Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Memulai Rencana


__ADS_3

Ternyata benar dugaan Leilani. Fadhil memblokir nomornya. Sefatal itukah kesalahan Leilani sampai-sampai Fadhil harus memblokir nomornya? Pikir Leilani.


Tapi apa salahnya? Kesalahan apa lagi yang ia perbuat pada Fadhil? Kesalahpahaman waktu itu saja belum tentu Fadhil sudah memafkannya. Sekarang malah bertambah lagi masalahnya. Bisa-bisa, pertemanan ia dengan Fadhil benar-benar akan berakhir.


Leilani menggeleng-gelengkan kepalnya kasar. "Tidak, tidak."


Leilani ingin menghilangkan segala pikiran negatif yang hinggap di kepalanya. Ia ingin berpikir positif saja. Ia harus yakin bahwa hubungan pertemanannya dengan Fadhil akan baik-baik saja.


Pokoknya, besok Leilani harus meluruskan masalah ini dengan Fadhil. Agar masalah diantara mereka berdua tidak berlarut-larut seperti ini.


Kalau sudah ada kejelasan, Leilani tidak akan terus kepikiran seperti ini. Makan kepikiran, tidur juga kepikiran. Leilani tidak mau terus-terusan seperti ini.


***


Keesokan harinya


Leilani menunggu kedatangan Fadhil di dekat pintu gerbang. Sudah lima belas menit Leilani menunggu di sana. Tapi Fadhil belum muncul juga.


'Itu dia,' batin Leilani.


Fadhil baru saja sampai ke sekolah. Akan tetapi, ternyata pagi ini Fadhil datang bersama dengan Romi.


Melihat keberadaan Romi di samping Fadhil, membuat Leilani mengurungkan niatannya. Mungkin nanti saja sat Fadhil tidak sedang bersama dengan Romi.


Bukannya apa-apa. Tahu sendiri kalau Romi sangat membenci Leilani. Makanya Leilani memilih untuk menghindar saja dan mencari waktu yang tepat nanti.


Fadhil sebenarnya sempat menoleh pada Leilani. Bahkan mata mereka sempat beradu pandang. Akan tetapi, saat Fadhil melihat keberadaan Leilani, Fadhil langsung membuang muka.


Leilani pun pergi menuju kelasnya. Ia berjalan sedikit jauh di belakang Fadhil.


Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, Leilani hanya bisa menatap punggung Fadhil dengan tatapan sedih. Biasanya Fadhil yang akan berusaha untuk bisa bersama dengan Leilani. Tapi sekarang tidak. Fadhil bahkan tidak mau bicara dengannya. Leilani mulai merasakan kehilangan di hatinya.


Teeet teeeet teeettt


Waktu istirahat telah tiba. Leilani hendak menghampiri Fadhil yang sedang memasukkan buku ke kolong meja.


"Rom," panggil Fadhil pada Romi yang sedang bicara pada Rosa.


"Mau main bola? Udah lama gue gak main bola," ajak Fadhil.


Romi kelihatan sangat antusias mendengar ajakan Fadhil. Sudah lama Romi tidak main bola dengan Fadhil. Karena setiap kali Romi mengajak Fadhil main bola, Fadhil selalu menolaknya.


"Ayok! Sekarang?" kata Romi semangat.


Fadhil dan Romi pun pergi menuju lapangan untuk bermain bola. Kesempatan Leilani untuk bicara pada Fadhil pun hilang. Ia harus menunggu kesempatan lainnya.

__ADS_1


Drrrtttt drrtttt drrttt


Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Leilani. Itu adalah sebuah pesan dari grup chat "Misi Rahasia". Leilani pun segera membukanya.


'Mba Kun.'


'Lo di mana?'


'Kita berdua udah nungguin lo di ruabgan klub.'


Begitu lah isi pesan yang dikirim oleh Kalevi lewat grup chat mereka bertiga.


Senyuman Leilani langsung mengembang begitu membacanya. Kalevi dan Bima sudah menunggunya. Itu artinya mereka berdua sedang sama-sama.


Leilani pun langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia hendak pergi untuk menemui kedua teman misi rahasianya.


Selepas kepergian Leilani, teman-teman di kelasnya mulai bergosip kembali.


"Kalian liat?" kata Gina.


"Liat apa?"


"Masa kalian gak nyadar sih?" kata Gina dengan wajah greget. "Itu si cewek cupu itu."


"Kenapa emang?" timpal Rosa.


"Bener juga ya. Kok gue baru nyadar sekarang." timpal yang lainnya.


Wajar saja mereka tidak sadar dengan perubahan penampilan Leilani, karena Leilani sendiri memakainya tidak sekaligus di satu hari.


Leilani awalnya mengganti sepatunya dulu dengan yang baru. Selang tiga hari kemudian, baru Leilani mengganti seragamnya. Setelah itu, satu minggu kemudian barulah Leilani memakai tas barunya dan juga ponselnya. Maka dari itu, tidak banyak yang sadar dengan perubahannya.


"Siapa coba yang ngasih dia?" kata Gina.


"Apa jangan-jangan anggota klubnya patungan ya buat ngasih si Lani? Mungkin mereka kasian liat si Lani. Aaaaahhh gue iri," kata seorang siswi lainnya yang duduk di dekat Rosa.


Gina menampakkan wajah tidak suka. "Ya enggak lah. Kalau pun misalnya nih ya ... misalnya anggota klub si Leilani yang ngasih ... ya kali mereka ngasih secara cuma-cuma." Gina mulai menghasut kembali teman-temannya.


"Iya juga ya. Apalagi handphonenya. Handphone kayak gitu tuh gak murah. Gue aja minta sama bokap nyokap gue gak dikasih," timpal seorang siswi berambut kriting.


"Kalian jangan mikir negatif gitu dong. Mungkin aja dia nabung." Rosa kembali berpura-pura membela Leilani.


Padahal, di dalam hati Rosa, Rosa sangat senang karena orang-orang bergosip buruk tentang Leilani.


"Ya kali dia nabung. Uang darimana coba? Gue yakin, dia pasti jual diri!!" kata Gina semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Rosa yang mendengar itu hanya bisa tertawa dalam hati.


"Tapi masa cowok-cowok sekelas Fadhil, Restu sama yang lain mau sama si Lani?! Masih banyak kali cewek yang mau sama mereka," tutur yang lainnya.


"Kayaknya dia jual diri sama om-om deh. Gak mungkin lah kalo sama cowok-cowok keren kayak mereka."


Indri yang sedari tadi diam, tiba-tiba mengeluarkan suara. "Apa mungkin ... sebenernya si Lani itu orang kaya ya?" kata Indri tiba-tiba.


Rosa yang mendengar itu sedikit terkejut. Kenapa Indri bisa berpikir sampai situ? Apa Indri sudah mulai curiga? Pikir Rosa.


"Ya kali," kata Gina dengan tatapan tak percaya. "Kalo dia kaya, mana mungkin dia pake pakean lusuh kemarin-kemarin."


"Mungkin aja kan, si Lani itu pura-pura miskin. Kemarin aja, dia pura-pura bodoh. Tapi liat sekarang, ternyata kenyataannya dia pinter banget. Saingan sama si Fadhil lagi," tutur Indri mengeluarkan semua pemikiran yang ada di benaknya.


"Tapi, setau gue Lani itu emang ... maaf ... dia dari keluarga gak punya," kata Rosa.


"Nah! Denger sendiri, kan? Rosa aja yang mantan sahabatnya bilang gitu. Rosa pasti lebih tau lah daripada kita-kita," kata Gina.


"Gak tau juga deh. Gue cuma kepikiran aja tiba-tiba," kata Indri akhirnya.


"Fix sih. Si Lani emang jadi l*nt*."


Hahahaha.


Mereka semua pun tertawa keras setelah mendengar lelucon yang menghina Leilani. Mereka sangat senang merendahkan Leilani.


Sementara itu, Leilani masuk ke dalam ruangan klub. Di sana sudah ada Bima dan juga Kalevi. Leilani langsung tersenyum melihat mereka berdua. Langkah awal yang Leilani rencanakan berjalan sempurna.


"Jadi, kita mulai dari apa dulu nih, Mba Kun?" tanya Kalevi.


Baru saja Leilani hendak menjawab pertanyaan dari Kalevi, tapi keburu Bima bersuara.


"Ya kalo dia tau dia gak akan minta bantuan kita, bego!!" kata Bima.


"Santai aja kali! Gak usah pake urat!" ujar Kalevi tidak terima.


Leilani pun segera bicara untuk memotong pertengkaran mereka berdua. "Stop. Kita harus ingat tujuan awal kita," kata Leilani mengingatkan mereka berdua.


"Gimana kalau kita amatin dulu aja si Adam?" usul Bima.


"Amatin gimana maksudnya?" tanya Leilani.


"Seminggu ini kita cari tau dulu tentang dia. Apapun. Pokoknya tentang dia. Baru nanti kita susun strategi. Gimana?" tanya Bima.


Leilani bertanya pada Kalevi. "Gimana?"

__ADS_1


"Oke," kata Kalevi menyetujuinya.


***


__ADS_2