Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Setelah beres-beres, Leilani, Fadhil, Restu dan juga Kalevi pulang bersama. Di pertengahan jalan, Restu dan Fadhil sudah berbeda arah. Maka dari itu mereka pun berpisah.


Sekarang, tinggal Leilani bersama Kalevi. Kalevi membawakan kotak nasi yang tadi untuk dibawa pulang ke rumah Candra.


Deg deg deg


Kalevi menyentuh dadanya sendiri. Merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat setelah mereka hanya tinggal berdua.


"Mba Kun," kata Kalevi.


"Iya. Kenapa?" tanya Leilani.


"Emmm ...." Kalevi kelihatan ragu-ragu untuk bicara.


"Ada apa?" tanya Leilani penasaran.


"Itu ... lo jangan ngetawain gue ya," pinta Kalevi.


Leilani menautkan alisnya. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kalevi.


"Ngetawain apa?" tanya Leilani tidak mengerti.


Kalevi menghentikan langkahnya. Otomatis, Leilani ikut berhenti juga.


"Lo punya pacar ga?" tanya Kalevi sambil tersenyum canggung.


"Aku?" kata Leilani.


Kalevi menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kayaknya jomblo sih ya," lanjut Kalevi.


Leilani berpikir sejenak. Kenapa Kalevi tiba-tiba membahas hal seperti ini. Leilani bertanya-tanya dalam hati.


"Mungkin," jawab Leilani.


Kalevi agak terkejut dengan jawaban Leilani. Leilani bilang "mungkin". Apa artinya? Apa Leilani sudah punya pacar? pikir Kalevi.


"Mungkin?" ulang Kalevi.


Leilani menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jadi siapa pacar lo Mba Kun?" tanya Kalevi yang sudah berkecil hati. Ia kira Leilani masih sendiri.


"Gak punya," kata Leilani.


Kalevi langsung berbinar mendengar jawaban Leilani. Ternyata benar dugaannya, Leilani masih sendiri. Berarti dia punya kesempatan untuk mendekati Leilani.


"Kita gak lanjut jalan aja? Kalau hini terus kapan sampainya?" kata Leilani.


Kalevi tertawa hanya canggung mendengarnya. "Haha. Iya juga ya. Ya udah, yok," kata Kalevi.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka kembali.


"Mba Kun. Tipe lo yang kayak gimana?" tanya Kalevi.


"Tipe cowok?" tanya Leilani.

__ADS_1


"Iya."


"Aku suka yang ...." Leilani terlihat mulai berpikir.


Sementara itu, Kalevi dengan sabar menunggu jawaban Leilani.


"Tapi kenapa kamu nanya tipe ideal aku?" kata Leilani curiga.


Kalevi agak gelagapan. "O-oh, itu ... apa namanya? Siapa tau aja temen gue ada yang bisa gue kenalin buat lu," jawab Kalevi.


"Gak usah. Aku gak mau," kata Leilani.


"Loh? Kenapa?


Leilani hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi serius. Gue penasaran," ujar Kalevi.


Leilani menoleh pada Kalevi dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Maksudnya, ya gue penasaran aja sama tipe cowok idealnya cewek kayak lo gitu," kilah Kalevi.


"Gak punya tipe ideal," jawab Leilani enteng.


Kalevi rasanya ingin menyerah. Kenapa susah mencari tahu tipe ideal Leilani.


"Jadi yang gimana aja ya?" tanya Kalevi lagi.


"Mungkin," jawab Leilani kurang yakin. "Tapi gak tau juga sih. Gak pernah mikirin hal kayak gitu."


***


Setibanya di rumah, Leilani dikejutkan dengan kedatangan sang ibunda.


Begitu Leilani masuk, bu Ratih langsung memeluk erat Leilani sambil menangis sejadi-jadinya.


Untuk sesaat, Leilani tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya pun terasa kaku seketika. Hanya bulir air mata yang mulai menetes ke pipinya.


'Apa ini nyata?'


Bu Ratih, ibu yang selama ini ia rindukan datang dan memluk dirinya? Leilani masih sulit percaya. Ini seperti mimpi baginya. Mimpi indah yang Leilani harapkan selama ini.


"Mama," kata Leilani lemah.


Bu Ratih semakin mempererat pelukannya. Ia menangis di pundak putri sematawayangnya.


Bu Fyna yang menyaksikan itu mencoba menenangkan mereka berdua.


Setelah keduanya tenang, barulah mereka duduk di sofa. Bu Ratih pun menjelaskan maksud dan tujuannya pada Leilani.


Bu Ratih bilang bahwa dia menyesal. Dia ingin Leilani kembali tinggal di rumahnya seperti dulu lagi.


"Pulang ya, Ly. Mama kesepian di rumah kalau gak ada Lely," bujuk bu Ratih.


Leilani yang mendengar itu langsung meneteskan mata kembali. Ia merasa sangat bahagia sampai-sampai rasanya ini hanya mimpi.

__ADS_1


"Lani, kamu mau pulang? Atau mau tinggal disini aja sama Tante?" tanya bu Fyna.


Bu Fyna tentu akan merasa sedih jika Leilani pergi. Tapi, melihat bu Ratih sekarang, sepertinya bu Ratih benar-benar merindukan Leilani.


Begitu juga dengan Leilani. Jelas sekali kalai Leilani sangat merindukan ibunya. Maka dari itu, kalau pun Leilani memilih untuk kembali ke rumahnya, maka bu Fyna tidak akan melarangnya.


"Kalau kamu emang masih benci sama mama ... gak papa," kat bu Ratih.


Leilani menggelengkan kepalanya. Tidak pernah sedetikpun Leilani membenci ibunya, sekalipun ibunya sering menyiksa Leilani.


Bu Ratih menggenggam kedua tangan Leilani sambil mengusap-usap pelan.


"Kalau kamu lebih betah di sini sama tante Fyna, gak papa. Tapi kamu harus ingat, pintu rumah selalu terbuka untuk kamu. Jadi jangan pernah merasa segan untuk kembali ke rumah. Karena itu adalah rumah kamu juga," tutur bu Fyna panjang lebar.


Leilani kembali menggelenhkan kepalanya. Ia tersenyum manis pada sang ibunda. "Aku akan ikut Mama. Aku sangat, sangat merindukan Mama."


Bu Fyna menghela nafasnya. "Ya udah. Tante bantu beresin barang-barang kamu. Tapi kamu nanti sering-sering dateng ke sini ya, buar tante gak kespian," pinta bu Fyna.


Leilani mengangguk semangat sambil tersenyum bahagia.


"Tante, aku pulang dulu ya," pamit Leilani.


Bu Fyna menunjukkan wajah sedihnya. "Tante pasti bakalan kangen kamu terus nanti," kata bu Fyna.


"Aku akan sering main ke sini," kata Leilani mencoba menghibur tantenya.


"Fyn, makasih ya, udah jagain Lely selama ini," kata bu Ratih tulus.


"Iya, Mba. Gak usah bilang makasih, Lely ini udah aku anggap anak aku juga. Aku cuma pesen ....tolong jagain dia," kata bu Fyna pada bu Ratih.


"Pasti," jawab bu Ratih.


Leilani pun akhirnya pergi. Sepanjang perjalan, ia terus bergandengan tangan dengan ibundanya.


Betapa bahagianya Leilani. Ia tidak menyangka bahwa hari bahagia ini akan datang secepat ini.


Leilani memperhatikan wajah sang ibunda yang tertidur pulas di dalam mobil sambil tersenyum bahagia.


Sudah sampai. Bu Ratih terlihat sangat pulas dalam tidurnya. Leilani jadi kasian kalau membangunkannya.


Setengah jam berlalu, akhirnya bu Ratih terbangun dari tidurnya.


Bu Ratih celingak-celinguk. "Udah sampe ya?" tanyanya.


Leilani tersenyum. "Iya, Ma. Sudah setengah jam kita sampai. Tapi aku gak mau bangunin Mama. Kayaknya Mama enak banget tidurnya," tutur Leilani.


Mendengar itu, Bu Ratih pun langsung mengucek matanya. Ia juga melepaskan genggaman tangan Leilani juga.


"Paan sih?! Harusnya kamu bangunin saya!! Buang-buang waktu aja?!" kata bu Ratih ketus.


Leilani terkejut. Kenapa sang ibunda bersikap seperti itu lagi? Apa tadi hanya sebuah sandiwara saja?


Hati Leilani merasa sakit saat menyadari kebenarannya. Ternyata sang ibunda tidak benar-benar tulus padanya.


Leilani pun hanya bisa meratapi nasibnya. Waktu bahagianya dengan sang mama hanya hitungan jam saja. Setelahnya, sang ibunda kembali membencinya.

__ADS_1


***


__ADS_2