
Keesokan harinya, di waktu istirahat, Restu pergi ke ruangan klub untuk menikmati waktu istirahatnya.
Saat Restu masuk, ia menemukan Hadyan yang sedang meringkuk di atas sofa. Awalnya Restu bersikap biasa saja. Akan tetapi, lama kelamaan Restu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Hadyan.
Tubuh Hadyan kelihatan menggigil, dia juga mengeluarkan sebuah gumaman kecil.
Restu pun berjalan mendekat pada Hadyan. Ia kemudian mencoba membangunkan Hadyan.
"Yan," panggil Restu mencoba membangunkan Hadyan.
Hadyan tidak merespon seruan Restu. Restu pun mencoba membangunkan Hadyan sekali lagi dengan sedikit mengguncang tubuh Hadyan.
"Yan," panggil Restu lagi.
Saat Restu mengguncang tubuh Hadyan, Restu pun menyadari sesuatu. Restu merasakan tubuh Hadyan yang terasa sangat panas.
Hadyan pun sedikit membuka mata saat ia merasakan seseorang mengguncang tubuhnya.
"Lo lagi gak enak badan ya?" tanya Restu.
Hadyan pun mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Mau gue anter ke UKS?" tawar Restu.
Hadyan menggelengkan kepalanya dan kemudian kembali menutup matanya. Wajah Hadyan kelihatan sangat lelah. Tidak seperti biasanya.
Restu merasa sedikit khawatir dengan kondisi Hadyan. Ia pun memutuskan untuk mengabari semua orang di klub ini dengan mengirim sebuah chat pada mereka semua.
Leilani lah yang pertama datang dibanding yang lainnya. Ia kelihatan sangat khawatir melihat kondisi Hadyan.
Tak lama kemudian, teman-teman yang lainnya pun datang, terkecuali Candra dan Dimas. Entah kenapa mereka tidak datang ke sana.
"Hadyan, kamu mau pulang aja?" tanya Leilani.
Hadyan yang mendengar suara Leilani langsung membuka matanya.
Hadyan menggelengkan kepala pelan. "Istirahat bentar juga pasti baikan," jawab Hadyan dengan suara pelan.
Leilani merasa bersalah melihat kondisi Hadyan sekarang. Hadyan seperti ini pasti karena kemarin hujan-hujanan.
"Lo udah makan obat, Bro?" tanya Kalevi.
Hadyan pun kembali menggelengkan kepalanya pelan.
"Minta obat buat dia ke UKS!" titah Fadhil pada Kalevi.
"Ya udah. Biar gue minta obat ke petugas UKS sekarang," kata Kalevi yang kemudian berlalu pergi.
Tak lama kemudian, Kalevi pun kembali dengan membawa sebutir obat penurun demam.
Leilani hendak mengambilkan air untuk Hadyan. Namun, Fadhil segera mencegahnya.
"Gue aja," kata Fadhil.
__ADS_1
Fadhil pun mengambilkan segelas air putih untuk Hadyan dan kemudian membantu Hadyan untuk meminum obatnya.
Setelah Hadyan minum obat, mereka pun satu persatu mulai pergi dari sana dan membiarkan Hadyan beristirahat sampai waktu pulang nanti.
Terkecuali Leilani. Leilani masih khawatir melihat kondisi Hadyan. Ia tidak tega meninggalkan Hadyan sendirian dalam kondisi seperti ini.
"Mau terus disitu?" kata Fadhil.
Leilani menoleh pada sumber suara. "Kasian dia kalau ditinggal sendirian," kata Leilani.
"Terus, lo mau berduaan disini?" kata Fadhil lagi.
Leilani mulai berfikir. Benar juga apa yang dikatakan oleh Fadhil. Tidak mungkin Leilani dan Hadyan berduaan saja di ruangan ini. Bisa-bisa ada gosip-gosip aneh tentang mereka berdua.
Seandainya saja ada anggota klub perempuan juga di sini. Pasti akan lebih baik. Fikir Leilani.
Leilani pun akhirnya memutuskan untuk pergi juga dari sana.
"Perhatian banget keliatannya," kata Fadhil di tengah perjalanan menuju kelas mereka.
"Hah?" Leilani tidak mengerti kenapa Fadhil berkata seperti itu padanya.
"Dia kan teman kita. Tentu saja aku juga khawatir," ucap Leilani jujur.
"Terjadi sesuatu antara kalian berdua kemarin?" tanya Fadhil lagi.
"Kemarin? Maksudnya saat pulang?" tanya Leilani.
Fadhil diam. Tapi artinya Fadhil mengiyakan.
Mendengar jawaban Leilani, seketika Fadhil langsung menghentikan langkahnya.
Melihat Fadhil yang tiba-tiba berhenti, maka Leilani pun ikut berhenti juga. "Kenapa?"
"Apa yang terjadi?" tanya Fadhil dengan wajah serius.
"Kemarin kami kehujanan. Makanya dia jadi demam. Aku merasa bersalah karena memaksa Hadyan untuk mengantar aku pulang," tutur Leilani panjang lebar.
"Cuma itu?" tanya Fadhil lagi.
"Iya."
Mendengar jawaban Leilani, Fadhil pun akhirnya bernafas lega. Ia bahkan menghembuskan nafas dengan bersuara.
Fiuhhh
"Ada apa?" tanya Leilani yang tidak mengerti.
"Gak papa," kata Fadhil yang kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
Leilani tidak mau ambil pusing lagi. Ia pun mengikuti Fadhil untuk segera kembali ke kelas mereka berdua.
Sesampainya di kelas, mereka kembali menjadi pusat perhatian. Sebenarnya, saat mereka berjalan menuju kelas pun mereka sudah menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Para siswa dan siswi menatap tak suka pada Leilani. Terutama Rosa. Dia mengepalkan tangannya dengan erat di bawah meja.
Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana bisa ia kalah dari seorang Leilani? Leilani bahkan jauh lebih rendah dari dirinya dalam segala hal. Lalu apa yang membuat Fadhil lebih memilih Leilani daripada dirinya? Fikir Rosa.
Gina berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Leilani yang duduk sendiri.
"Lani, nanti gue bagian piket. Nanti lo gantiin ya," kata Gina sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Leilani menoleh pada Fadhil. Fadhil menggelengkan kepala pelan sebagai tanda bahwa Leilani tidak boleh melakukannya.
Fadhil memang sudah jauh-jauh hari mengingatkan Leilani agar Leilani tidak menggantikan tugas piket yang lain lagi.
"Maaf. Aku tidak bisa," jawab Leilani pada Gina.
Gina menatap Leilani dengan tatapan tidak percaya. "Gak bisa apa gak mau, hah?! Bilang aja kalo emang gak mau!!" kesal Gina.
Lagi dan lagi. Mereka selalu bersikap seperti ini.
Gina tersenyum meremehkan. "Mentang-mentang lo deket sama Fadhil sekarang, terus lo bisa seenaknya gitu?! Awas aja kalo besok gue sampe dimarahin guru, lo bakal tau akibatnya!!" ancam Gina.
Setelah mengatakan itu, Gina pun kembali ke tempat duduknya dan mulai bergosip kembali dengan teman-temannya.
Romi menoleh ke arah Fadhil yang duduk satu bangku dengannya. "Bro," seru Romi.
Fadhil menoleh pada Romi.
"Kayaknya lo terlalu baik deh sama cewek cupu itu," kata Romi.
"Ada masalah?" balas Fadhil.
"Lo liat aja barusan. Dia udah berani sama si Gina. Ini gak bisa dibiarin. Makin ngelunjak dia," kata Romi dengan wajah kesal.
Fadhil mendelik tajam pada teman sebangkunya itu. "Bukannya emang gitu harusnya," balas Fadhil.
Romi yang mendapat tatapan seperti itu dari Fadhil mengerutkan keningnya. Ia merasa Fadhil sudah mulai berubah sejak Fadhil bergabung ke dalam klub aneh itu.
Romi merasa kedudukannya sebagai teman Fadhil mulai terancam karena keberadaan mereka.
'Gue musti cari cara buat ngejauhin Fadhil dari mereka semua,' ucap Romi dalam hatinya.
***
Candra mencegat Leilani dan Fadhil yang hendak pergi ke ruangan klub spesial.
"Ayo pulang," kata Candra sambil menarik pergelangan tangan Leilani.
"Aku mau liat kondisi Hadyan dulu," ujar Leilani.
"Gak usah. Lagian ada yang lain. Gak mesti lo juga," kata Candra.
Candra kemudian beralih pada Fadhil. "Dan elo! Jangan berani-berani deketin sepupu gue lagi." Candra memberi peringatan. "Awas aja kalo sampe terjadi apa-apa sama Lely. Lo yang pertama bakal gue cari!"
Setelah mengatakan itu, Candra pun membawa Leilani pergi dari sana.
__ADS_1
***