Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Ekhm Ekhm


__ADS_3

"Tada ...."


Bu Rika membawa kedelapan Anggota ke taman sekolah. Di sana, sudah ada pak Bayu juga.


Tempat ini sangat pas untuk bersantai. Mereka bisa melihat berbagi aktivitas murid-murid di sekolah ini.


"Ayo. Duduk semua. Ini semua spesial bapak siapkan untuk kalian," ujar pak Bayu bangga.


Di hadapan mereka, sudah tergelar karpet dan juga makanan.


Terlihat ada nasi liwet beserta lalapannya. Sambal terasi, sambal hijau dan ikan asin juga. Ada jengkol dan kerupuk juga di sana. Cukup banyak menunya.


Mereka semua duduk melingkar. Leilani duduk di samping bu Rika. Di sebelahnya lagi ada Restu yang mengikutinya.


"Paan sih, Pak?! Ini hadiahnya?" ujar Candra dengan kata-kata meremehkan.


"Iya. Emang kenapa?" balas bu Rika kurang suka.


Sementara itu, pak Bayu hanya tersenyum mendengarnya.


"Gak level lah Bu, buat kita," protes Candra.


"Ya udah. Kalo gak mau gak usah. Kamu bagian fotoin aja. Yang lain makan," kesal bu Rika.


Candra pun memalingkan muka sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Oke deh. Gue coba. Gue juga penasaran gimana rasanya," ucap Kalevi.


Memang, notabene mereka berasal dari keluarga kaya. Di keluarga mereka jarang sekali disediakan hidangan seperti ini.


Sementara itu, Leilani sudah akrab dengan makanan seperti ini. Bi Sumi sering memasak masakan seperti ini, dan Leilani ikut makan bersamanya.


Fadhil mengangkat tangannya.


"Lo juga gak terima kan, Fahd?" Candra senang karena akhirnya ada yang sepemikiran dengannya.


"Piring ..." ujar Fadhil.


"Oh piringnya. Sabar!! Pak satpam lagi ambil buat kita," jawab pak Bayu. "Kalian cuci tangan dulu sana."


Mereka pun mencuci tangan mereka ke dekat lapangan. Di sana terdapat kran.


Pak satpam pun datang. Ia membawa beberapa lembar daun pisang.


"Oke. Makasih, Pak," ujar pak Bayu pada satpam paruh baya tersebut.


"Gak mau ikut gabung juga, Pak?" tawar bu Rika.


"Kalau gabung, siapa yang mau jagain pintu gerbang, Bu," jawabnya.


Pak satpam pun pamit undur diri.


"Jangan bilang, makannya di daun itu?" kata Candra curiga.


Pak Bayu tersenyum tanpa dosa. "Pintar!!"


"Wow!!" Kalevi takjub melihat daun pisang di sana. "Gue suka. Vibesnya kaya makan waktu pramuka," ucap Kalevi.

__ADS_1


Pak Bayu dan bu Rika tersenyum mendengarnya.


"Bima! Pimpin do'a!!" titah pak Bayu.


Bima sedikit kaget. Ia kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Itu kan tugas ketua, Pak."


Pak Bayu menggelengkan kepalanya. "Kali ini bapak ingin kamu yang memimpin do'a."


Anggota lain menahan tawa melihat ekspresi Bima.


Bima pun mulai mengangkat tangannya. Diikuti oleh yang lain juga.


"Lo kan gak mau makan, bego!! Ngapain ikut doa?" ujar Hadyan sambil menepis tangan Candra.


Candra mendelik tak suka pada Hadyan.


Bima pun mulai memimpin do'a. "Alloohumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa 'adzaabannaar. Aamiin."


Prok ... prok ... prok


Candra bertepuk tangan kagum mendengarnya. Sedangkan anggota yang lainnya, mereka sedikit menahan tawa karena Bima terdengar seperti anak kecil yang sedang di tes hafalan do'a-doa.


"Woah. Gue kagum sama lo, Bim," ucap Candra sambil mengangkat jempolnya.


Bima hanya tersipu malu mendengar pujian dari Candra.


Hadyan mendengus. "Biasa aja."


"Emang Io bisa?" balas Candra sambil mengangkat dagunya.


"Nggak," jawab Hadyan acuh tak acuh.


Leilani dan Restu saling berpandangan dan kemudian tersenyum bersama setelah mendengar pertikaian teman-temannya.


"Imutnya ..." gumam Restu setelah mendapat senyuman manis dari Leilani. Namun gumamannya hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


"Ya masa, do'a gitu aja kamu gak bisa," ucap bu Rika pada Candra. "Masa kalah sama anak TK."


"Ya maklum lah, Bu. Ayah saya muslim, ibu saya non muslim. Jadi saya juga bingung agama saya apa," ujar Candra jujur.


"Oh, gitu. Maaf, maaf." Bu Rika akhirnya mengerti alasannya.


"Ya sudah. Kita mulai makan aja!" ajak bu Rika.


"Tunggu dulu, Bu. Saya lupa belum ngasih kata sambutan," kata pak Bayu.


"Ya udah. Cepet, Pak. Laper nih."


"Oke. Jadi, acara makan kali ini bapak adakan sebagai hadiah untuk kalian," pak Bayu mulai memberi sambutan.


"Hadian apaan?" tanya Candra penasaran.


"Jangan banyak b*c*t! Dengerin aja apa susahnya?! Biar cepet kelar," bentak Dimas pada Candra.


Candra sedikit kaget mendengar


sentakan Dimas. Bukan takut, tapi suara Dimas itu ibarat petir yang suka muncul tiba-tiba.

__ADS_1


"Tenang-tenang," pak Bayu melerai pertikaian. "Ini adalah hadiah karena kalian sudah bisa bekerja sama sebagai sesama anggota. Kalian juga sudah selesai mengadakan acara dengan tertib dan lancar. Acara pendaftaran tadi adalah bukti bahwa kalian mulai bisa mengelola klub ini meski tanpa bantuan bapak dan juga bu Rika."


Pak Bayu memberikan kedua jempolnya.


"Huuuh ... tepuk tangan!!!" sahut bu Rika heboh.


Kedelapan anggota bertepuk tangan dengan enggan. Tapi, di dalam hati mereka, mereka bersorak bahagia mendengarnya.


'Ini seperti mimpi. Aaaa ....' Leilani berteriak dalam hati.


"Anggap juga ini sebagai acara syukuran atas terbentuknya kembali klub spesial. Oke, tanpa menunggu lama lagi ... mari kita makan!!!" seru pak Bayu.


Bu Rika pun mulai menyedok nasi liwet dan menggelarkannya di tengah-tengah mereka. la juga membagikan lauk pauknya.


"Candra. Berikan ini pada pak Satpam!" titah bu Rika sambil menyerahkan semangkuk nasi beserta lauknya.


"Kenapa saya?" protes Candra.


"Kamu kan gak mau makan," balas bu Rika.


Dengan sangat terpaksa, Candra pun melakukannya.


Di perjalanan, bau nasi liwet masuk ke indra penciuman Candra. "Nggak nggak nggak. Gue nggak boleh tergoda."


Namun, beberapa saat kemudian Candra menghentikan langkahnya. Ia kemudian melihat sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana.


Candra diam-diam sedikit mencicipinya.


"Woah ... gila."


Candra merasakan nikmatnya nasi liwet. la pun buru-buru pergi ke pak Satpam agar ia bisa bergabung makan dengan teman-temannya.


Candra bahkan sampai berlari ke sana. la pun segera kembali dan duduk di tempatnya.


"Baiklah. Karena bu Rika memaksa, jadi saya akan memaksakan diri untuk memakannya," kilah Candra.


Hadyan kembali mendengus. "Hh!! Bilang aja lo pengen makan juga!! So-soan bilang gak level. Ternyata dimakan juga," sindir Hadyan.


Candra sudah tidak peduli lagi dengan omongan Hadyan. Ia lebih fokus pada makanan yang ada di hadapannya. Candra bahkan makan paling lahap di sana.


"Lani!" panggil Restu sambil tersenyum manis.


Leilani pun menoleh pada Restu. "Iya."


"Itu ... belepotan," ucap Restu sambil melihat sudut bibir Leilani.


Tangan Restu bergerak hendak mengelap sudut bibir Leilani.


Leilani memelototkan matanya. Ia mulai panik. 'Dia pasti akan melakukan adegan seperti yang ada di drama-drama.'


"Ohok ohok. Ekhm!! Ekhm!!" tiba-tiba saja, Fadhil pura-pura batuk sambil menatap lurus mata Restu.


Restu menyadari itu. Ia tersenyum dan kemudian kembali menurunkan tangannya.


"Batuk, Pak Haji?" Canda Kalevi.


"Hem." Fadhil hanya bergumam kecil dan kemudian melanjutkan acara makannya kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2