yakin. Lagian, ini cuma diantara kita," jawab Leilani.


"Aku harap ... kalian juga merahasiakannya," pinta Leilani pada pada semua orang yang ada di sana.


Karin pun duduk kembali ke tempatnya. Semua orang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Leilani pada mereka.


Leilani menghela nafasnya. "Sebenarnya kami saudara," ucap Leilani.


"Hah?!"


Semua orang tidak menduga dengan pernyataan yang keluar dari mulut Leilani.


"Cukup. Udah cukup. Gak mungkin sodara semesra itu. Ini cuma alasan klasik buat nutupin hubungan kalian, kan?" Karin tidak mau percaya begitu saja.


"Masuk akal. Mungkin ini cuma alibi buat nutupin perselingkuhan kalian," timpal Kalevi.


"Aku akan jelaskan," ujar Leilani.


"Kamu ingat waktu kamu bilang aku pakai make up?" kata Leilani pada Kalevi.


"Waktu itu? Iya. Gue inget. Make up nya gak rata. Untung ketutupan sama rambut kunti lo itu” ujar Kalevi sedikit bercanda.


"Sebenarnya ada satu insiden yang membuat wajah aku memar. Makanya hari sebelumnya aku tidak pergi ke sekolah. Ya, kan?" Leilani meminta dukungan atas pernyataannya.


"Iya. Terus?" Fadhil membenarkan perkataan Leilani.


"Nah, waktu itu aku memakai foundation untuk menutupi lukanya. Makanya itu tidak rata," aku Leilani.


"Oh, pantesan aneh gaya make up-nya. Kirain gak rata, ternyata emang sengaja," balas Kalevi.


Leilani menganggukkan kepalanya. "Nah. Waktu itu Candra tau kalau itu untuk menutupi luka," tutur Leilani.


"Kok bisa?" tanya Kalevi.


"Karena kita sodara," jawab Candra.

__ADS_1


"Adegan yang kalian lihat di foto itu, dia cuma mau memastikan kalau aku baik-baik saja. Itu alasannya. Aku sudah mengatakan kebenarannya. Terserah kalian mau percaya atau tidak," tutur Leilani panjang lebar menjelaskan semuanya.


"Syukurlah," ucap Fadhil tiba-tiba.


"Syukur?" ulang Candra.


Fadhil hanya diam dan tidak meresponnya.


"Gimana kalo ini cuma karangan aja?" kata Karin.


"Nih! Gue nyimpen foto keluarga. Kalian liat aja. Masa kalian gak liat kalo gue sama Leilani agak mirip. Payah!" ujar Candra sambil menunjukkan foto-foto keluarga di ponselnya.


Mereka pun akhirnya percaya sepenuhnya pada Leilani dan juga Candra.


Sekarang, Karin kelihatan malu sekali pada Leilani. Dia merasa bersalah karena sudah mempermalukan Leilani. Apalagi ternyata Leilani adalah sepupu dari orang yang ia cintai.


"Lani, maaf ya ..." ucap Karin sambil menundukkan kepalanya.


"Iya," jawab Leilani enteng.


"Gitu aja?" tanya Karin.


"Emang harus gimana?" tanya Leilani tidak mengerti.


"Gak ada syarat gitu, atau semacemnya?" balas Karin.


"Apa ya?" Leilani mulai berpikir. "Tolong rahasiakan ini. Itu aja kayaknya."


"Oke," jawab Karin senang. "Pokoknya, ini rahasia kita."


Karin beralih pada sang kekasih. "Sayang ... kita gak jadi putus, kan?"


"Gak tau. Liat aja nanti," jawab Candra.


***


Hari ini, giliran Restu yang mengantar Leilani. Di sepanjang perjalanan, Restu dan Leilani terus mengobrol satu sama lain.


"Lani," panggil Restu.


"Iya."


"Aku rasa semakin hari aku semakin tertarik," ungkap Restu.


"Tertarik pada?" tanya Leilani sambil mengerutkan dahinya.


"Kamu," jawab Restu sambil menatap lurus mata Leilani.


"Karena aneh?" tanya Leilani.


"Bagaimana kalau aku jatuh cinta?" ucap Restu dengan wajah seriusnya.


Leilani sedikit terkejut. Ia bingung harus menjawab apa. Makanya ia hanya diam mematung ditempatnya.


"Ahaha. Aku cuma bercanda," ucap Restu sambil tertawa.


Leilani pun merasa lega, ia pun ikut tertawa mendengarnya.


"Mama lihat sendiri, kan?" ujar Rosa mengintip dari balik jendela.


Rosa mengajak Ratih untuk mengintip Leilani pulang. Ia ingin membuktikan perkataannya pada Ratih.


Rosa sedikit melebih-lebihkan perkataannya. Dia bilang, setiap hari Leilani bergonta-ganti pria.

__ADS_1


Rosa juga mengadukan kejadian tadi siang saat Karin melabrak Leilani di kelas.


"Sampai jumpa besok. Kalau ada apa-apa, bilang saja. Jangan sungkan," ucap Restu sebelum pergi dari sana.


Leilani tersenyum dan kemudian menganggukkan kepala.


Leilani berjalan menuju rumahnya. Ia tidak tahu bahwa ibu dan saudari tirinya sudah menantinya.


Leilani sedikit terkejut dengan situasi ini. Tidak biasanya mereka berdua menyambutnya seperti ini.


Firasat Leilani mulai tidak enak. "Ma," sapa Leilani.


Ratih menyilangkan tangan di atas dada. Ia mendengus memperhatikan penampilan putri kandungnya yang sangat berantakan.


"Ternyata apa yang kamu bilang benar, Sayang," ucap Ratih ketika melihat bekas tamparan di wajah Leilani.


Rosa tersenyum dalam hati. Ini Rosa lakukan karena Rosa makin kesal melihat Leilani dekat dengan para pria populer itu.


Terlebih lagi, Gina mengatakan bahwa kemarin dia melihat Leilani dan Fadhil pulang bersama. Lebih tepatnya, Fadhil mengantarkan Leilani pulang sampai ke rumah.


"Udah pinter sekarang, ya?" ucap Ratih sarkas.


Plak


Lagi-lagi Ratih menampar wajah Leilani meski sudah terdapat bekas tamparan di sana.


"Bukannya belajar! Malah main cowok! Mau jadi apa?!" bentak Ratih.


Plak


"Apa kamu pikir, aku menyekolahkanmu cuma-cuma?! Aku menyekolakanmu agar sedikit berguna!" sentak Ratih sambil menoyor kepala putri kandungnya.


Rosa kembali tertawa dalam hati melihatnya.


"Pergi dari sini!" ucap Ratih sambil memalingkan muka.


"Ma ...." Leilani memelas pada sang mama.


"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" ujar Ratih dengan mata berkaca-kaca.


"Seharusnya aku membuangmu sejak dulu saja," lanjut Ratih sambil menyeret Leilani keluar dari rumahnya.


Leilani meraung-raung dari luar pagar. Ia memohon belas kasihan ibu kandungnya.


Ratih sudah meneteskan air mata. "Tolong pergi! Mungkin aku akan mememaafkanmu jika kamu pergi. Jangan lagi tunjukkan wajahmu di hadapanku," ucap Ratih yang kemudian berbalik pergi, meninggalkan Leilani.


"Jangan bukakan pintu untuk dia!" titah Ratih pada sang satpam.


"Non ... maaf. Bapak gak bisa bantu," sesal pak satpam.


"Pak satpam, apa aku harus pergi?" tanya Leilani.


"Jangan, Non," cegah pak satpam. "Nyonya Ratih pasti akan berubah pikiran nanti. Dia sedang emosi."


Leilani menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menunggu mama berubah cukup lama. Mungkin ini satu-satunya cara agar mama berhenti membenciku, Pak."


Pak satpam semakin iba.


"Tolong sampaikan pesan pada bi Sumi. Jangan kemana-mana. Tolong temani mama. Aku akan segera kembali." Leilani menitip pesan pada pak Satpam.


"Baik, Non."


***

__ADS_1


__ADS_2