
Leilani menunduk sedih dengan sikap Fadhil. Leilani tidak tahu apalagi salahnya kali ini. Leilani merasa sangat buruk saat ini.
"Lani," seru seseorang di belakang Leilani.
Leilani berbalik pada orang yang memanggil namanya. Ternyata yang memanggilnya adalah Restu.
"Kenapa?" tanya Restu.
Restu bertanya begitu karena sedari tadi Restu melihat Leilani yang hanya diam di tempatnya sementara orang-orang terus berlalu lalang.
"Itu ... kayaknya Fadhil marah lagi deh sama aku," kata Leilani.
"Marah kenapa? Bukannya kemarin-kemarin udah baikan?" kata Restu heran.
Leilani menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tau salah aku apa."
"Fadhil marah tiba-tiba?" tanya Restu lagi.
Leilani pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Restu terlihat mulai berpikir. "Kayaknya aku tau deh penyebabnya," ucap Restu yang diakhiri sebuah senyuman tipis di akhir kalimatnya.
Leilani sedikit mengernyitkan keningnya. "Apa?" tanya Leilani penasaran.
Leilani saja tidak tahu apa yang membuat Fadhil marah padanya. Kenapa Restu bisa tahu? Aneh. Pikir Leilani.
Restu kembali tersenyum. "Tapi kayaknya aku gak bisa kasih tau deh. Kamu harus cari tau sendiri jawabannya," ujar Restu.
Leilani semakin bingung. Kenapa Restu tidak bisa memberitahunya? Apa Restu disuruh tutup mulut oleh Fadhil? Pikir Leilani.
"Sekarang waktunya upacara," kata Restu sambil menoleh ke arah lapangan.
Leilani mengikuti arah pandangan Restu. Di lapangan, para siswa dan siswi sudah berkumpul. Dan Leilani malah asyik mengobrol di sini.
Leilani pun segera pergi menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera bersama dengan yang lainnya.
Selama kegiatan upacara bendera berlangsung, Leilani tak henti-hentinya memperhatikan Fadhil. Ia terus menerka-nerka kira-kira apa kesalahannya kali ini pada Fadhil.
***
Leilani dan semua anggota telah selesai berunding tentang bagaimana kelanjutan klub ini. Fokus mereka sekarang masih kepada kebun impian mereka.
Setiap harinya akan ada jadwal harian siapa yang harus merawat kebun mereka. Akan tetapi bukan berarti anggota yang tidak bertugas hari itu lepas tangan begitu saja.
Mereka pun memutuskan untuk langsung pulang saja. Karena tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan.
"Bima, Kalevi," seru Leilani saat mereka hendak keluar dari ruangan klub.
__ADS_1
Bima dan Kalevi berhenti. Mereka berbalik ke arah Leilani.
"Ada apa, Mba Kun?" tanya Kalevi.
"Aku mau bicara sebentar sama kalian. Bisa?" ucap Leilani.
Bima dan Kalevi saling berpandangan, dan kemudian mereka berdua saling menunjukkan wajah jijik terhadap satu sama lain.
"Emang harus kita berdua?" protes Kalevi.
Leilani mengangguk semangat. "Iya. Ini sangat penting," kata Leilani dengan wajah serius.
Bima menyatukan kedua alisnya. "Penting?
Sekali lagi Leilani menganggukkan kepalanya.
"Di sini?" tanya Bima.
"Iya. Ini rahasia kita bertiga," kata Leilani.
Sebenarnya Bima dan Kalevi malas bersama-sama. Akan tetapi mereka berdua penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Leilani. Sepertinya memang ada hal penting yang harus mereka dengar dari Leilani.
Bima dan Kalevi pun kembali masuk ke dalam ruangan. Bima berdiri di sudut kiri, dan Kalevi berdiri di sudut kanan. Posisi mereka benar-benar sling berjauhan. Dan Leilani sendiri, dia duduk di sofa supaya tepat berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Lo mau bilang hal penting apa, Mba Kun?" tanya Kalevi.
Leilani tersenyum. "Aku mau mengungkapkan perasaan aku sama ka Adam," kata Leilani.
Berbeda lagi dengan Bima. Bima sudah tidak kaget lagi, karena dialah orang yang menyuruh Leilani untuk mengungkapkan perasaannya pada Adam.
"O-oh. Gitu ya. Syukur deh, Mba. Moga sukses ya," kata Kalevi sambil tersenyum. Akan tetapi, sebenarnya hatinya sedikit terluka.
Leilani menganggukkan kepalanya. "Terimakasih," kata Leilani tulus.
"Tapi, kenapa lo pengen kita berdua tau?" tanya Bima.
Leilani kembali tersenyum. "Kamu, kan kemarin sudah janji mau bantu aku," jawab Leilani.
"Iya. Gue inget. Tapi kenapa harus sama bocah itu juga?" kata Bima dengan wajah tidak suka.
Kalevi juga sebenarnya bingung, kenapa harus dia dan Bima saja yang diberitahu. Sementara yang lainnya tidak.
"Kalevi kan juga sudah janji mau dukung aku. Sekarang aku mau nagih janji kalian. Tolong bantu aku," pinta Leilani.
"Gue pasti bakal bantu. Tapi gak usah sama bocah itu. Gue sendiri yang bantu lo juga bisa," kata Bima.
Leilani menggelengkan kepalanya. "Kalau lebih banyak yang membantu, akan lebih bagus. Akan banyak yang memberi masukan buat aku nantinya. Ya? Tolong ..." kata Leilani dengan tatapan memohon pada mereka berdua.
__ADS_1
"Oke. Gue setuju," kata Kalevi sambil terus menunjukkan senyumannya kembali. Senyuman yang sebenarnya ia pakai untuk menutupi luka di hatinya. Karena Leilani, gadis yang baru saja ia sukai justru menyukai pria lain.
Tapi biar bagaimana pun, Kalevi akan membantu Leilani. Agar Leilani bisa tersenyum bahagia. Karena Kalevi juga sadar bahwa Leilani sering kali tersakiti karena orang-orang di sekitarnya. Dan Kalevi berharap, kali ini Leilani bisa bahagia juga.
Leilani langsung tersenyum cerah begitu mendapat persetujuan dari Kalevi. Sementara Bima, dia hanya diam saja. Tapi tidak menolak juga.
"Ya udah. Jadi kapan kita mulainya?" tanya Leilani antusias.
"Terserah aja," jawab Bima.
"Gimana kalau mulai besok?" Leilani meminta pendapat keduanya.
"Oke," jawab Bima.
***
Malam harinya, Leilani langsung membuat grup chat yang hanya beranggotakan dirinya sendiri, Bima dan juga Kalevi.
Leilani pun menamai grup itu dengan nama "Misi Rahasia".
Leilani tersenyum sendiri setelah berhasil memasukkan Bima dan Kalevi ke dalam grup chat "Misi Rahasia". Sepertinya, rencana Leilani untuk mendamaikan Bima dan Kalevi akan berjalan sempurna.
Leilani bahkan sudah tidak sabar menanti hari esok. Karena besok, rencana mereka akan segera dimulai.
Leilani pun mematikan ponselnya untuk segera tidur. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Leilani kembali membuka matanya.
Leilani teringat lagi pada Fadhil. Leilani pun kembali menghidupkan ponselnya. Ia mencari kontak Fadhil dan kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat padanya.
'Fadhil,' tulis Leilani dalam pesannya.
Pesan itu langsung terkirim, tapi hanya centang satu saja.
"Apa Fadhil udah tidur ya?"
Leilani melihat jam di layar ponselnya. Tapi ini belum terlalu malam. Masa Fadhil sudah tidur jam segini. Pikir Leilani.
"Mungkin Fadhil sedang belajar kali ya. Makanya dia gak ngehidupin datanya."
Leilani pun menunggu beberapa saat supaya pesannya centang dua.
Akan tetapi, sia-sia. Sudah satu jam menunggu, tapi pesan itu tetap hanya centang satu saja.
Leilani kembali melihat pesan yang ia kirim pada Fadhil. Leilani merasa ada sesuatu yang sedikit aneh.
"Fadhil hapus foto profil nya ya," kata Leilani sambil memperhatikan profil Fadhil yang sudah tidak ada fotonya. Padahal, tadi siang masih ada.
"Apa jangan-jangan ...."
__ADS_1
Leilani membulatkan matanya saat satu pikiran buruk melintas di kepalanya.
***