Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Berusaha Mendapat Maaf


__ADS_3

Leilani termenung di dalam kelas. Sepertinya rumor tentang perokok di sekolah sudah menyebar. Pasti sebentar lagi rumor ini akan sampai pada pihak sekolah juga.


Ddrrrtttt dddrrrt drrrttt


Ponsel baru milik Leilani berbunyi. Ya. Leilani sudah memakai ponsel barunya sekarang. Ponsel pintar keluaran terbaru yang kemarin di belikan oleh tantenya. Ponsel itu dibalut dengan soft case bergambar boneka yang sangat imut. Sesuai dengan gaya Leilani.


'Nomor tidak dikenal lagi?' batin Leilani.


Leilani pun segera membuka pesan itu.


'Lani. Aku sudah mencoba membujuk Fadhil. Tapi dia bilang kalau kamu harus minta maaf sendiri.'


'Maaf ya ....'


Begitulah isi pesannya. Itu adalah pesan dari Restu. Leilani memang tidak menyimpan nomor teman-teman satu klubnya. Maka dari itu, Leilani tidak mengenali nomor mereka.


'Tidak apa-apa. Terimakasih ya,' balas Leilani dalam pesannya.


Leilani kemudian kembali mengirim pesan pada Restu. 'Tapi aku bingung, bagaimana cara minta maafnya.'


Tak lama setelah pesan itu terkirim, Restu langsung membalas kembali pesan dari Leilani.


'Minta maaf saja seperti biasa. Bilang kalau kemarin cuma salah paham.' tulis Restu dalam pesannya.


Setelah membaca pesan dari Restu, Leilani pun langsung mematikan ponselnya.


Leilani menoleh pada Fadhil yang sedang asyik mengobrol dengan Romi di bangku mereka. Leilani masih belum tenang. Ia ingin meminta maaf dengan tulus pada Fadhil secepatnya.


***


Teeetttt teeettt teeeetttt


Bel tanda pulang berbunyi. Hari ini, Fadhil dan Leilani piket bersama dengan beberapa siswa dan siswi yang lain juga.


Selama kegiatan beres-beres kelas, Leilani terus memperhatikan Fadhil. Ia sedang mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf pada Fadhil.


Sebenarnya, Leilani sudah meminta maaf pada Fadhil lewat pesan. Akan tetapi, Fadhil tak kunjung membalas pesan darinya. Jangankan membalas, pesan dari Leilani bahkan tidak Fadhil baca. Sepertinya Fadhil memang sengaja.


Beres-beres kelas pun selesai. Para siswa dan siswi pergi menuju tempat yang berbeda. Ada yang pulang, dan ada juga yang ikut ekstrakulikuler lainnya.


Sementara itu, Leilani berjalan di belakang Fadhil. Ia membuntuti Fadhi yang berjalan menuju ruang klub spesial.


Leilani memandangi punggung Fadhil dari belakang. Fadhil sama sekali tidak mempedulikan Leilani. Padahal Leilani tahu, Fadhil tentu saja menyadari keberadaan Leilani yang berjalan di belakangnya.


Leilani masih agak takut untuk meminta maaf pada Fadhil secara langsung. Akan tetapi, jika bukan sekarang, kapan lagi. Begitulah yang ada di pikiran Leilani.


Pada akhirnya, Leilani pun memutuskan untuk meminta maaf sekarang. Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya yang hanya sebesar biji sawi.

__ADS_1


"Fadhil," panggil Leilani setelah mereka berada di lorong yang agak sepi.


Fadhil tak menghiraukan panggilan Leilani. Fadhil terus berjalan, seolah-olah tidak ada orang yang memanggilnya.


Leilani menghela nafas lelah. 'Dia pasti sengaja mengabaikan aku. Huuuh.'


Leilani pun berlari kecil untuk mengejar langkah Fadhil.


"Fadhil," panggil Leilani lagi saat ia sudah berada dua langkah di belakang Fadhil.


Fadhil masih tak menghiraukan panggilan Leilani.


Akhirnya, Leilani pun menarik seragam bagian belakang Fadhil. Mau tidak mau, Fadhil pun akhirnya berhenti.


"Fadhil. Aku minta maaf," kata Leilani.


Fadhil tidak menjawab. Ia hanya diam di tempatnya sambil menatap lurus ke arah depan.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal. Aku mau kita berteman," kata Leilani tulus.


Fadhil pun membalikan badannya menghadap Leilani. "Maaf. Tapi gue gak minat," kata Fadhil dengan wajah datar.


Leilani merasa sedih mendengarnya. Sekarang Fadhil sudah tidak mau lagi berteman dengannya. Ini semua gara-gara kebodohan dirinya.


"Jangan begitu .... Tolong maafkan aku." Leilani memohon pada Fadhil dengan wajah memelas.


Mendengar itu, Leilani pun langsung tersenyum senang.


"Tapi dapet maaf dari gue gak semudah itu," lanjut Fadhil.


Leilani sedikit bingung. "Terus aku harus ngelakuin apa supaya dapetin maaf kamu?" tanyanya.


"Kita liat, seberapa sungguh-sungguh lo minta maaf sama gue mulai dari sekarang. Setelah liat usaha lo nanti, baru gue bakal pertimbangin buat ngasih maaf gue," tutur Fafhil panjang lebar.


Leilani ternganga. Ternyata meminta maaf pada Fadhil lebih susah daripada mengerjakan soal matematika.


"Ly," seru seorang pemuda dari arah sana.


Ternyata itu adalah Candra. Sepertinya Candra sengaja menyusul mereka berdua karena mereka masih belum datang ke ruang klub spesial.


Candra langsung menghampiri mereka berdua. "Ngapain berduaan di sini?" tanya Candra dengan tatapan curiga pada keduanya.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Candra. Malahan, Fadhil melengos begitu saja meninggalkan mereka berdua.


"Yang lain udah pada nunggu," kata Candra lagi.


Leilani menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka berdua pun menyusul Fadhil menuju ruangan klub spesial dimana semua anggota sudah berada di sana.

__ADS_1


Di ruangan klub spesial, ternyata juga sudah ada pak Bayu dan juga bu Rika. Wajah mereka kelihatan lebih serius daripada biasanya.


Mereka duduk melingkar seperti biasa. Leilani duduk di dekat bu Rika.


"Kalian sudah dengar rumornya?" tanya bu Rika pada mereka semua.


Mereka menganggukkan kepala.


"Lela! Kamu sudah dengar juga?" tanya bu Rika.


"Iya, Bu."


Bu Rika menganggukkan kepala. Sekarang, giliran pak Bayu yang mulai bicara.


Sebelum bicara, pak Bayu berdiri dan kemudian mengecek sekeliling terlebih dahulu. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada yang akan mendengar percakapan mereka nantinya.


Setelah semua di rasa aman, pak Bayu pun kembali duduk ke tempat semula.


"Kalian sudah tau tentang rumor puntung roko itu, kan? Pihak sekolah sekarang sedang menyelidiknya," kata pak Bayu.


Semua yang ada di situ diam dan mendengarkan pak Bayu.


"Bapak ingin bertanya bagaimana pendapat kalian," lanjut pak Bayu.


"Pendapat? Pendapat gimana, Pak, maksudnya?" tanya Candra belum paham.


Pak Bayu berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Candra.


"Bapak mau to the point saja. Apa mungkin ... pemilik puntung rokok itu salah satu diantara kalian?" kata pak Bayu langsung pada intinya.


"Gila. Yang bener aja, Pak. Kalo saya ngerokok, habis saya dimarahin sama mama," kata Candra dengan suara keras.


Bu Rika melotot pada Candra. "Jangan keras-keras!"


"Ya abis, pak Bayu ini ada-ada aja. Bapak kan tau sendiri citra kita semua gimana. Kita anak-anak baik pak. Gak mungkin lah kita kayak gitu," tutur Candra.


"Bener gak, Bro?" Candra meminta persetujuan Bima. Sejauh ini, hanya Bima yang tidak pernah bertengkar dengan Candra.


Namun, Bima malah mengedikkan bahunya. "Ya, mana gue tau. Tapi mungkin aja pemilik puntung rokok itu emang salah satu dari kita."


Candra menautkan alisnya. "Lah?! Siapa?" ujar Candra sambil menatap satu persatu teman-temannya.


Dan, tatapan Candra berakhir pada Dimas. "Lo bener, Bim. Bisa aja pemiliknya emang salah satu di antara kita," ucap Candra tanpa melepaskan pandangannya dari Dimas.


Dimas merasa dituduh oleh Candra. Dan Dimas tidak terima.


"Maksud lo apa, hah?!" kata Dimas dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


***


__ADS_2