Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Leilani terkejut mendengar ucapan Hadyan. Sudah berniat dari lama? Maksudnya bagaimana? Dan apa tujuannya? Leilani benar-benar tidak mengerti sama sekali.


Hadyan pun akhirnya menjelaskan semua setelah melihat ekspresi bingung Leilani. Wajar saja Leilani bingung, karena Leilani pasti tidak ingat.


"Dulu ... waktu kita masih SD," kata Hadyan mulai menjelaskan.


'Masih SD?' batin Leilani.


"Waktu kita masih SD kita pernah satu sekolah," lanjut Hadyan.


Leilani terkejut mendengar pengakuan Hadyan. Benarkah mereka berdua pernah satu sekolah? Kenapa Leilani tidak ingat sama sekali.


"Iyakah?" tanya Leilani memastikan. "Sekolah apa namanya?"


"SD Budi Pekerti," jawab Hadyan.


Leilani kembali dibuat terkejut. Benar. Dulu Leilani pernah sekolah di SD itu.


"Bener, kan?" kata Hadyan.


Leilani menganggukkan kepalanya. Ternyata yang dikatakan orang-orang itu benarya. Dunia itu memang sempit.


"Maaf, karena aku tidak ingat kamu. Aku benar-benar minta maaf," sesal Leilani.


Leilani merutuki dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa melupakan temannya sendiri. Leilani benar-benar merasa menjadi teman yang buruk.


"Apa dulu kita sekelas?" tanya Leilani lagi.


Hadyan menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kita gak sekelas. Kita bahkan gak saling kenal sama sekali," kata Hadyan membuat Leilani makin bingung.


"Tapi bagaimana kamu bisa tau aku kalau gitu?" tanya Leilani penasaran.


Masih berada di bawah payung ungu milik Hadyan. Hari ini, Hadyan akan mengatakan semuanya. Mengatakan segala hal yang selama ini disimpan sendirian olehnya. Hari ini akan Hadyan katakan dengan penuh kejujuran.


Flashback


Beberapa tahun lalu


Hadyan berjalan sendirian sambil hujan-hujanan. Dia selalu berangkat dan pulang sendirian, karena rata-rata teman-temannya akan dijemput oleh orangtua atau supir pribadi mereka.


Sedangkan Hadyan, Hadyan hanyalah seorang anak dari keluarga tak punya. Ibunya sudah lama menjanda. Bisa sekolah saja, Hadyan sudah sangat mensyukurinya.


Hari ini hujan turun dengan lebat. Hadyan lupa membawa payung dari rumahnya, karena tadi pagi cuaca terlihat begitu cerah. Akan tetapi, ternyata saat ia pulang malah turun hujan.


Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya. Seorang gadis kecil yang memakai seragam sekolah seperti dirinya membuka pintu mobil itu.


"Mau ikut naik mobil?" tanya gadis kecil itu.


Hadyan langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau ikut karena takut mengotori mobil mewah milik gadis itu.


Gadis kecil itu kemudian mencari sesuatu dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ini. Kalau begitu pakai ini. Tidak usah dikembalikan," kata gadis kecil itu sambil memberikan sebuah payung pada Hadyan.


Hadyan pun akhirnya menerima payung itu. Ia kemudian melihat papan nama yang tertera di seragam gadis kecil itu. Tertulis nama "Leilani" di sana.


Setelah itu, gadis kecil itu pun pergi. Hadyan tersenyum sambil menatap mobil gadis kecil itu yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan pandangannya.


Keesokan harinya, Hadyan mencari gadis kecil yang bernama Leilani di sekolahnya.


Gadis kecil itu sedang bermain bersama dengan dua orang temannya. Hadyan pun bergegas mengahampiri gadis kecil itu.


"Hey," kata Hadyan sambil mencolek tangan Leilani.


Leilani menoleh pada Hadyan.


"Ini," kata Hadyan sambil menyodorkan sebuah permen coklat pada Leilani.


Leilani langsung tersenyum sumringah saat melihat permen coklat itu. Ia pun langsung mengambilnya dari tangan Hadyan.


"Terimakasih," kata Leilani sambil tersenyum manis.


Setelah hari itu, Hadyan tidak pernah lagi melihat gadis kecil yang bernama Leilani di sekolahnya. Menurut kabar yang beredar, gadis kecil itu pindah sekolah entah kemana.


Flashback end.


Sekarang, Leilani ingat pada Hadyan. "Kamu anak manis yang memberi aku permen coklat. Iya, kan?" kata Leilani memastikan.


Hadyan tersipu malu. Bagaimana bisa Leilani menyebut Hadyan dengan sebutan anak manis? Hadyan sudah besar sekarang, bukan anak kecil lagi.


Hadyan pun menganggukkan kepala. Sementara itu, Leilani terlihat sangat antusias karena dia bisa bertemu dengan teman lamanya.


Hadyan diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Leilani. "Cari waktu yang tepat. Itu sebabnya gue masuk ke klub, karena gue tau, lo bakal masuk ke situ juga," tutur Hadyan.


Leilani tersenyum mendengarkan penjelasan Hadyan. Hatinya merasa tersentuh saat mendengarnya.


"Tapi kenapa selama ini kamu kelihatan tidak suka sama aku?" tanya Leilani heran.


Benar sekali. Selama ini Hadyan selalu bersikap sinis baik pada Leilani maupun yang lainnya.


"Malahan aku sempat berpikir kalau kamu membenci aku," tutur Leilani.


Hadyan yang mendengar itu tiba-tiba tertawa kecil. Jika diingat-ingat apa yang dikatakan Leilani ada benarnya juga. Hadyan pun sebenarnya juga tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu pada Leilani dan juga teman-teman yang lainnya.


"Gue juga gak tau. Kebiasaan kali," tutur Hadyan yang masih geli sendiri mengingat sikapnya pada Leilani.


Leilani sebenarnya masih sedikit bingung. Tapi di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa dia merasa bahagia. Dia merasa semakin banyak orang yang baik padanya. Ternyata dunia tidak seburuk yang ia kira.


"Gue udah ceritain semuanya. Sekarang gue udah ngerasa lega," kata Hadyan.


Leilani kembali tersenyum manis mendengarnya.


"Gue balik dulu," pamit Hadyan.

__ADS_1


Hadyan pun memberikan payung ungu miliknya pada Leilani. "Pegang," kata Hadyan.


"Loh, nanti kamu kehujanan," kata Leilani.


"Engga. Lagian ujannya udah reda. Gue males bawa payung soalnya," kata Hadyan.


Leilani melihat sekitar. Benar. Hujannya sudah reda. Ia pun mengambil payung ungu itu dari Hadyan.


"Gak usah dibalikin. Itu buat kenang-kenangan," kata Hadyan sebelum ia pulang.


Leilani pun mengangguk. "Terimakasih."


Setelah itu, Hadyan pun pergi dari sana untuk segera pulang ke rumahnya.


Saat Leilani hendak masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba saja hujan kembali turun. Leilani teringat pada Hadyan. Pasti Hadyan saat ini sedang kehujanan. Kalau pun naik mobil, butuh beberapa waktu dulu untuk bisa sampai ke jalan raya.


***


Malam hari


Leilani sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Kini, ia mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Candra.


Tuut tuut tuut


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Candra mengangkat telponnya.


'Halo, Ly. Lo gak papa, kan?' tanya Candra dari seberang telpon sana.


Leilani tersenyum mendengar kekhawatiran Candra. Candra memang sepeduli itu padanya. Pasti Candra khawatir karena Leilani menelpon tiba-tiba.


"Engga. Aku cuma mau nelpon aja," jawab Leilani.


'Syukur deh kalo gak papa,' kata Candra lega.


"Candra," seru Leilani.


'Apa?'


"Kamu mending minta maaf deh sama Hadyan," pinta Leilani.


Candra diam. Dia tidak menjawab perkataan Leilani.


"Candra," panggil Leilani untuk memastikan bahwa suaranya terdengar oleh Candra.


'Lo belain dia? Jadi lo juga nyalahin gue, Ly?' kata Candra dengan nada kecewa.


"Bukan gitu. Aku juga tau kamu cuma bercanda. Terlepas dari salah atau engga, kamu harus minta maaf sama dia," tutur Leilani.


'Engga. Lagian gue ga salah. Toh gue cuma bercanda. Dianya aja yang baperan. Kayak cewek aja,' jawab Candra tegas.


'Udah lah, Ly. Jangan ngomongin bocah baperan itu mulu. Kalo enggak, gue pecat lo jadi sepupu gue,' ancam Candra yang kemudian langsung memutuskan panggilan mereka.

__ADS_1


Mendapat jawaban seperti itu, Leilani pun hanya bisa menghela nafasnya. Ia berharap, akan ada keajaiban dimana Candra dan Hadyan akan segera berbaikan.


***


__ADS_2