Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Bencong


__ADS_3

Waktu istirahat tiba. Leilani hendak pergi ke perpustakaan untuk membaca. Ia tidak mau lama-lama berada di kelas. Jika ia berada di kelas, orang-orang akan menatap dirinya dengan tatapan yang membuat Leilani tidak nyaman.


"Lani!" seru Restu saat Leilani baru saja keluar dari pintu.


Leilani sedikit terlonjak. Ia kaget mendengar seruan Restu yang tiba-tiba. Apalagi Leilani sedang asyik melamun di benaknya.


"Ada apa?" tanya Leilani yang masih agak kaget.


Restu tersenyum melihat ekspresi wajah Leilani. Itu terlihat sangat lucu di mata Restu.


"Mau ke mana?" tanya Restu.


Leilani mengerutkan keningnya heran. "Mau ke perpustakaan," jawab Leilani. "Kamu sendiri mau ke mana? Kok ke kelas ini?" tanya Leilani.


"Mau nyamperin Fadhil ya?" tebak Leilani. "Barusan Fadhil sudah keluar kelas. Sama Romi. Mungkin ke kantin."


"Kok Fadhil sih? Ngapain juga nyamperin si Fadhil," kata Restu.


"Jadi, kamu mau nyamperin ...." Leilani menunjuk dirinya sendiri.


Restu pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Leilani bingung.


"Engga. Lagi kangen aja," goda Restu sambil tertawa.


Leilani tidak menunjukkan reaksi berarti. Dia sudah tahu betul sifat Restu. Restu senang menggoda setiap gadis yang ditemuinya. Dan Leilani sudah sangat kebal dengan gombalan Restu padanya.


Bagaimana tidak kebal? Sekarang ini, hampir setiap hari mereka bertemu. Untung saja Leilani tidak terperdaya oleh rayuan mautnya.


Di sisi lain, ada Rosa yang baru baru keluar dari dalam kelas juga. Rosa menatap Leilani dengan tatapan datar saat melewatinya. Tentu saja Rosa tidak suka melihat Leilani bersama dengan Restu. Tapi Rosa juga tidak mungkin menunjukkannya di depan orang-orang.


Leilani pun berjalan begitu saja menuju perpustakaan dan kemudian diekori oleh Restu.


"Lan," seru Restu.


"Iya," jawab Leilani.


"Tuh," kata Restu sambil menunjuk seseorang dengan dagunya.


Leilani melihat ke arah pandang mata Restu. Ternyata Restu memberi tahu Leilani bahwa ada Hadyan di sana, tidak jauh dari mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" tanya Leilani.


"Bukannya kamu mau buat dia sama Candra baikan?" kata Restu.


Leilani menghela nafasnya. "Sudah aku coba. Tapi masalahnya dia tau kalau aku mau bahas Candra. Bukannya akur, nanti Hadyan malah tidak mau bicara juga dengan aku," tutur Leilani.


"Deketin aja dulu. Jangan langsung bicarain tentang Candra. Nanti kalau ada momen yang pas, baru bicarakan itu sama dia." Restu kembali memberi nasehat pada Leilani.


"Gimana?" tanya Restu.


"Kamu bantuin?" Leilani balik bertanya.


Restu tersenyum sebagai jawaban.


"Yuk," kata Restu sambil mencoba memegang tangan Leilani.


Leilani yang menyadari itu dengan sigap langsung menjauhkan tangannya dari Restu.


"Woah ... aku kalah cepat," kata Restu sambil terkekeh.


Leilani menghela nafasnya. Restu ini memang benar-benar buaya. Bagaimana kalau Leilani terbawa perasaan coba? Restu ini memang bahaya. Pikir Leilani dalam benaknya.


Kalevi langsung memalingkan wajahnya saat itu juga dan kemudian langsung pergi entah kemana.


Leilani pun kembali merasa bersalah pada Kalevi karena telah menolak perasaannya. Meski Kalevi bilang santai saja, pada kenyataannya Kalevi sekarang agak berbeda. Kelevi memang tidak marah, hanya saja terasa bahwa Kalevi menjaga jarak darinya.


"Yan," seru Restu.


Hadyan menoleh. Seperti biasa, Hadyan akan menunjukkan senyuman termanisnya di depan banyak orang.


"Sorry ya guys. Mereka berdua udah nyusulin gue. Gue udah janji sama mereka," kata Hadyan pada beberapa teman perempuan yang sekelas dengannya.


Wajah Hadyan dibuat-buat seolah ia menyesal karena tidak bisa berbincang lebih lama dengan mereka. Padahal kenyataannya sebaliknya.


Begitulah para siswi itu, meski Hadyan sudah berpura-pura kemayu, tetap saja para siswi itu ingin dekat dengannya. Mungkin karena wajah Hadyan yang tampan, makanya mereka bisa mentolelirnya. Tidak jarang mereka juga menanyakan kira-kira ada teman model Hadyan yang bisa dikenalkan pada mereka atau tidak.


Sementara itu, Leilani dan Restu bingung sendiri dengan perkataan Hadyan. Seingat mereka, mereka tidak janjian dengan Hadyan. Tapi mereka berdua memilih untuk diam dan mengikuti skenario Hadyan saja.


"Ya udah. Yuk, pergi," kata Hadyan sambil merangkul Leilani dan juga Restu.


Leilani langsung menghempaskan lengan Hadyan dari pundaknya. Meski mereka berteman, tapi tetap saja Leilani tidak nyaman dirangkul seperti itu oleh pria.

__ADS_1


"Aku tidak nyaman," kata Leilani jujur.


Semenjak Leilani tahu bahwa Hadyan adalah anak manis yang memberinya permen coklat, Leilani jadi tidak takut pada Hadyan. Leilani justru menjadi sangat nyaman. Maka dari itu, Leilani berani berkata seperti itu pada Hadyan.


"Maaf," kata Hadyan sambil melepaskan rangkulannya dari Restu.


Restu yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap Hadyan yang tiba-tiba. Biasanya Hadyan akan bersikap sinis pada Leilani apapun situasinya. Tapi sekarang justru sebaliknya. Hadyan malah bersikap manis pada Leilani. Restu pun menjadi curiga.


Mereka bertiga pun berjalan berdampingan, meski Hadyan tidak tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.


"Itu Candra, kan?" kata Restu.


Ditengah perjalanan, mereka melihat Candra yang kelihatannya sedang bersitegang. Mungkin karena kalah main game. Itu yang ada di pikiran mereka bertiga.


Awalnya mereka ingin pergi dan mengabaikannya saja. Tapi kelihatannya pertengkaran mereka malah makin sengit saja.


Leilani menghela nafas lelah. Bisa-bisanya anggota klubnya bertengkar terus tiap hari. Tidak hanya sesama anggota, tapi ternyata dengan orang di luar anggota juga.


"Ayo. Ke sana," ajak Leilani pada kedua temannya.


Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya Leilani pun memutuskan untuk menghampiri Candra. Restu dan Hadyan mau tidak mau mereka ikut juga. Kalau-kalau, nanti terjadi apa-apa.


"Minta maaf!!!" bentak Candra.


Lawan Candra setidaknya ada empat orang, dan Candra hanya sendirian. Entah apa yang sedang mereka perdebatkan.


"Loh! Dimana salahnya. Itu emang kenyataannya, kan?" kata salah seorang siswa yang memiliki rambut kriting.


"Bener, Can. Emang dia benc*ng, kan?" kata satu temannya lagi.


Mendengar kata "benc*ng, seketika Hadyan menghentikan langsung langkahnya.


"Diem lu!!" kata Candra penuh emosi.


"Lu kok jadi gitu sih, Can!! Semenjak lo gaul sama mereka, lo jadi berubah, nj*r. Gak asik lo," kata temannya yang satu lagi.


"Kalian temen gue!! Tapi orang yang kalian bilang benc*ng juga temen gue sekarang!! Jadi kalo kalian masih mau temenan sama gue, berhenti ngatain dia di depan orang-orang. Apalagi di sosial media. Jangan hasut orang buat ikutan benci sama dia kayak kalian semua!!" tutur Candra panjang lebar.


Mendengar hal tersebut, Leilani dan Restu saling berpandangan. Sepertinya isi pikiran mereka berdua saat ini sama.


***

__ADS_1


__ADS_2